Kota (negeri) ini adalah vampir, yang ia lakukan hanyalah menghisap segala kesenangan dari diri kita

Dikirim Pikiran Malam pada April 23, 2009 oleh David Wahyu Hidayat

Situasi pertama – Pembicaraan seorang karyawan swasta dengan atasannya yang seorang ekspatriat

Ekspatriat: Sudah tahukah kamu kalau pajak bandara udara baru saja dinaikkan?

Karyawan: Wow, Benarkah? Agak sedikit menyebalkan, karena selain semakin banyaknya restoran di pintu masuk, tidak terlihat sedikitpun perbaikan di sana. Lihat saja sarana toilet umumnya. Memalukan.

Ekspatriat: Lucu juga kamu orang Indonesia, bisa bilang toilet umum di bandara Soekarno-Hatta memalukan. Mau tahu yang menurut saya memalukan? Keadaan dan pengaturan jalan di jembatan Semanggi adalah sesuatu yang memalukan untuk ukuran kota internasional seperti Jakarta.

Situasi kedua – Jakarta di sebuah malam sehabis hujan pada jam bubaran kantor

Jl. Gatot Subroto dan Jl. Sudirman macet total. Semua bentuk kendaraan bermotor tumpah ruah di sana, berjuang mencari celah mencapai tujuannya masing – masing. Pengatur lalu lintas, tidak punya resep lagi untuk mengatur jalanan ibukota, tapi masih sempat menilang pengemudi nakal yang melanggar 3in1. Bus umum seenaknya menghalangi jalan, motor karena disingkirkan ke bagian paling pinggir jalan berusaha menemukan tempat untuk tetap berpijak, pengemudi mobil dengan emosi membunyikan klakson sekencang dan selama mungkin, berharap kalau itu bisa membuka jalan di depannya.

Situasi ketiga – Laporan di media massa tentang calon legislatif yang gagal terpilih

“Siang tadi, ditemukan seorang caleg yang tewas mengenaskan. Diduga ia menghabisi dirinya sendiri dengan cara gantung diri dikarenakan tidak dapat menanggung rasa malu, setelah mengetahui dirinya tidak terpilih sebagai anggota legislatif”, demikian laporan sebuah media massa.

Situasi keempat – Siswi sebuah sekolah menengah setara SMA di Surabaya tidak diperbolehkan mengikuti UAN karena ketahuan sedang hamil tua

“Pemerintahan kota Surabaya dan pihak sekolah pusing menghadapi hal ini. Bila siswi yang bersangkutan diijinkan mengikuti UAN, ini akan membuat dilema di sekolah, karena seakan sebuah lembaga pendidikan mengijnkan muridnya melakukan perbuatan amoral”, demikian laporan sebuah media massa

Situasi kelima – Vokalis band papan atas diberitakan telah nikah siri dengan aktris cantik yang selama ini diberitakan adalah WIL-nya

“Pekan lalu, ketika dicegat dalam acara premiere film horror terbaru, mereka tidak menyanggah kalau telah nikah siri dan disaksikan hanya oleh pihak keluarga terdekat”, berita tersebut menduduki peringkat pertama untuk gosip yang paling ingin didengar pemirsa sebuah tv swasta.

Berbagai situasi di atas adalah potret kehidupan kita sehari – hari. Sebuah kehidupan yang sudah terlalu jengah. Sudah terlalu sesak, kekurangan oksigen. Kehidupan yang tidak dapat lagi bernafas benar, dan karenanya tidak dapat lagi disebut sebagai kehidupan. Sekarat. Kita sekarat, dan tidak bisa lagi diselamatkan.

Sebagai seorang profesional muda yang lahir dan tumbuh besar di ibukota ini, ia tidak dapat memungkiri dirinya sendiri. Ia selalu cinta dengan kota ini. Ia berakar di kota ini. Tapi ketika ia sudah terlalu lelah dengan pekerjannya sehari – hari, sudah terlalu penat dengan apa yang dihadapinya dalam kehidupan profesional dari Senin sampai Jumat, yang ia inginkan adalah sedikit dari ketenangan dari kota yang membesarkannya. Sedikit kedamaian, seperti ketika ia tumbuh dewasa di tanah kota ini. Tapi apa yang ia dapatkan, kekacauan satu berpaling ke kekacauan lainnya di jalanan Jakarta. Manusia menjadi ignoran, dan di mana manusia mulai tidak peduli satu sama lain, di situ ada kekacauan.

Sudah menjadi ramalan yang dipastikan 99,9999% akan terjadi, bahkan orang paling bodoh di dunia pun bisa memprediksikan, sehabis hujan besar di Jakarta, jalanan protokol kita akan macet tidak karuan. Masih bagus kalau tidak banjir. Dan yang direpotkan adalah semua orang yang tinggal di kota ini. Terjerat kembali dalam kelelahan kedua dalam satu hari setelah pekerjaannya. Seorang teman bahkan sebegitu jauhnya sampai bisa berkata “Sepertinya gue lebih stress di perjalanan dari rumah dan dari kantor, daripada waktu menjalani kerjaan gue sehari – hari”.

Di tengah kekacauan itu, sang ibukota masih berangan – angan untuk memiliki alat transportasi massa yang lebih baik bernama kereta bawah tanah. Lebih baik tidak berangan – angan ketinggian sebelum membereskan genangan air setinggi mata kaki yang membanjiri jalanan protokol kota ini setiap kali hujan datang. Di tengah kekacauan ini, mereka yang mempunyai kendaraan pribadi terutama kendaraan roda dua disalahkan. Jumlahnya ingin dibatasi. Mereka yang mengatur seakan bingung untuk menerapkan solusi yang tepat untuk mengatasi kemacetan dan banjir. Padahal kalau mereka sedikit lebih punya keberanian untuk menertibkan setiap kendaraan umum yang selalu serampangan di jalanan ibukota, dan menebarkan asap polusi, sepertinya satu hal pasti akan terjadi. Jalanan ibukota kita akan lebih lancar, polusi lebih sedikit, dan lebih banyak masyarakat mau naik kendaraan umum dan menaruh kendaraan pribadinya dengan manis di garasi masing – masing. Bereskan kendaraan umum, beri keamanan dan kenyamanan bagi penumpang dan pengguna jalan lainnya, pasti kita akan mendapatkan jalanan Jakarta lebih baik. Ide muluk hanya akan berakhir hina tanpa hasil.

Kita dikenal sebagai bangsa yang toleran, dan mungkin terlalu toleran dalam berbagai macam sudut kehidupan. Slogan “Enjoy aja” bukan hanya menjadi pesan salah satu perusahaan rokok, tapi sudah menjadi gaya hidup kita secara tidak sadar. Kita dipaksa menyerah dengan keadaan. Seberapa sering kita mendengarkan frase “Dinikmatin aja lagi, udah macet, mau diapain”. Kenyataannya kita seharusnya malu dengan itu. Macet bukanlah sesuatu yang perlu ditoleransi. Itu, seperti kata sang ekspatriat di situasi pertama adalah sesuatu yang memalukan. Sama memalukannya dengan keadaan toilet bandara udara Soekarno – Hatta yang seharusnya berfungsi menjadi halaman depan yang tertata rapi bagi bangsa asing yang hendak mengunjungi tanah air kita tercinta ini.

Keadaan toilet bandara seharusnya terlihat seperti toilet pusat perbelanjaan paling mewah di ibukota. Bila kita bisa menghitung jumlah penumpang internasional dikalikan dengan 150.000 rupiah yang dikeluarkan untuk pajak bandara, seharusnya dan ini adalah benar-benar konsekuensi logis daripada itu, toilet bandara terlihat jauh lebih bagus dari toilet mal paling luksus negeri ini. Mungkin dengan pengelolaan lebih baik dari pihak pengoperasi bandara semua itu diharapkan masih dapat terjadi.

Kita harus mengatasi masalah mental kita. Anggapan bahwa semua itu bisa ditoleransi harus diganti dengan kemauan untuk melakukan semuanya lebih baik. Sangat-sangat menyedihkan, dan diulangi teramat sangat menyedihkan mendengar berita caleg yang gantung diri dan menjadi gila ketika mengetahui dirinya tidak terpilih. Dengan segala rasa hormat yang sebesar-besarnya kepada mereka, dan perjuangan yang mereka buat dalam kampanye kemarin, tapi sepertinya simpati bukanlah kata yang tepat untuk ditujukan kepada mereka.

Kalau tujuan mereka menjadi anggota legislatif adalah untuk mendapatkan perbaikan penghasilan tanpa harus bekerja keras, mereka telah salah besar. Setiap orang di dunia akan mendapatkan upah yang seharusnya ketika mereka telah bekerja keras dan mengemban tanggung jawab yang besar. Dan tanggung jawab apalagi terhadap bangsa dan negara membutuhkan mental dan jiwa yang besar. Bukan mental dan jiwa yang tidak tahan menghadapi cobaan lalu mencari jalan pintas dengan meninggalkan dunia ini atau mengeluarkan pikiran dari keadaan tersehatnya. Kita sebagai bangsa harus merasa beruntung mereka tidak terpilih, sebab bila tidak, bagaimana mereka akan menghadapi oposisi dan berpikir jernih selama masa jabatan 5 tahun untuk selalu memberikan yang terbaik bagi negeri ini?

Lalu, seperti belum habis kita dibuat heran dengan ketidakmampuan kita menganalisa dan menentukan masalah apa yang sebenarnya esensial bagi bangsa ini, mana yang tidak, kita dibuat tercengang, terheran, diam seribu macam bahasa waktu mendengar berita seorang siswi tidak diperbolehkan mengikuti UAN hanya karena hamil. Dilema mana yang harus ditimbulkan dari situasi ini? Tidak ada dilema. Yang ada, hanyalah satu kepastian. Siswi tersebut harus mengikuti UAN. Di abad berapakah kita hidup? Bila ini adalah kondisi di mana kita hidup, maka ini adalah kenyataan yang sangat mengerikan bagi setiap orang yang hidup di negara ini.

Tidak ada pertanyaan moral dari situasi tersebut. Setiap orang pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, dan mungkin siswi itu telah melakukan kesalahan, dan bukankah sebuah institusi pendidikan seharusnya dapat mengidentifikasi ini, dan memberikan kesempatan untuk masa depannya? Bukan dengan menghancurkannya begitu saja. Bila bukan sebuah institusi pendidikan yang memberikan masa depan, siapa lagi yang dapat memberikannya? Dengan menolak sang siswi mengikuti UAN, itu sama saja kita mendorongnya ke jurang kelam bernama masa depan suram.

Moral seringkali disalahartikan. Kita sibuk dengan perbuatan amoral generasi sekarang, lalu kita membuat undang-undang untuk mengatur tata cara orang berpakaian dan berintimasi satu sama lain. Kita menjunjung tinggi moral, tapi mengabaikan hal-hal esensial lain dalam hidup manusia seperti pendidikan. Atau kita lupa kalau ada infrastruktur yang harus dibenarkan, banjir yang harus dicegah, korupsi yang harus diberantas. Mengenai korupsi, seorang pengamat asing pernah berkata demikian mengenai korupsi di Indonesia “Korupsi tidak ada hubungannya dengan moral. Korupsi terjadi ketika kekuatan individu mengalahkan kekuatan hukum di suatu tempat”. Hukum kita tidak bisa mengawasi dan memagari warganya, sehingga korupsi terjadi. Jalan raya sering menjadi saksi akan hal ini.

Sering kita berbicara tentang moral dan sopan santun. Tentang norma dan budaya timur. Tapi ke manakah semuanya itu, ketika kehidupan pribadi seseorang yang kebetulan sukses menghibur kita dengan musik yang ia mainkan, atau peran yang ia lakoni di sebuah film diekspos tanpa batas di televisi? Yang kita lakukan adalah, kita membuat kisah hidup mereka, drama kehidupan personal seseorang menjadi bahan hiburan kita. Obat bius yang melarikan diri kita dari kepenatan kehidupan megapolitan, dari kekecewaan akan kehidupan bernegara kita. Di semua pemberitaan selebritis, kita menemukan kedamaian dan ketenangan. Sungguh, kita sudah terpuruk dan tidak dapat diselamatkan.

Tidak ada lagi yang harus dikatakan. Kita semua adalah orang yang memiliki akal sehat. Semua harus berawal dari diri kita masing – masing. Kita harus berhenti untuk terlalu toleran terhadap sesuatu yang menghalangi kita untuk menjadi bangsa yang maju. Kita harus membuang pikiran muluk, dan memulai segala sesuatu dari perbuatan sederhana. Berhenti menjadi ignoran. Menfilter diri kita sendiri dari pemberitaan yang tidak berkualitas. Tidak bisa selamanya kita dibodohi terus menerus. Moral adalah penting tetapi itu bukanlah jawaban untuk menjadi besar. Yang lebih penting adalah mengenali hal-hal esensial dalam hidup ini, lalu berjuang keras untuk mendapatkannya. Dengan nilai-nilai luhur dan ketulusan. Dan bila dalam kesempatan pertama kita tidak mendapatkannya, kita harus berjuang lagi. Bila kita masih terjatuh, kita akan bangkit lalu kembali berjuang. Terus berjuang dan terus berjuang. Tanpa henti.

David Wahyu Hidayat

Judul diambil dari “Song For Clay (Disappear Here)” sebuah lagu dari Bloc Party

Mereka yang melawan bisa kalah. Mereka yang tidak pernah melawan, sudah kalah

Dikirim Pikiran Malam pada April 19, 2009 oleh David Wahyu Hidayat

“Masa – masa yang brillian….Waktu itu masih ada televisi musik yang sesungguhnya, tidak ada nada dering, tidak ada unduhan, tidak ada pembunuhan informasi berlebihan”

Salah satu editor majalah Intro tentang tahun 90-an di Oktober 2008

Salah satu frase yang sering didengar akhir – akhir ini adalah “Mendekatkan diri kepada yang jauh, menjauhkan diri dari yang dekat”. Di waktu dan tempat di mana kita dikelilingi teknologi bernamakan aplikasi jaringan sosial, aplikasi pesan instan dan telefon selular pintar; kita menikmati akses yang sangat berlebihan terhadap band yang kita cintai, tim olahraga yang kita gilai, orang – orang terdekat kita, orang – orang yang kita rasakan pingin kita dekati, bahkan orang – orang asing yang tidak pernah kita kenal. Di satu sisi, akses tanpa batas itu membuat kita menjadi lebih pintar terhadap banyak hal, di sisi lain hal itu adalah keyataan baru yang mengerikan dan terkadang memuakkan.

Tidak ada lagi kemagisan sebuah band, di mana kita akan selalu ternganga, ketika suatu band menghasilkan sebuah suara luar angkasa yang belum pernah kita dengar sebelumnya. Karena semuanya itu dapat kita lihat di video yang bertebaran di dunia maya. Tidak ada lagi misteri yang ingin dikuak di belakang sebuah suara, karena semuanya telah terungkap di kehidupan modern ini. Tidak ada lagi rasa penasaran kita terhadap wujud seseorang dan hal – hal yang membuat orang ini menarik, karena dengan hanya sebatas beberapa klik di aplikasi jaringan sosial (hampir) semua hal tentang orang itu telah kita ketahui. Tidak ada lagi rasa keingintahuan kita terhadap seorang sahabat yang terpisah ribuan kilometer di belahan benua lain tentang apa yang mereka sedang lakukan, karena setiap 30 menit kita mendapat status terbaru tentang apa yang sedang mereka lakukan di telefon selular pintar kita.

Sebagai orang yang hidup dengan kenikmatan yang ditawarkan abad 21, kita mengalami kemudahan akses ke hampir semua hal tanpa terkecuali. Sebuah keluksusan yang tidak dialami generasi sebelumnya. Beberapa orang bahkan sudah demikian jauhnya menikmati keluksusan tersebut sehingga kehilangan dasar – dasar interaksi manusia secara konvensional. Seberapa sering kita saat ini menemukan gambar, 4 orang duduk dalam satu meja, sibuk menatap layar berukuran 480 x 320 piksel, mengetik sesuatu di papan huruf yang sangat menggelikan jauh lebih kecil dari ukuran jempol tangan manusia paling normal, berinteraksi tentang sesuatu, entah apa yang dibicarakan. Hanya saja interaksi tersebut tidak terlihat di meja mereka duduk untuk menikmati kopi yang tersedia di meja. Padahal sepertinya mereka terlihat seperti orang – orang paling dekat yang ada di planet bumi ini.

Sekarang kita melakukan reaksi sosial terhadap foto yang ada di aplikasi jaringan sosial kita, terhadap foto yang diambil sewaktu kita berkumpul tapi tidak berinteraksi sama lain. Terhadap lagu terbaik, makanan favorit, dan film terbagus yang pernah kita tonton yang dipaparkan di aplikasi tersebut, tapi mungkin tidak pernah kita utarakan ketika kita bertemu satu sama lain.

Gambaran itu pasti terjadi pada diri ini, diri kamu, diri teman kamu, pacar, suami, istri, keluarga, dan setiap orang yang bisa memiliki kenikmatan teknologi tersebut. Kita terjerat, tidak bisa terlepas darinya. Mencandu, dan ketika kita tidak mendapatkan akses tersebut, kita seperti orang kelimpungan, seperti pemadat yang akan menjual jiwanya untuk mendapatkan suntikan berikutnya.

Manusia berjuang untuk memperbaiki dirinya. Ia melakukan semua yang dianggapnya baik untuk memenuhi keinginan dasarnya dan menjadi manusia paling bahagia di dunia ini, dan mungkin keberadaan semua teknologi itu untuk beberapa orang telah menjadi bagian dari kualitas hidup yang tidak bisa dipisahkan di waktu sekarang ini.

Di sisi lain teknologi, dalam kehidupan kita di tanah air tercinta ini. Kita barus saja melaksanakan pemilu legislatif. Sebuah pesta rakyat, seharusnya. Di mana kita dapat bebas menentukan pilihan tanpa rasa takut. Tapi sepertinya, atau mungkin lebih baik dituliskan ironisnya, bagi seseorang yang menikmati segala macam akses teknologi tadi, mereka yang sudah meninggalkan televisi sebagai pusat informasi, hampir tidak ada saluran yang mendekati proporsional yang bisa diakses menjelang pemilu kemarin untuk menentukan pilihannya. Aneh. Kita mengagung-agungkan teknologi sambil berlaku kontradiktif terhadapnya.

Selanjutnya, kita sebagai bangsa gagal untuk meyakini apa yang bisa membuat kehidupan bangsa ini kembali menjadi besar. Kita sekali lagi, kembali gagal untuk bisa menggunakan bahasa kita di tempat dan waktu yang benar. Di pemilu kemarin, kita dihimbau untuk “mencontreng” sebuah kata kerja yang seharusnya asing di telinga kita sebagai orang Indonesia. Apakah sebenarnya “mencontreng”? Jika kita gagal menggunakan bahasa yang benar untuk kepentingan interaksi kita, mau ke manakah kita akan menuju?

Bahasa asing sekali lagi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sehari – hari. Kita gunakan itu untuk kehidupan profesional kita, untuk interaksi dengan mereka yang bukan dari negara ini. Tapi ketika sebuah harian nasional berbahasa Indonesia, dengan target pasar 200 juta orang yang tinggal di negeri ini, menggunakan bahasa Inggris untuk mempromosikan korannya, di manakah letak kesalahan semua ini? Ketika beberapa perusahaan gencar mensponsori lomba pencarian talen, entah itu untuk seorang artis, entah itu sebuah band, dengan mengatasnamakan pasar, mengharuskan artis-artisnya menggunakan bahasa Indonesia di lirik lagu yang mereka nyanyikan, tapi menggunakan nama produk berbahasa Inggris dan semboyan berbahasa Inggris yang ketika diterjemahkan berbunyi kira kira: “Kebebasan Berekspresi”. Di manakah letak kesalahan semuanya ini? Kita berbahasa asing untuk dianggap lebih mantap didengar, untuk menempatkan diri lebih baik di pasar. Tidakkah bahasa kita sendiri lebih baik untuk didengar dan disampaikan? Bila sebuah band menyanyikan lirik berbahasa asing, sepertinya itu dikarenakan mereka lebih nyaman untuk berekspresi dalam bahasa tersebut, dan itu tidak ada hubungannya dengan rasa nasionalis seseorang, atau peduli tidaknya seseorang terhadap pasar. Di manakah kebebasan ekspresi yang diagungkan ketika kreatifitas seseorang dibatasi.

Kita terpentok dengan segala keterbatasan ruang lingkup kita sehari – hari. Di kota megapolitan ini, kita menjumpai manusia – manusia paling ignoran di dunia dalam bentuk bus umum yang bisa berhenti semaunya tanpa pernah ditilang. Mereka yang punya hak untuk menilang, hanya tertarik terhadap mobil – mobil yang berkeliaran di jalan – jalan protokol, yang tanpa sengaja tidak pernah punya kesempatan untuk melihat rambu lalu lintas, karena terhalangi pohon rimbun yang tidak pernah dirapikan. Bahkan pengendara motor yang diisi keluarga berkepala lima, 3 di antaranya manusia di bawah umur tanpa menggunakan alat pengaman untuk berada dalam sebuah kendaraan beroda dua, tidak pernah ditegur, kalau itu akan membahayakan keselamatan mereka. Di jalan – jalan Jakarta, kita hanya belajar untuk menjadi manusia paling ignoran di dunia.

Lalu, apakah yang dapat kita lakukan untuk semuanya itu? Tokh tidak ada yang tahu. Kita terjerat dalam kehidupan modern, kita telah memilih partai/caleg/gubernur yang kita harapkan dapat membuat kehidupan kita lebih baik, tapi kita mendapati kenyataan kalau mereka yang kita pilih akan berkoalisi dengan mereka yang masuk dalam daftar nomor satu “Tidak akan kita pilih”, atau membuat kota ini menjadikan diri kita orang – orang ignoran.

Setelah semua ini, haruskah kita menyerah terhadap semuanya? Karena segala bentuk perlawanan nantinya juga akan menuju kepada kepasrahan kita terhadap sistem yang mengelilingi kita. Atau haruskah kita tenggelam dalam sebuah nostalgia, yang mengatakan “Entah mengapa, segala sesuatu terlihat lebih indah di masa lalu”?

Jawaban sebenarnya ada di diri kita masing – masing. Mau bagaimanapun teknologi dan sistem membentuk kehidupan sekitar kita, sedikit banyak, kita sendiri yang masih punya kontrol terhadap kehidupan kita sendiri. Lebih baik menentukan pilihan daripada diam dan memutihkan diri. Lebih baik memulai sesuatu, dan berusaha selalu berbahasa dengan baik dan benar daripada tenggelam dalam kehilangan identitas secara massal. Karena seperti sebuah pepatah mengatakan “Mereka yang melawan bisa kalah. Mereka yang tidak pernah melawan, sudah kalah”. Pertanyaannya, maukah kita melawan?

David Wahyu Hidayat

Selamat pagi, Presiden Chang!

Dikirim Pikiran Malam pada Desember 14, 2008 oleh David Wahyu Hidayat

Sebulan lebih sudah, sejak Amerika Serikat memilih presiden kulit hitam pertamanya. Dan kita warga dunia, ikut merasakan ekstase terhadap terpilihnya Barack Obama. Pria kurus yang dicap tidak punya kemampuan untuk bertempur karena pembawaannya yang terlalu sopan dan tidak cepat marah itu, telah menginspirasikan Amerika Serikat untuk sebuah perubahan yang dapat dipercayai. Sebuah perubahan yang mengembalikan kepercayaan diri, kalau kita semua dapat merubah tatanan lama ke dalam sesuatu yang kembali memberikan harapan, termasuk menyelamatkan dunia dari krisis finansial global yang kita hadapi saat ini. Singkatnya, ia telah memberikan rakyat Amerika Serikat sebuah inspirasi.

Kita sebagai warga Indonesia, langsung atau tidak langsung ikut merasakan euforia itu. Satu euforia yang mungkin disebabkan oleh fakta bahwa Obama menghabiskan masa kecilnya di jalan – jalan ibukota negeri ini. Satu euforia yang membuat beberapa orang menuliskan di salah satu jejaringan sosial dunia maya, sebuah himbauan kepada rakyat AS untuk memilih pada tanggal 4 November silam. “To the citizens of US: Vote Today!”. Begitu kira-kira salah satu pesan yang saya baca di sana waktu itu.

Mengapa mereka peduli? Apakah Obama begitu menginspirasikan mereka? Apakah euforia yang sama akan kita miliki di bulan April dan Juli 2009 nanti, ketika kita menghadapi pemilu legislatif dan eksekutif negara tercinta ini? Atau kita hanya menjadi seorang apatis, yang berkomentar “Ah, buat apa milih, tokh ga ada perubahan yang terjadi”, lalu sepanjang 5 tahun berikutnya berkomentar betapa buruknya para pemimpin mengelola negeri ini?

Kita memperjuangkan reformasi 10 tahun yang lalu. Reformasi yang berhasil menggulingkan sebuah kekuasaan telah mengekang kebebasan kita dalam porsinya masing-masing. Lalu ketika 5 tahun yang lalu, kita melakukan pemilu, 6 tahun setelah reformasi itu diproklamirkan, kita membiarkan partai yang sama yang memerintah sepanjang 32 tahun Orde Baru, meraih suara terbanyak. Tidak adakah yang melihat ada sesuatu yang salah dengan ini?

Memang tidak bisa dipungkiri, seperti yang sudah dibahas oleh beberapa media massa akhir-akhir ini, kalau kita sedang krisis pemimpin. Seorang pemimpin dan tokoh yang mampu menyatukan negara ini tanpa melihat atau mewakili satu golongan tertentu. Pemimpin yang menginspirasikan kita, untuk menjadi bangsa yang besar kembali. Begitu banyak potensi yang kita miliki, dan adalah sebuah keanehan bila kita tidak dapat memberikan andil lebih banyak lagi kepada dunia internasional.

Kevakuman akan sosok pemimpin itu, menjadikan beberapa orang menjadi apatis untuk memilih, namun bersikap apatis bukanlah jawaban yang diperlukan bangsa ini. Dengan apatis berarti kita menghianati reformasi yang diproklamirkan 10 tahun yang lalu. Memang kita tidak akan secara instan merasakan euforia seperti rakyat Amerika Serikat mendapati seorang Obama, masih jauh jalan menuju ke sana. Tapi dengan suara yang kita berikan, kita peduli kepada negara ini. Kita menentukan apa yang akan diberikan negara ini kepada kita. Tidak ada yang lain yang bisa kita buat selain peduli terhadap tanah air kita cintai ini. Tidak ada gunanya kita berslogan nasionalis setinggi-tingginya, bila untuk memilih pun kita tidak punya kepedulian.

Di satu sisi, pernahkah kita berpikir, bila kita mempunyai seorang tokoh seperti Obama, apakah kita siap dengan hal itu? Di negara, di mana perbedaan suku, agama, ras sepertinya masih merupakan sesuatu yang mendasar dalam menjadikan hal-hal tersebut sebagai salah satu acuan untuk menilai seseorang. Obama adalah seorang kulit hitam keturunan Kenya. Nama lengkapnya adalah Barack Hussein Obama II, sebuah nama yang sama sekali tidak mengindikasikan bahwa ia adalah seorang warga Amerika Serikat, bila hanya dilihat dari sisi tersebut. Namun Amerika Serikat memilihnya menjadi presiden mereka ke 44.

Bila di tahun 2xxx, ada seorang tokoh yang mampu mempersatukan kita sebagai bangsa Indonesia, tanpa peduli dengan perbedaan ideologi, suku, agama, dan ras, yang ia pedulikan hanyalah menjadikan bangsa ini besar kembali, menjadikan Indonesia menjadi sebuah negara yang agung dan dipandang di dunia internasional, yang mengembalikan nilai-nilai esensial di kepemerintahannya dan peduli teradap nasib semua orang di tanah air ini, tanpa terkecuali, apakah kita siap menerimanya? Katakanlah dia seorang keturunan Tionghua, dengan nama Chang Chong-Chen, apakah kita mau memilihnya dan menerimanya sebagai presiden kita?

Ketika setiap saat bila ada sebuah pernikahan, pertanyaan pertama yang dilontarkan adalah dari suku manakah dia berasal, beragama apakah dia? Ketika keragaman yang dimiliki bangsa kita, pelan-pelan hendak dibunuh dengan undang-undang yang mengatasnamakan penjaga moral bangsa. Ketika kita tidak siap dengan keberadaan orang-orang homoseksual di komunitas kita, ketika HAM tidak dihargai, ketika pendidikan tidak dipedulikan, ketika kekacauan infrastruktur yang menyebabkan banjir disalahartikan sebagai bencana alam, ketika korban industri pengeboran gas yang menyebabkan luapan lumpur menenggelamkan hunian orang banyak dan mereka dibiarkan terluntang-lantung nasibnya. Ketika itu semua terjadi, dan ada seseorang yang dapat muncul menjadi seorang mesias bagi bangsa ini, namun bernama salah dan bergaris keturunan yang tidak populer, masihkah kita dapat berpaling darinya oleh karena batasan tersebut? Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah slogan bangsa yang mulia, dan pelan-pelan kita harus menanyakan kepada diri kita sendiri apakah kita benar-benar percaya padanya.

Di tahun 2xxx itu, di Lapangan Banteng, Chang Chong-Chen dengan tenang namun berapi-api menyampaikan pidato sambutan di depan anak bangsa ini setelah terpilih menjadi presiden Indonesia yang kesekian. Tua muda, laki-laki, wanita, tak peduli golongan, suku, agama, orientasi seksual, pandangan ideologi, berkumpul di sana untuk melihatnya. Tak sedikit orang yang menuturkan air matanya. Akhirnya bangsa ini mempunyai lagi sebuah tokoh yang patut dipercayai. Yang menunjukkan keberanian untuk memimpin, dan yang terpenting yang menyatukan bangsa ini untuk menjadi yang lebih baik. Pidatonya malam itu menginspirasikan semua orang yang mendengarnya langsung, maupun di layar kaca. Itu untuk pertama kalinya kita boleh percaya, kalau kita dapat melakukan sesuatu sebagai bangsa, dan harapan akan sebuah keadaan yang lebih baik kembali boleh kita kibarkan di hati masing-masing.

Masih perlu beberapa waktu sampai kita dapat mengucapkan “Selamat pagi, Presiden Chang!”. Sampai semuanya ini terjadi, masih banyak kerja keras yang harus kita lakukan sebagai bangsa. Mungkin kita tidak akan memiliki euforia yang sama dengan rakyat Amerika Serikat ketika pemilu 2009 datang, tapi itu tidak boleh menjadikan kita sebagai seorang yang apatis. Pemilu 2009 adalah pemilihan yang menentukan bagi bangsa ini, bukan pemilu Amerika Serikat 2008. Kalau kita sebegitu antusiasnya menganjurkan rakyat AS untuk memilih di bulan November kemarin, paling tidak kita melakukan hal yang sama untuk teman-teman kita setanah air. Dan tidak lupa untuk mencoblos pada pemilu 2009. Bila kita peduli untuk memilih di tahun 2009, itu adalah langkah pertama kita untuk kembali percaya kepada bangsa ini. Untuk menjadikan bangsa ini besar kembali.

David Wahyu Hidayat

Perokok Di Luar Pintu Rumah Sakit

Dikirim Pikiran Malam pada Desember 14, 2008 oleh David Wahyu Hidayat

Pelan-pelan ia mengehembuskan asap rokok dari mulutnya, pertama dengan tarikan yang dalam, lama-kelamaan ia tidak peduli lagi, asap rokok itu mengepul meninggalkan mulutnya yang pahit, seperti aliran kata-kata yang sudah lama ingin terucapkan tapi tidak pernah tersampaikan.

Ia terdiam termenung. Berdiri, menatap nanar melihat keluar melalui jendela yang berembun, setengah karena pendingin ruangan, setengah karena hujan yang mengguyur Jakarta sejak dini hari. Langit kelabu menggelayut menutup ibukota, sekelabu hatinya yang tidak menentu. Ia tidak tahu lagi ke mana harus melangkah. Waktu baginya telah berhenti. Ia tidak tahu lagi ke mana harus menoleh. Manusia baginya tak ada lagi yang tersisa. Semuanya menghilang, semuanya berakhir.

Tiada yang berbekas dalam alam pikirannya. Ia mencoba berpikir, apa yang telah ia perbuat sepanjang ini, namun yang muncul hanyalah bayangan kosong akan ketiadaan, akan ruangan jiwa yang tak pernah terpenuhi. Ia masih menghisap rokoknya dalam-dalam. Matanya tertuju kepada sebuah ruangan, di mana sebuah tubuh terbaring dengan damai. Tubuh itu sangat mirip dengan dirinya, minus kacamata yang hinggap di hidungnya saat ini, tanpa rambutnya yang berantakan tak terurus. Di sekelilingnya, ia mengingat, adalah orang – orang yang dekat dengan dirinya, ayah ibunya, kakak-adiknya, teman-teman terbaiknya, rekan-rekan kerjanya. Mereka semua menatap tubuh yang terbaring dengan mata terpejam. Raut muka tubuh itu tenang, tidak bergeming, senyum tipis terbersit di mukanya yang tidak lagi bergerak. Ruangan itu dipenuhi oleh suara musik yang sangat sendu.

Perokok itu mengingat, lagu yang mengalun pelan itu adalah “Asleep” dari The Smiths. Ia ingat, ia mencintai band itu lebih dari apapun yang ada di dunia ini. Ia ingat, suatu waktu yang lalu ia pernah berpesan, bila ia telah tiada, lagu itu agar dimainkan di ruangan tempat ia terakhir kali beristirahat. Pelan-pelan semua yang ada di ruangan itu membagikan kenangannya terhadap tubuh yang berbaring damai itu kepada orang-orang di sekelilingnya. Dan ia mendengar, manusia yang tidak lagi berdaya itu, dicintai oleh orang-orang di sekelilingnya. Ia mendengar, manusia itu begitu mencintai musik dalam hidupnya, dan mendedikasikan hidupnya pada musik. Ia mendengar, manusia itu terlalu adiktif terhadap pekerjaannya sehingga tidak mempedulikan keadaan kesehatannya sendirinya yang pelan-pelan memakan jiwa dan badannya. Ia mendengar, manusia itu adalah seorang teman yang menyenangkan, yang selalu berusaha untuk ada di sana bagi mereka yang memerlukannya.

Manusia itu ditatap dalam-dalam oleh sang perokok. Asapnya sudah memenuhi ruangan itu, namun mereka yang ada di sana tidak peduli, seolah asap itu tidak ada, seolah dirinya tidak eksis di sana. Makin ia menatap, makin ia menyadari kemiripannya dengan manusia yang terbaring di sana. Sampai di satu titik di mana ia yakin, kalau yang terbaring di sana adalah dirinya sendiri. Sampai ia sadar, kalau ini untuk pertama kalinya ia merokok. Ia menatapi wajah yang hadir di sana satu persatu, lalu ia tersenyum dan meninggalkan ruangan tersebut.

Di luar pintu rumah sakit, ia masih merokok. Hujan masih membahasi tanah yang ia pijak, langit Jakarta seakan tidak pernah bersahabat di hari itu. Ia meresapi semua yang baru saja ia lihat. Manusia yang mirip dengannya itu telah menjalani hidup yang mengagumkan, dan tidak ada yang salah dengan itu. Ia tersenyum, entah kenapa, lalu mematikan rokoknya, dan berjalan menuju pelukan hujan. Semuanya akan baik-baik saja.

David Wahyu Hidayat

Terinspirasi dari lagu “Smokers Outside The Hospital Doors” oleh Editors. Adakah yang menyadari kalau mereka band yang mengagumkan?

Kita dan orang – orang menakjubkan di sekeliling kita

Dikirim Pikiran Malam pada Oktober 19, 2008 oleh David Wahyu Hidayat

Detik berganti menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari. Berulang-ulang terus menerus dalam kehidupan manusia yang seringkali tidak diketahui arah dan tujuannya. Kita seringkali mengalami turbulens dalam kehidupan, sebuah fase dalam kehidupan, yang akhirnya harus diyakini sebagai sesuatu yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Dalam menjalani setiap fase tersebut, kita bertemu dengan begitu banyak tipe manusia yang membentuk kehidupan kita. Seringkali mereka menfrustasikan kita, seringkali mereka mengecewakan kita, dan membawa kita ke dalam sebuah keadaan di mana kita tidak dapat maju lagi dalam kehidupan. Bukan berarti kita terjatuh dan berada dalam sebuah lubang tanpa dasar, tapi kita berada dalam sebuah keadaan stagnan, di mana kita berhenti dalam semua aspek kehidupan kita. Resesi pribadi, seperti juga dunia yang berada dalam ancaman resesi ekonomi terbesar yang pernah dialami mahluk bernama manusia.

Entahlah, di saat di mana manusia tidak dapat maju lagi dalam hal yang ia lakukan, ia merasa selalu seperti berada dalam wahana roller coaster di mana adrenalin yang ia rasakan, hanyalah halusinasi sesaat untuk sedikit percaya bahwa segala sesuatunya baik – baik saja, dan dirinya dalam keadaan baik. Tapi yang dirasakan hanyalah kefrustasian akan sesuatu yang tidak dapat dibawa maju, kemana pun ia melangkah.

Kefrustasian akan batasan-batasan absurd yang tidak akan pernah membawanya ke manusia yang ia inginkan, akan makna persahabatan yang terlalu dalam sampai mereka yang melakoninya sendiri, tidak mengerti apa sebenarnya arti persahabatan, dan meyakini kalau berpisah di jalannya masing-masing adalah pilihan yang terbaik. Atau ketika pekerjaan yang dijalani hanyalah pertempuran politik tanpa batas yang mendemotifasi seorang pekerja paling berdedikasi sekalipun. Atau ketika menyadari bahwa ia begitu mencintai negara tempat kelahirannya, sampai ia menyadari dan menanyakan masih adakah figur yang akan meniginspirasikan bangsa ini dan menjadikannya bangsa yang besar seperti yang telah dilakukan nenek moyang kita beradab-abad yang lampau. Di saat-saat seperti ini, tidak ada lagi yang dapat dipecayai, semuanya hanyalah seperti usaha menjaring angin, dan yang membuat dirinya berasa lebih baik, hanyalah ketika ia mendengarkan musik yang ia cintai di kepalanya.

Akankah semua ini berakhir? Sebuah prinsip yang diyakini adalah selalu percaya apa yang ia lakukan adalah yang terbaik, dan meninggalkan semua yang ada di belakang. Selalu berusaha, karena cepat atau lambat semuanya itu akan membuahkan hasil. Tapi di mana kita sudah melakukan segalanya, kemudian menemukan jalan buntu di banyak hal, apakah yang dapat dilakukan lagi? Tidur dan bermimpi adalah hal ternyaman yang dapat dilakukan, tapi mimpi juga harus dikerjakan, karena bila tidak mimpi akan tetap menjadi bayangan indah yang kita punyai waktu kita tidur, dan menguap waktu kita terbangun menghadapi hari.

Sebenarnya, bila diperhatikan lagi dan lagi, kita selalu dikelilingi oleh orang-orang yang mengagumkan dan menakjubkan yang berada di sekitar kita. Memang manusia juga yang selalu membuat kita kecewa terhadap kehidupan, memang mereka juga yang selalu akan menfrustasikan kita. Tapi kita harus selalu ingat, tidak setiap manusia dapat kita menangkan untuk diri kita sendiri. Bila kita dikecewakan oleh manusia – manusia yang kita jumpai, bukan berarti mereka selalu akan mengecewakan. Kita juga harus ingat, ada manusia – manusia yang selalu siap menerima kita, mendukung kita, dan membuat kita tersenyum ketika kita tidak lagi menemukan jalannya. Bila manusia yang tadinya selalu berada di sisi kita menghilang, mungkin memang itu salah satu jalan untuk diri kita sendiri dalam proses mencari arti dari manusia itu sendiri, dan selanjutnya mengerti makna kehidupan ini.

Kita akan selalu berada di persimpangan jalan, entah arah mana pun yang kita pilih, kita hanya harus selalu percaya kalau keputusan kita dan arah yang kita pilih adalah segala sesuatunya yang akan membawa kita menuju tujuan kita. Karena bila kita pun terhilang sendiri, tidak akan dapat yang menolong diri sendiri. Ke mana pun kita berjalan, kita hanya harus tetap berjalan dan terus berjalan, dan lihat di sana telah menunggu orang-orang menakjubkan yang akan menyapa dan memeluk kita dalam kehidupan.

David Wahyu Hidayat

DIG OUT YOUR SOUL

Dikirim Pikiran Malam pada Oktober 7, 2008 oleh David Wahyu Hidayat

3 years ago I was still living at this other country enjoying the luxury of being accessible to all kind of music that I love. On one special morning in that year 2005 I made a walk to my local record store, and bought the new album of a band that defines my youth and my life. That day was 30 May 2005, the release day of “Don’t Believe The Truth”, the band is OASIS.

The release day of an album from a band that I love is always a celebration. Or better said, it was a celebration. There is a moment of undescribeable happiness, walking from your house going into that record store. Once you have the record in your hand, you rush back to your little room where you live, put the CD into your music player, and turn the music as loud as you can. Those moments were a ritual. A celebration of its own. Because you are celebrating the music in you. Because you are celebrating life.

Back in this beloved country, that joy is taken from you, because none of the record labels here even considered embracing those kind of celebration. I guess, they just don’t understand it. I managed 3 years, with that condition. I compromise myself, and really do well in it. Until today.

Today, 06 October 2008, I just realize this can’t happen any longer. I just so desperate to hear the new sound of the band that defines my life. So what I did was, nothing more, than I used to do everytime the band I love release an album. I go to the next record store, and buy the album. The record store was Oasis Official Website.

I would have not done it three years ago. Even until last month I was so tempted doing it, when the new Bloc Party album was released. But I didn’t do it then. On the other side, I’m just so tired of the fact, that the corporate world and all other things steal that little celebration in me. So, I went and bought “Dig Out Your Soul”, in a clean and legal way.

Yeah, MODERN LIFE IS RUBBISH. I know. But it’s better to have your soul back, then to wait in uncertainty to celebrate life. I did not regret it at all. You know why? Because the music I hear now, is the most glorious piece of music I hear this year. Definitely without any doubt! Yeah, let’s celebrate life. Let’s dig out our soul!

David Wahyu Hidayat

Hari Terakhir di Bulan September

Dikirim Pikiran Malam pada September 30, 2008 oleh David Wahyu Hidayat

Bagi beberapa orang hari ini adalah hari biasa yang tidak berarti, penggalan lain dari waktu yang terlalu cepat berlari di hadapan kita, tidak usah terpikirkan untuk ditahan. Ia akan menghilang sebelum kita sempat menahannya. Untuk umat muslim di planet ini, hari ini, hari terakhir di bulan September adalah hari yang sangat berarti, karena hari ini adalah hari terakhir mereka menjalankan ibadah puasa, sebelum masuk merayakan hari raya Idul Fitri.

Untuk mereka yang tinggal di ibukota ini, hari-hari ini adalah rentangan waktu yang paling menyenangkan, karena untuk seminggu lamanya, atau dengan sedikit keberuntungan mungkin dua minggu, jalanan Jakarta menjadi lenggang, tanpa desakan kendaraan bermotor yang biasanya tiap hari berkelahi memperebutkan tempat paling menguntungkan untuk mencapai tujuannya masing-masing. Untuk beberapa orang waktu ini adalah untuk memaafkan, dari segala kesalahan yang entah disengaja maupun tidak. Waktu untuk berkonsiliasi terhadap sesuatu yang mungkin saja sudah tidak dapat diselamatkan lagi, dan setelahnya tanpa mempedulikan yang telah berlalu, segalanya akan berubah.

Hari terakhir di bulan September ini, bagi diri ini hanya merupakan sebuah rutinitas lain terhadap sumbangan jerih payahnya terhadap denyut perekonomian negara ini. Mungkin hanya segelintiran saja yang tetap bekerja di hari-hari seperti ini, walaupun tanpa disadari sendiri, mungkin jumlahnya lebih banyak dari yang diperkirakan. Salut kepada mereka yang akan merayakan ibadahnya tapi masih tetap bekerja dengan penuh dedikasi sampai jauh melewati jam kerja normal.

Untungnya, di tempat diri ini bekerja, semuanya berlangsung lancar tanpa kejutan berarti. Pekerjaan terakhir selesai menjelang jam buka puasa, dan diri ini menjadi salah satu dari orang terakhir yang meninggalkan tempat mencari nafkah tersebut. Kepala sudah siap untuk istirahat dua hari libur nasional sebelum kembali lagi ke rutinitas. Rasanya semua orang memerlukan hal itu, bahkan pekerja yang paling berdedikasi sekalipun.

Dari gedung perkantoran yang terletak di perbatasan Jakarta Pusat dan Utara, diri ini meluncur menuju rumah yang terletak di sebelah selatan Jakarta. Perjalanan menembus ibukota ini pun dimulai. Entah kenapa, diri ini mengambil inisiatif untuk merubah rute perjalanan pulangnya. Ia melewati lapangan Banteng, melintasi Katedral dan mesjid Istiqlal, gedung sekretariat negara, dan Istana Merdeka yang terlihat bisu menerawang ke arah Monas, terus menuju Thamrin dan Sudirman.

Sore itu, Jakarta menampilkan wajahnya yang lain. Aneh rasanya, melihat Jakarta seperti itu. Aneh sekaligus nyaman menyenangkan. Karena meskipun ada kendaraan lain berlalu – lalang, suasana terkesan terlalu sunyi untuk ukuran kampung terbesar di negara tercinta ini. Tidak ada kebisingan yang biasanya selalu senantiasa menyertai kuping kita. Momen seperti ini, yang selalu membuat diri ini mencintai Jakarta, sebagaimanapun berantakannya kota ini. Karena sebenarnya di saat-saat tertentu seperti hari ini, Jakarta dapat berubah menjadi sesuatu yang menenangkan.

Di bulan ini pula, diri ini menembus digit puluhan ketiga dalam kehidupan seorang manusia. Sebelumnya jauh ketika masih berumur belasan bahkan 20-an, membayangkan diri berumur 30 adalah sesuatu bayangan yang menakutkan, di mana masa muda telah hilang untuk selamanya tertelan waktu. Tapi ketika akhirnya mencapai waktu tersebut, yang ada hanyalah perasaan bersyukur telah mengalami banyak hal berharga dalam kehidupan. Memang kemudaan itu tidak akan pernah kembali lagi, tetapi paling tidak jiwa ini masih tetap jiwa yang sama, yang terperangkap di dalam keoptimisan tahun 90-an.

Satu hari lagi dalam kehidupan telah berlalu. Besok kesulitan yang baru dimulai, atau dari sisi lain mungkin kebahagiaan yang baru dimulai. Kita tidak pernah tahu, sebenarnya kita akan selalu tersesat di antara waktu yang menentukan kehidupan ini. Tapi keindahan dari semuanya itu adalah, ketika kita tersesat, kita sendiri yang akan menentukan arah dan tujuan langkah kehidupan kita.

David Wahyu Hidayat

Akhir 20-an, Awal 30-an, dan Penskena

Dikirim Pikiran Malam pada Agustus 24, 2008 oleh David Wahyu Hidayat

Peralihan tahun 2002-2003. Hidup sedang dalam keadaan terbaiknya. Masalah terberat yang dimiliki waktu itu hanyalah bagaimana caranya memaksa diri untuk bangun tidur dan berangkat kuliah setelah malam-malam penuh cairan bernama alkohol yang membuat kepala terasa digedor oleh palu Thor berulang – ulang. Keberadaan diri di tempat yang bukan tanah air, jauh di tengah –tengah Eropa sana, mulai terasa menyenangkan. Pikiranmu lepas berpikir, tindakanmu merdeka untuk berbuat dengan kontrol, bukan tanpa. Jiwa terasa bebas, dan salah satu hal terbaiknya adalah, secara musikalis, mereka yang diproklamirkan sebagai pahlawan – pahlawan pribadi dapat dialami tepat di depan mata sendiri, dan didengar telinga tanpa perantara apapun. Mereka yang telah mendefinisikan masa-masa tertentu di potongan waktu kehidupan. Ya mereka, Gallagher bersaudara, Greenwood bersaudara dan Yorkie, Converse butut Nick Valensi, androgini seorang Brett Andersson, sampai pahlawan di masa-masa awal diri menemukan musik dalam bentuk sebenarnya: Bono, Ed Ved, dan Michael Stipe yang tidak mungkin ada duanya di dunia pop ini.

Merekalah yang memberikan arti dalam kehidupan. Musik mereka berbicara, memotivasi, dan menunjukkan jalan. Musik mereka memberikan harapan. Sepotong kalimat “We gotta make it happen” dalam Cigarretes & Alcohol yang dinyanyikan Liam, memberikan semangat untuk percaya pada diri sendiri dan berbuat sesuatu. Nyanyian itu lebih berarti daripada ratusan buku “Self Improvement”, dan mungkin itu sebabnya, diri ini tidak pernah percaya kepada buku-buku semacam itu. Karena mereka tidak memberikan arti, mereka tidak pernah memberikan definisi dalam kehidupan. Semua musik itu menjelaskan semua yang akan kita hadapi.

Di peralihan tahun tersebut, seseorang memberikan sebuah buku yang sangat menyenangkan untuk dibaca. “Lost In Music” yang ditulis oleh seorang penggila pop bernama Giles Smith. Di awal buku itu ia menanyakan suatu pertanyaan “Jika seseorang telah melewati masa 20-annya dan memasuki era kepala tiga, haruskah ia merelakan semua kecintaannya pada dunia pop, dan mulai mendengarkan musik klasik, jazz dan segala macam lainnya yang terdengar lebih sesuai bagi seorang yang telah berada dalam posisi tersebut?”. Yang ia lakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah, ia memilih untuk mencintai musik yang selalu ia cintai, karena ia telah terlanjur tersesat di dalamnya. Meninggalkan hal tersebut bukanlah pilihan, karena mereka (musik) telah menjadikan hidupnya seperti yang ia dapati sekarang ini.

Berada di ambang akhir 20-an, tidak pernah disadari adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Satu-satunya bagian yang tidak menyenangkan adalah ketika melihat sekitar, orang – orang yang tadinya sempat dikenal dan berada dalam kelompok umur yang sama mulai tergerogoti oleh polusi korporasi, manisnya kehidupan bernama keluarga dan hal-hal lainnya yang merubah kehidupan. Sepertinya hidup itu tidak bisa dilawan. Sepertinya sekeras apapun kita berusaha, untuk tidak berubah dan selalu berada dalam zona satu-satunya yang dipikirkan adalah betapa indahnya solo gitar seorang Russel Lissack di “She’s Hearing Voices”, kita akan kalah dengan kehidupan itu sendiri. Cepat atau lambat, pikiran lain mulai menggerogoti imajinasi kita. Tabungan di bank, cicilan kendaraan, tempat tinggal mana yang cocok untuk berkeluarga, aspek akademis putra-putri kita dan seterusnya dan selanjutnya.

Hanya berimajinasi dan berpikir seperti itu, membuat diri tersentak kalau musik yang berada di dalam kepala dan telinga terancam untuk tergerogoti sedikit demi sedikit. Itu adalah salah satu bayangan masa depan yang suram. Tidak. Jawabannya adalah tidak. Memang semua kecemasan baru akan datang, dan apa yang akan dihadapi akan lebih berat daripada memikirkan antioksidan apa yang dibutuhkan untuk memerangi serangan alkohol yang membuat pikiran tidak mampu berpikir, tapi itu semua bukan alasan untuk menyerah ke dalam kehidupan korporasi dan kedewasaan yang dipatoki oleh masyarakat.

Sepertinya diri ini, untuk beberapa alasan terjebak di tahun 90-an. Dan dekade itu masih berfungsi sebagai sumbu putar kehidupan ini. Dan sekeras apapun kehidupan akan mengerogoti optimisme tahun 90-an, diri ini tidak akan menyerah. Untuk membiarkan semuanya terlepas dan menghianati mereka yang telah memberikan arti begitu banyak dalam kehidupan ini, hal itu tidak akan pernah terjadi. Sampai kapanpun, musik klasik tidak akan pernah menjadi penyemangat bangun tidur, waktu bekerja, sampai momen-momen percintaan. Karena diri ini bukanlah seorang penskena, yang mencintai sesuatu atau tepatnya berkesan untuk mencintai sesuatu hanya agar dapat digunakan sebagai bahan obrolan.

Mereka yang melakukan hal-hal seperti itu, seperti orang yang tidak punya pendirian, dan tidak punya rasa loyalitas terhadap apapun yang pernah memberikan arti kehidupan. Mungkin itu rasanya fans Chelsea yang sudah mencintai klab tersebut sejak Zola masih merumput di sana, terhadap fans – fans baru kubu Stamford Bridge tersebut, yang baru menyukai tim itu setelah miliaran uang Abramovitsch mengalir ke sana.

Arti keloyalan bukanlah hanya terhadap komitmen percintaan atau apapun yang memenuhi idealisme manusia. Loyal, berarti juga setia terhadap mereka yang telah memberikan impresi sebegitu dalamnya kepada kehidupan. Ketika memutuskan untuk mencintai Liverpool FC, klab sisi merah dari Mersey tersebut hanya menjuarai liga Inggris sekali sampai sekarang, tapi akankah itu mengubah loyalitas diri ini? Tidak, karena ketika waktu itu melihat seorang John Barnes meliuk-liuk di Wembley dan seorang Ian Rush menaklukkan kiper sisi biru dari Mersey di Wembley tahun 1989, mereka memberikan inspirasi terhadap seorang anak kecil. Dan inspirasi itu tetap diberikan sampai sekarang, tidak ada yang berubah.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman pernah bertanya “Kenapa sepertinya lo, kalo udah suka terhadap suatu band, ga pernah bergeming, walaupun album-album sesudahnya jelek setengah mati?”. Jawabannya adalah, karena diri ini tidak bisa menghianati mereka yang telah membuat sesuatu yang mengagumkan terhadap kehidupan, dan lagipula bagi diri ini, mereka tidak akan pernah menelurkan musik yang buruk, karena bagian yang telah dilakukan musik tersebut. Katakan itu subyektifitas, tapi bukankah itu semua inti semuanya ini? Kita mencintai sesuatu, karena mereka telah membuat sesuatu yang berarti dalam kehidupan masing-masing kita, dan untuk itu kita akan selalu berhutang kepada mereka.

Itu masalahnya kepada semua penskena, yang mencoba mencintai sesuatu karena media mengatakan mereka untuk mencintai sesuatu. Itu sebabnya ketika seseorang berumur 30-an, mereka beralih ke Jazz, musik Klasik dan hal lainnya, karena menurut panduan tak resmi seseorang di umur 30-an, sudah tidak pantas lagi mendengarkan musik dari sebuah band yang masih luntang-lantung dengan rambut Beatles dan sepatu Adidas. Maaf, tapi diri ini tidak bisa melakukan itu.

Harapan yang terbersit adalah, merasakan ekstase kepada album baru Gallagher bersauadara, tersenyum penuh kekaguman terhadap teriakan Kele Okereke yang dibalut sample-sample elektronik ketika album baru Bloc Party dirilis, dan setelahnya, dengan penuh semangat melakukan pembicaraan tanpa akhir mengenai keindahan musik itu. Untuk melakukan itu; berapa banyak digit umur diri ini, banyaknya pekerjaan yang memenuhi jadwal, senyuman putri-putra ketika merayakan ulang tahunnya yang kelima, kebahagiaan istri yang ingin merayakan ulang tahun perkawinan; tidak akan merubahnya. Karena diri ini bukanlah penskena. Karena kehidupan ini dibentuk dari suara-suara supersonik itu, dan itu harus dihidupi dan dibagikan. Selamat tinggal 20-an, selamat datang 30-an. Sesuatu yang mengagumkan akan segera terjadi!

David Wahyu Hidayat

Merayakan Kehidupan atau Kematian dan Semua Temannya

Dikirim Pikiran Malam pada Juli 5, 2008 oleh David Wahyu Hidayat

Minggu ini setahun yang lalu, Roger Federer memenangkan Wimbledon untuk keenam kalinya. Saat pertandingan itu berlangsung, g berada dalam perjalanan dari Cengkareng menuju Citos, bersama dengan saudara tertua g yang baru saja melakukan perjalanan dalam rangka mempromosikan film pertama yang diproduserinya. Itu salah satu momen yang diingat di awal Juli 2007. Tengah malam di Citos, makan di sebuah restoran cepat saji yang hampir sudah tidak dapat menyediakan apa-apa lagi untuk pengunjungnya. Pikiran g saat itu sepertinya kosong. Tidak mengkhawatirkan sesuatu dalam kehidupan, terasa terlalu berlebihan untuk mendeskripsikan keadaan diri g setahun yang lalu. G punya pekerjaan yang tidak dapat dicela sedikit pun, dan g dalam posisi yang menikmati pekerjaan tersebut. G punya persahabatan yang baru saja terjalin, dan kepala g masih selalu dihiasi dengan musik-musik yang membuat hidup g lebih berarti.

Setahun setelahnya, semuanya belum berubah, dalam arti, g masih merasa g mungkin salah satu orang yang paling beruntung di kota ini, dan untuk itu, g rasa g harus mengucap syukur. Hanya saja ada sedikit perubahan, pekerjaan g berubah, g punya lebih banyak tanggung jawab, dan harus memperhatikan lebih banyak area di banding pekerjaan sebelumnya. Kepala g masih dipenuhi dentingan musik yang mengagumkan, dan g sekarang punya sekelompok orang untuk memenuhi hasrat bermusik g. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, dalam bahasa Coldplay semuanya Viva La Vida!

Ketika mendengarkan album tersebut di jalanan Singapura untuk pertama kalinya, semuanya yang berada di sekitar universum g, seperti menemukan artinya, terjalin sebagai sesuatu yang mengagumkan. Dan herannya, g masih seringkali tidak mengerti mengapa g bisa dalam posisi g sekarang ini, dan mengeluh tentang hal-hal kecil dalam kehidupan yang sebenarnya tidak harus dikhawatirkan. Sepertinya ketika kita bekerja cukup keras untuk mencapai tujuan yang kita kehendaki, semua yang akan datang setelahnya akan terjadi dengan sendirinya.

Akhir – akhir ini g sering berpikir, apa yang mendefinisikan arti kebesaran seseorang? Apakah seseorang perlu menorehkan namanya dalam sejarah, seperti gol tunggal seorang Fernando Torres yang membawa Spanyol meraih gelar yang mereka impikan sejak tahun 1964? Mungkin jawabannya adalah tidak. Dalam diri kita masing-masing, tidak peduli posisi kita di mana, kita mempunyai kebesarannya masing – masing. Yang membedakannya adalah, kita harus dapat menunjukkannya ketika waktu memerlukannya. Itu adalah definisi kebesaran seseorang, entah itu sewaktu kita diwawancara untuk suatu pekerjaan baru, menjalani ujian akhir nasional, mempresentasikan laporan projek kita kepada atasan dan pemegang saham, atau ketika kita percaya dengan sepenuh hati, kalau lagu yang kita mainkan di atas panggung adalah lagu yang terbaik yang pernah ada, karena itu adalah ekspresi jiwa kita yang memerdekakan hasrat. Di momen-momen seperti itu terletak kebesaran seorang manusia, dan masing-masing dari kita punya kesempatan untuk melakukannya.

Hidup tak lain adalah sebuah perayaan. Sebuah keyakinan akan sesuatu yang indah selalu akan terjadi di masa yang akan datang, sebuah pelepasan dari kebuntuan yang mengelilingi kita. Hidup bukanlah aksi anarkis, sesusah apapun kehidupan itu. Tidak ada sebuah kebesaran dari menjungkarbalikkan mobil instansi pemerintah dan membakarnya di jalan protokol ibukota. Tidak ada sedikit pun intelegensia yang menyertai aksi tersebut. Bila kita ingin melawan saat yang sulit ini, yang kita lakukan bukanlah aksi simbolis seperti itu. Perjuangan kita dimulai dari tempat lain, ketika kita melihat sesama kita dan membantu mereka. Ketika kita tidak hanya mencela oposisi tetapi juga berbuat sesuatu untuk memperbaikinya. Juga ketika kita menghargai satu sama lain dalam perbedaan, dan memberikan ruang gerak dalam sebuah masyarakat yang sekular. Bila kita mau, setiap hari adalah perayaan kehidupan kita. Bila kita memilih untuk membutakan akal pikiran kita, maka kita sudah terjatuh dalam jurang kematian beserta semua temannya.

David Wahyu Hidayat

* Judul tulisan ini diambil dari titel Album Coldplay terbaru “Viva La Vida or Death and All His Friends”

Track musim panas 2008, dalam urutan yang tidak beraturan:

  • Viva La Vida – Coldplay
  • Young Love – Mystery Jets
  • Falling Down (Chemical Brothers Remix) – Oasis
  • Fast Fuse – Kasabian
  • Can’t Go Back – Primal Scream
  • Mercury – Bloc Party
  • Echoes Round The Sun – Paul Weller
  • I Gotta Fire – Spiritualized
  • Sex On Fire – Kings Of Leon
  • A Punk – Vampire Weekend
  • Cassius – Foals
  • Vapour Trail (Ride’s Cover) – Sweaters
  • Bermuda – OK Karaoke
  • Weather To Fly – Elbow
  • Abyss / See You Soon – Rendyasradahnial

Ekspektasi = Ekspek Ekstasi

Dikirim Pikiran Malam pada Juni 10, 2008 oleh David Wahyu Hidayat

Setiap hari manusia terpicu untuk melakukan yang terbaik. Dari detik pertama ketika mata kita terbuka, kita diburu untuk mengejar kehidupan yang seakan hendak berlari dari raga yang kita tinggali. Di kala semuanya itu tidak lagi terkejar, kita jatuh dalam lembah kekecewaan, yang kadarnya berbeda untuk setiap orang. Tapi baru – baru ini, penulis tersadar akan sesuatu yang sesungguhnya membuat kita kecewa terhadap satu dan lain hal, maupun dengan kehidupan itu sendiri. Hal yang baru saja disadarinya itu bernama “Ekspektasi”. Karena hidup ini, di segala bidang yang kita jalani, pekerjaan, keluarga, pertemanan, percintaan, sampai kehidupan berbangsa adalah kehidupan mengelola ekspektasi, yang ketika semuanya tidak tercapai akan membuat diri kita kecewa. Terhadap orang lain, terhadap rekan kerja, orang yang kita cintai, kepada pemerintah dan yang terakhir, kita kecewa akan diri kita sendiri.

Lalu salahkah kita bila mempunyai ekspektasi? Tidak. Karena ekspektasi menimbulkan harapan, dan ekspektasi membuat mata kita bersinar menghadapi sebuah hari yang baru. Yang salah adalah, kita berekspektasi, tanpa memikirkan resiko dan konsekuensi dari hal itu sendiri. Karena menurut kamus pribadi penulis, ekspektasi dapat diterjemahkan dengan “ekspek eskstasi”. Di saat semua yang kita inginkan terpenuhi, kita menjadi ekstase sesaat. Hormon kebahagiaan memenuhi otak kita dengan sekejap.

Dalam kehidupan profesional, kita akan senang bila hasil kerja kita dianggap baik oleh atasan maupun pembeli jasa kita. Dalam percintaan, kita akan berbunga-bunga bila mereka yang dikasihi, membalas cinta kita seperti yang diharapkan. Dalam pertemanan, kita akan merasa selalu nyaman, bila mempunyai orang yang selalu dapat kita andalkan dalam semua situasi.

Bila tiba-tiba, ekstase itu tidak dapat lagi kita kelola dan berikan, pihak lain yang berinteraksi dengan kita akan merasa kecewa, karena mereka tidak lagi mendapatkan sesuatu yang mereka biasa dapatkan, atau mereka pikir, akan mereka selalu dapatkan tanpa syarat. Kita terlalu gila dengan ekstase sesaat itu, padahal mungkin bila hal itu tidak ada, hidup kita akan normal saja, tanpa kerikuhan dan keresahan yang didapat ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi. Di sisi lain, bila ekspektase itu selalu terpenuhi, kita dengan rakus, ingin cepat naik ke level berikutnya, meningkatkan taraf ekstase yang bisa diterima hormon kebahagiaan kita. Seringkali dalam melakukannya, seperti yang telah disebutkan di atas, kita tidak sanggup mengelola resiko dan konsukuensinya. Dan kita pun terjerembab, menunduk pilu menyesali sesuatu yang kita pikir telah terjadi dengan salah.

Kita tidak perlu berada dalam keadaan seperti itu. Yang harus kita lakukan hanyalah mengelola ekspektasi itu dengan baik, dan mengerti apa yang akan mengikutinya baik dari sisi positif maupun negatif. Sekali lagi, ekspektasi itu bukanlah sesuatu yang salah. Bila kita dapat mengaturnya, itu adalah kunci yang akan membuka mata kita bersinar menerawang silaunya mentari pagi.

David Wahyu Hidayat