Arsip untuk April, 2009

Kota (negeri) ini adalah vampir, yang ia lakukan hanyalah menghisap segala kesenangan dari diri kita

Posted in Pikiran Malam on April 23, 2009 by David Wahyu Hidayat

Situasi pertama – Pembicaraan seorang karyawan swasta dengan atasannya yang seorang ekspatriat

Ekspatriat: Sudah tahukah kamu kalau pajak bandara udara baru saja dinaikkan?

Karyawan: Wow, Benarkah? Agak sedikit menyebalkan, karena selain semakin banyaknya restoran di pintu masuk, tidak terlihat sedikitpun perbaikan di sana. Lihat saja sarana toilet umumnya. Memalukan.

Ekspatriat: Lucu juga kamu orang Indonesia, bisa bilang toilet umum di bandara Soekarno-Hatta memalukan. Mau tahu yang menurut saya memalukan? Keadaan dan pengaturan jalan di jembatan Semanggi adalah sesuatu yang memalukan untuk ukuran kota internasional seperti Jakarta.

Situasi kedua – Jakarta di sebuah malam sehabis hujan pada jam bubaran kantor

Jl. Gatot Subroto dan Jl. Sudirman macet total. Semua bentuk kendaraan bermotor tumpah ruah di sana, berjuang mencari celah mencapai tujuannya masing – masing. Pengatur lalu lintas, tidak punya resep lagi untuk mengatur jalanan ibukota, tapi masih sempat menilang pengemudi nakal yang melanggar 3in1. Bus umum seenaknya menghalangi jalan, motor karena disingkirkan ke bagian paling pinggir jalan berusaha menemukan tempat untuk tetap berpijak, pengemudi mobil dengan emosi membunyikan klakson sekencang dan selama mungkin, berharap kalau itu bisa membuka jalan di depannya.

Situasi ketiga – Laporan di media massa tentang calon legislatif yang gagal terpilih

“Siang tadi, ditemukan seorang caleg yang tewas mengenaskan. Diduga ia menghabisi dirinya sendiri dengan cara gantung diri dikarenakan tidak dapat menanggung rasa malu, setelah mengetahui dirinya tidak terpilih sebagai anggota legislatif”, demikian laporan sebuah media massa.

Situasi keempat – Siswi sebuah sekolah menengah setara SMA di Surabaya tidak diperbolehkan mengikuti UAN karena ketahuan sedang hamil tua

“Pemerintahan kota Surabaya dan pihak sekolah pusing menghadapi hal ini. Bila siswi yang bersangkutan diijinkan mengikuti UAN, ini akan membuat dilema di sekolah, karena seakan sebuah lembaga pendidikan mengijnkan muridnya melakukan perbuatan amoral”, demikian laporan sebuah media massa

Situasi kelima – Vokalis band papan atas diberitakan telah nikah siri dengan aktris cantik yang selama ini diberitakan adalah WIL-nya

“Pekan lalu, ketika dicegat dalam acara premiere film horror terbaru, mereka tidak menyanggah kalau telah nikah siri dan disaksikan hanya oleh pihak keluarga terdekat”, berita tersebut menduduki peringkat pertama untuk gosip yang paling ingin didengar pemirsa sebuah tv swasta.

Berbagai situasi di atas adalah potret kehidupan kita sehari – hari. Sebuah kehidupan yang sudah terlalu jengah. Sudah terlalu sesak, kekurangan oksigen. Kehidupan yang tidak dapat lagi bernafas benar, dan karenanya tidak dapat lagi disebut sebagai kehidupan. Sekarat. Kita sekarat, dan tidak bisa lagi diselamatkan.

Sebagai seorang profesional muda yang lahir dan tumbuh besar di ibukota ini, ia tidak dapat memungkiri dirinya sendiri. Ia selalu cinta dengan kota ini. Ia berakar di kota ini. Tapi ketika ia sudah terlalu lelah dengan pekerjannya sehari – hari, sudah terlalu penat dengan apa yang dihadapinya dalam kehidupan profesional dari Senin sampai Jumat, yang ia inginkan adalah sedikit dari ketenangan dari kota yang membesarkannya. Sedikit kedamaian, seperti ketika ia tumbuh dewasa di tanah kota ini. Tapi apa yang ia dapatkan, kekacauan satu berpaling ke kekacauan lainnya di jalanan Jakarta. Manusia menjadi ignoran, dan di mana manusia mulai tidak peduli satu sama lain, di situ ada kekacauan.

Sudah menjadi ramalan yang dipastikan 99,9999% akan terjadi, bahkan orang paling bodoh di dunia pun bisa memprediksikan, sehabis hujan besar di Jakarta, jalanan protokol kita akan macet tidak karuan. Masih bagus kalau tidak banjir. Dan yang direpotkan adalah semua orang yang tinggal di kota ini. Terjerat kembali dalam kelelahan kedua dalam satu hari setelah pekerjaannya. Seorang teman bahkan sebegitu jauhnya sampai bisa berkata “Sepertinya gue lebih stress di perjalanan dari rumah dan dari kantor, daripada waktu menjalani kerjaan gue sehari – hari”.

Di tengah kekacauan itu, sang ibukota masih berangan – angan untuk memiliki alat transportasi massa yang lebih baik bernama kereta bawah tanah. Lebih baik tidak berangan – angan ketinggian sebelum membereskan genangan air setinggi mata kaki yang membanjiri jalanan protokol kota ini setiap kali hujan datang. Di tengah kekacauan ini, mereka yang mempunyai kendaraan pribadi terutama kendaraan roda dua disalahkan. Jumlahnya ingin dibatasi. Mereka yang mengatur seakan bingung untuk menerapkan solusi yang tepat untuk mengatasi kemacetan dan banjir. Padahal kalau mereka sedikit lebih punya keberanian untuk menertibkan setiap kendaraan umum yang selalu serampangan di jalanan ibukota, dan menebarkan asap polusi, sepertinya satu hal pasti akan terjadi. Jalanan ibukota kita akan lebih lancar, polusi lebih sedikit, dan lebih banyak masyarakat mau naik kendaraan umum dan menaruh kendaraan pribadinya dengan manis di garasi masing – masing. Bereskan kendaraan umum, beri keamanan dan kenyamanan bagi penumpang dan pengguna jalan lainnya, pasti kita akan mendapatkan jalanan Jakarta lebih baik. Ide muluk hanya akan berakhir hina tanpa hasil.

Kita dikenal sebagai bangsa yang toleran, dan mungkin terlalu toleran dalam berbagai macam sudut kehidupan. Slogan “Enjoy aja” bukan hanya menjadi pesan salah satu perusahaan rokok, tapi sudah menjadi gaya hidup kita secara tidak sadar. Kita dipaksa menyerah dengan keadaan. Seberapa sering kita mendengarkan frase “Dinikmatin aja lagi, udah macet, mau diapain”. Kenyataannya kita seharusnya malu dengan itu. Macet bukanlah sesuatu yang perlu ditoleransi. Itu, seperti kata sang ekspatriat di situasi pertama adalah sesuatu yang memalukan. Sama memalukannya dengan keadaan toilet bandara udara Soekarno – Hatta yang seharusnya berfungsi menjadi halaman depan yang tertata rapi bagi bangsa asing yang hendak mengunjungi tanah air kita tercinta ini.

Keadaan toilet bandara seharusnya terlihat seperti toilet pusat perbelanjaan paling mewah di ibukota. Bila kita bisa menghitung jumlah penumpang internasional dikalikan dengan 150.000 rupiah yang dikeluarkan untuk pajak bandara, seharusnya dan ini adalah benar-benar konsekuensi logis daripada itu, toilet bandara terlihat jauh lebih bagus dari toilet mal paling luksus negeri ini. Mungkin dengan pengelolaan lebih baik dari pihak pengoperasi bandara semua itu diharapkan masih dapat terjadi.

Kita harus mengatasi masalah mental kita. Anggapan bahwa semua itu bisa ditoleransi harus diganti dengan kemauan untuk melakukan semuanya lebih baik. Sangat-sangat menyedihkan, dan diulangi teramat sangat menyedihkan mendengar berita caleg yang gantung diri dan menjadi gila ketika mengetahui dirinya tidak terpilih. Dengan segala rasa hormat yang sebesar-besarnya kepada mereka, dan perjuangan yang mereka buat dalam kampanye kemarin, tapi sepertinya simpati bukanlah kata yang tepat untuk ditujukan kepada mereka.

Kalau tujuan mereka menjadi anggota legislatif adalah untuk mendapatkan perbaikan penghasilan tanpa harus bekerja keras, mereka telah salah besar. Setiap orang di dunia akan mendapatkan upah yang seharusnya ketika mereka telah bekerja keras dan mengemban tanggung jawab yang besar. Dan tanggung jawab apalagi terhadap bangsa dan negara membutuhkan mental dan jiwa yang besar. Bukan mental dan jiwa yang tidak tahan menghadapi cobaan lalu mencari jalan pintas dengan meninggalkan dunia ini atau mengeluarkan pikiran dari keadaan tersehatnya. Kita sebagai bangsa harus merasa beruntung mereka tidak terpilih, sebab bila tidak, bagaimana mereka akan menghadapi oposisi dan berpikir jernih selama masa jabatan 5 tahun untuk selalu memberikan yang terbaik bagi negeri ini?

Lalu, seperti belum habis kita dibuat heran dengan ketidakmampuan kita menganalisa dan menentukan masalah apa yang sebenarnya esensial bagi bangsa ini, mana yang tidak, kita dibuat tercengang, terheran, diam seribu macam bahasa waktu mendengar berita seorang siswi tidak diperbolehkan mengikuti UAN hanya karena hamil. Dilema mana yang harus ditimbulkan dari situasi ini? Tidak ada dilema. Yang ada, hanyalah satu kepastian. Siswi tersebut harus mengikuti UAN. Di abad berapakah kita hidup? Bila ini adalah kondisi di mana kita hidup, maka ini adalah kenyataan yang sangat mengerikan bagi setiap orang yang hidup di negara ini.

Tidak ada pertanyaan moral dari situasi tersebut. Setiap orang pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, dan mungkin siswi itu telah melakukan kesalahan, dan bukankah sebuah institusi pendidikan seharusnya dapat mengidentifikasi ini, dan memberikan kesempatan untuk masa depannya? Bukan dengan menghancurkannya begitu saja. Bila bukan sebuah institusi pendidikan yang memberikan masa depan, siapa lagi yang dapat memberikannya? Dengan menolak sang siswi mengikuti UAN, itu sama saja kita mendorongnya ke jurang kelam bernama masa depan suram.

Moral seringkali disalahartikan. Kita sibuk dengan perbuatan amoral generasi sekarang, lalu kita membuat undang-undang untuk mengatur tata cara orang berpakaian dan berintimasi satu sama lain. Kita menjunjung tinggi moral, tapi mengabaikan hal-hal esensial lain dalam hidup manusia seperti pendidikan. Atau kita lupa kalau ada infrastruktur yang harus dibenarkan, banjir yang harus dicegah, korupsi yang harus diberantas. Mengenai korupsi, seorang pengamat asing pernah berkata demikian mengenai korupsi di Indonesia “Korupsi tidak ada hubungannya dengan moral. Korupsi terjadi ketika kekuatan individu mengalahkan kekuatan hukum di suatu tempat”. Hukum kita tidak bisa mengawasi dan memagari warganya, sehingga korupsi terjadi. Jalan raya sering menjadi saksi akan hal ini.

Sering kita berbicara tentang moral dan sopan santun. Tentang norma dan budaya timur. Tapi ke manakah semuanya itu, ketika kehidupan pribadi seseorang yang kebetulan sukses menghibur kita dengan musik yang ia mainkan, atau peran yang ia lakoni di sebuah film diekspos tanpa batas di televisi? Yang kita lakukan adalah, kita membuat kisah hidup mereka, drama kehidupan personal seseorang menjadi bahan hiburan kita. Obat bius yang melarikan diri kita dari kepenatan kehidupan megapolitan, dari kekecewaan akan kehidupan bernegara kita. Di semua pemberitaan selebritis, kita menemukan kedamaian dan ketenangan. Sungguh, kita sudah terpuruk dan tidak dapat diselamatkan.

Tidak ada lagi yang harus dikatakan. Kita semua adalah orang yang memiliki akal sehat. Semua harus berawal dari diri kita masing – masing. Kita harus berhenti untuk terlalu toleran terhadap sesuatu yang menghalangi kita untuk menjadi bangsa yang maju. Kita harus membuang pikiran muluk, dan memulai segala sesuatu dari perbuatan sederhana. Berhenti menjadi ignoran. Menfilter diri kita sendiri dari pemberitaan yang tidak berkualitas. Tidak bisa selamanya kita dibodohi terus menerus. Moral adalah penting tetapi itu bukanlah jawaban untuk menjadi besar. Yang lebih penting adalah mengenali hal-hal esensial dalam hidup ini, lalu berjuang keras untuk mendapatkannya. Dengan nilai-nilai luhur dan ketulusan. Dan bila dalam kesempatan pertama kita tidak mendapatkannya, kita harus berjuang lagi. Bila kita masih terjatuh, kita akan bangkit lalu kembali berjuang. Terus berjuang dan terus berjuang. Tanpa henti.

David Wahyu Hidayat

Judul diambil dari “Song For Clay (Disappear Here)” sebuah lagu dari Bloc Party

Mereka yang melawan bisa kalah. Mereka yang tidak pernah melawan, sudah kalah

Posted in Pikiran Malam on April 19, 2009 by David Wahyu Hidayat

“Masa – masa yang brillian….Waktu itu masih ada televisi musik yang sesungguhnya, tidak ada nada dering, tidak ada unduhan, tidak ada pembunuhan informasi berlebihan”

Salah satu editor majalah Intro tentang tahun 90-an di Oktober 2008

Salah satu frase yang sering didengar akhir – akhir ini adalah “Mendekatkan diri kepada yang jauh, menjauhkan diri dari yang dekat”. Di waktu dan tempat di mana kita dikelilingi teknologi bernamakan aplikasi jaringan sosial, aplikasi pesan instan dan telefon selular pintar; kita menikmati akses yang sangat berlebihan terhadap band yang kita cintai, tim olahraga yang kita gilai, orang – orang terdekat kita, orang – orang yang kita rasakan pingin kita dekati, bahkan orang – orang asing yang tidak pernah kita kenal. Di satu sisi, akses tanpa batas itu membuat kita menjadi lebih pintar terhadap banyak hal, di sisi lain hal itu adalah keyataan baru yang mengerikan dan terkadang memuakkan.

Tidak ada lagi kemagisan sebuah band, di mana kita akan selalu ternganga, ketika suatu band menghasilkan sebuah suara luar angkasa yang belum pernah kita dengar sebelumnya. Karena semuanya itu dapat kita lihat di video yang bertebaran di dunia maya. Tidak ada lagi misteri yang ingin dikuak di belakang sebuah suara, karena semuanya telah terungkap di kehidupan modern ini. Tidak ada lagi rasa penasaran kita terhadap wujud seseorang dan hal – hal yang membuat orang ini menarik, karena dengan hanya sebatas beberapa klik di aplikasi jaringan sosial (hampir) semua hal tentang orang itu telah kita ketahui. Tidak ada lagi rasa keingintahuan kita terhadap seorang sahabat yang terpisah ribuan kilometer di belahan benua lain tentang apa yang mereka sedang lakukan, karena setiap 30 menit kita mendapat status terbaru tentang apa yang sedang mereka lakukan di telefon selular pintar kita.

Sebagai orang yang hidup dengan kenikmatan yang ditawarkan abad 21, kita mengalami kemudahan akses ke hampir semua hal tanpa terkecuali. Sebuah keluksusan yang tidak dialami generasi sebelumnya. Beberapa orang bahkan sudah demikian jauhnya menikmati keluksusan tersebut sehingga kehilangan dasar – dasar interaksi manusia secara konvensional. Seberapa sering kita saat ini menemukan gambar, 4 orang duduk dalam satu meja, sibuk menatap layar berukuran 480 x 320 piksel, mengetik sesuatu di papan huruf yang sangat menggelikan jauh lebih kecil dari ukuran jempol tangan manusia paling normal, berinteraksi tentang sesuatu, entah apa yang dibicarakan. Hanya saja interaksi tersebut tidak terlihat di meja mereka duduk untuk menikmati kopi yang tersedia di meja. Padahal sepertinya mereka terlihat seperti orang – orang paling dekat yang ada di planet bumi ini.

Sekarang kita melakukan reaksi sosial terhadap foto yang ada di aplikasi jaringan sosial kita, terhadap foto yang diambil sewaktu kita berkumpul tapi tidak berinteraksi sama lain. Terhadap lagu terbaik, makanan favorit, dan film terbagus yang pernah kita tonton yang dipaparkan di aplikasi tersebut, tapi mungkin tidak pernah kita utarakan ketika kita bertemu satu sama lain.

Gambaran itu pasti terjadi pada diri ini, diri kamu, diri teman kamu, pacar, suami, istri, keluarga, dan setiap orang yang bisa memiliki kenikmatan teknologi tersebut. Kita terjerat, tidak bisa terlepas darinya. Mencandu, dan ketika kita tidak mendapatkan akses tersebut, kita seperti orang kelimpungan, seperti pemadat yang akan menjual jiwanya untuk mendapatkan suntikan berikutnya.

Manusia berjuang untuk memperbaiki dirinya. Ia melakukan semua yang dianggapnya baik untuk memenuhi keinginan dasarnya dan menjadi manusia paling bahagia di dunia ini, dan mungkin keberadaan semua teknologi itu untuk beberapa orang telah menjadi bagian dari kualitas hidup yang tidak bisa dipisahkan di waktu sekarang ini.

Di sisi lain teknologi, dalam kehidupan kita di tanah air tercinta ini. Kita barus saja melaksanakan pemilu legislatif. Sebuah pesta rakyat, seharusnya. Di mana kita dapat bebas menentukan pilihan tanpa rasa takut. Tapi sepertinya, atau mungkin lebih baik dituliskan ironisnya, bagi seseorang yang menikmati segala macam akses teknologi tadi, mereka yang sudah meninggalkan televisi sebagai pusat informasi, hampir tidak ada saluran yang mendekati proporsional yang bisa diakses menjelang pemilu kemarin untuk menentukan pilihannya. Aneh. Kita mengagung-agungkan teknologi sambil berlaku kontradiktif terhadapnya.

Selanjutnya, kita sebagai bangsa gagal untuk meyakini apa yang bisa membuat kehidupan bangsa ini kembali menjadi besar. Kita sekali lagi, kembali gagal untuk bisa menggunakan bahasa kita di tempat dan waktu yang benar. Di pemilu kemarin, kita dihimbau untuk “mencontreng” sebuah kata kerja yang seharusnya asing di telinga kita sebagai orang Indonesia. Apakah sebenarnya “mencontreng”? Jika kita gagal menggunakan bahasa yang benar untuk kepentingan interaksi kita, mau ke manakah kita akan menuju?

Bahasa asing sekali lagi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sehari – hari. Kita gunakan itu untuk kehidupan profesional kita, untuk interaksi dengan mereka yang bukan dari negara ini. Tapi ketika sebuah harian nasional berbahasa Indonesia, dengan target pasar 200 juta orang yang tinggal di negeri ini, menggunakan bahasa Inggris untuk mempromosikan korannya, di manakah letak kesalahan semua ini? Ketika beberapa perusahaan gencar mensponsori lomba pencarian talen, entah itu untuk seorang artis, entah itu sebuah band, dengan mengatasnamakan pasar, mengharuskan artis-artisnya menggunakan bahasa Indonesia di lirik lagu yang mereka nyanyikan, tapi menggunakan nama produk berbahasa Inggris dan semboyan berbahasa Inggris yang ketika diterjemahkan berbunyi kira kira: “Kebebasan Berekspresi”. Di manakah letak kesalahan semuanya ini? Kita berbahasa asing untuk dianggap lebih mantap didengar, untuk menempatkan diri lebih baik di pasar. Tidakkah bahasa kita sendiri lebih baik untuk didengar dan disampaikan? Bila sebuah band menyanyikan lirik berbahasa asing, sepertinya itu dikarenakan mereka lebih nyaman untuk berekspresi dalam bahasa tersebut, dan itu tidak ada hubungannya dengan rasa nasionalis seseorang, atau peduli tidaknya seseorang terhadap pasar. Di manakah kebebasan ekspresi yang diagungkan ketika kreatifitas seseorang dibatasi.

Kita terpentok dengan segala keterbatasan ruang lingkup kita sehari – hari. Di kota megapolitan ini, kita menjumpai manusia – manusia paling ignoran di dunia dalam bentuk bus umum yang bisa berhenti semaunya tanpa pernah ditilang. Mereka yang punya hak untuk menilang, hanya tertarik terhadap mobil – mobil yang berkeliaran di jalan – jalan protokol, yang tanpa sengaja tidak pernah punya kesempatan untuk melihat rambu lalu lintas, karena terhalangi pohon rimbun yang tidak pernah dirapikan. Bahkan pengendara motor yang diisi keluarga berkepala lima, 3 di antaranya manusia di bawah umur tanpa menggunakan alat pengaman untuk berada dalam sebuah kendaraan beroda dua, tidak pernah ditegur, kalau itu akan membahayakan keselamatan mereka. Di jalan – jalan Jakarta, kita hanya belajar untuk menjadi manusia paling ignoran di dunia.

Lalu, apakah yang dapat kita lakukan untuk semuanya itu? Tokh tidak ada yang tahu. Kita terjerat dalam kehidupan modern, kita telah memilih partai/caleg/gubernur yang kita harapkan dapat membuat kehidupan kita lebih baik, tapi kita mendapati kenyataan kalau mereka yang kita pilih akan berkoalisi dengan mereka yang masuk dalam daftar nomor satu “Tidak akan kita pilih”, atau membuat kota ini menjadikan diri kita orang – orang ignoran.

Setelah semua ini, haruskah kita menyerah terhadap semuanya? Karena segala bentuk perlawanan nantinya juga akan menuju kepada kepasrahan kita terhadap sistem yang mengelilingi kita. Atau haruskah kita tenggelam dalam sebuah nostalgia, yang mengatakan “Entah mengapa, segala sesuatu terlihat lebih indah di masa lalu”?

Jawaban sebenarnya ada di diri kita masing – masing. Mau bagaimanapun teknologi dan sistem membentuk kehidupan sekitar kita, sedikit banyak, kita sendiri yang masih punya kontrol terhadap kehidupan kita sendiri. Lebih baik menentukan pilihan daripada diam dan memutihkan diri. Lebih baik memulai sesuatu, dan berusaha selalu berbahasa dengan baik dan benar daripada tenggelam dalam kehilangan identitas secara massal. Karena seperti sebuah pepatah mengatakan “Mereka yang melawan bisa kalah. Mereka yang tidak pernah melawan, sudah kalah”. Pertanyaannya, maukah kita melawan?

David Wahyu Hidayat