Ekspektasi = Ekspek Ekstasi

Posted in Pikiran Malam on Juni 10, 2008 by David Wahyu Hidayat

Setiap hari manusia terpicu untuk melakukan yang terbaik. Dari detik pertama ketika mata kita terbuka, kita diburu untuk mengejar kehidupan yang seakan hendak berlari dari raga yang kita tinggali. Di kala semuanya itu tidak lagi terkejar, kita jatuh dalam lembah kekecewaan, yang kadarnya berbeda untuk setiap orang. Tapi baru – baru ini, penulis tersadar akan sesuatu yang sesungguhnya membuat kita kecewa terhadap satu dan lain hal, maupun dengan kehidupan itu sendiri. Hal yang baru saja disadarinya itu bernama “Ekspektasi”. Karena hidup ini, di segala bidang yang kita jalani, pekerjaan, keluarga, pertemanan, percintaan, sampai kehidupan berbangsa adalah kehidupan mengelola ekspektasi, yang ketika semuanya tidak tercapai akan membuat diri kita kecewa. Terhadap orang lain, terhadap rekan kerja, orang yang kita cintai, kepada pemerintah dan yang terakhir, kita kecewa akan diri kita sendiri.

Lalu salahkah kita bila mempunyai ekspektasi? Tidak. Karena ekspektasi menimbulkan harapan, dan ekspektasi membuat mata kita bersinar menghadapi sebuah hari yang baru. Yang salah adalah, kita berekspektasi, tanpa memikirkan resiko dan konsekuensi dari hal itu sendiri. Karena menurut kamus pribadi penulis, ekspektasi dapat diterjemahkan dengan “ekspek eskstasi”. Di saat semua yang kita inginkan terpenuhi, kita menjadi ekstase sesaat. Hormon kebahagiaan memenuhi otak kita dengan sekejap.

Dalam kehidupan profesional, kita akan senang bila hasil kerja kita dianggap baik oleh atasan maupun pembeli jasa kita. Dalam percintaan, kita akan berbunga-bunga bila mereka yang dikasihi, membalas cinta kita seperti yang diharapkan. Dalam pertemanan, kita akan merasa selalu nyaman, bila mempunyai orang yang selalu dapat kita andalkan dalam semua situasi.

Bila tiba-tiba, ekstase itu tidak dapat lagi kita kelola dan berikan, pihak lain yang berinteraksi dengan kita akan merasa kecewa, karena mereka tidak lagi mendapatkan sesuatu yang mereka biasa dapatkan, atau mereka pikir, akan mereka selalu dapatkan tanpa syarat. Kita terlalu gila dengan ekstase sesaat itu, padahal mungkin bila hal itu tidak ada, hidup kita akan normal saja, tanpa kerikuhan dan keresahan yang didapat ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi. Di sisi lain, bila ekspektase itu selalu terpenuhi, kita dengan rakus, ingin cepat naik ke level berikutnya, meningkatkan taraf ekstase yang bisa diterima hormon kebahagiaan kita. Seringkali dalam melakukannya, seperti yang telah disebutkan di atas, kita tidak sanggup mengelola resiko dan konsukuensinya. Dan kita pun terjerembab, menunduk pilu menyesali sesuatu yang kita pikir telah terjadi dengan salah.

Kita tidak perlu berada dalam keadaan seperti itu. Yang harus kita lakukan hanyalah mengelola ekspektasi itu dengan baik, dan mengerti apa yang akan mengikutinya baik dari sisi positif maupun negatif. Sekali lagi, ekspektasi itu bukanlah sesuatu yang salah. Bila kita dapat mengaturnya, itu adalah kunci yang akan membuka mata kita bersinar menerawang silaunya mentari pagi.

David Wahyu Hidayat

Kebangkitan Nasional, Reformasi dan Arti Kebebasan

Posted in Pikiran Malam on Mei 20, 2008 by David Wahyu Hidayat

100 tahun kebangkitan nasional. Bila kita benar-benar memikirkan arti “Kebangkitan Nasional” tersebut dapatkah kita mengambil esensi sesungguhnya? Apakah sebenarnya arti kebangkitan nasional? Apakah ini adalah sekedar ajang untuk menjadi nasionalis sesaat, ketika kita tiba-tiba dihadapkan kepada sesuatu yang mengkhawatirkan masa depan seperti naiknya harga bahan bakar dan krisis pangan?

Satu abad telah berakhir sejak Budi Oetomo didirikan. Suatu organisasi yang akhirnya menjadi salah satu pencetus perjuangan intelektual, sebuah perjuangan yang bukan hanya didasari oleh semangat berani mati di medan perang. Dilihat dari dampaknya, perjuangan intelektual ini, lebih berbahaya dari perjuangan fisik, karena ia menginsipirasikan dan membuat mereka yang bertahta di tampuk kekuasaan akhirnya goyah, karena kebebasan intelektual tidak dapat dikekang, ia eksis di setiap kepala, ia menancapkan sebuah ideologi baru, sebuah ideologi kebebasan bernama Indonesia.

Perayaan kebangkitan nasional tahun ini menjadi sangat istimewa, karena bukan hanya menandakan seratus tahun berdirinya Budi Oetomo, tapi juga 10 tahun sesuatu yang kita namakan sebagai reformasi. 10 tahun yang lalu, dengan semangat bertajuk Indonesia baru kita bertekad untuk lepas dari kungkungan sebuah orde baru yang menjadi kuno. Kita diijinkan untuk bermimpi, akan adanya suatu tatanan yang baru. Tapi sudahkah mimpi itu kita hidupi setelah 10 tahun berlalu? Atau kita tetap masih berada di perangkap yang sama?

Secara ekonomi makro, kita menikmati pertumbuhan yang boleh membuat iri negara-negara maju di Uni Eropa, tapi apakah dengan demikian kita sebagai bangsa telah menjadi lebih sejahtera seperti sebelumnya? Di tengah krisis energi dunia, dengan harga minyak yang menembus lebih dari 125 USD per barel, adalah hal yang sangat mudah untuk kecewa terhadap pemerintahan yang ada, karena tidak sanggup memegang janjinya untuk tidak menaikkan harga bahan bakar. Tapi pertanyaannya, adakah dari kita yang sanggup untuk tidak melakukan hal itu, bila kita berada di tampuk kekuasaan? Protes itu mudah, tapi bila kita berada di sisi lawan dari protes tersebut, tidak gampang untuk mencari jalan keluar dari semuanya.

Tulisan ini, bukanlah tulisan yang hendak pro siapapun. Tapi sebagai suatu bangsa yang merayakan 100 tahun kebangkitannya, apakah kita sudah benar-benar bangkit? Di saat kita semua harus bersatu, memikirkan apa yang terbaik bagi negara ini, kita malah saling menuding, menyalahkan mereka yang dengan sadar kita pilih untuk memimpin negeri ini. Elite politik lain menggunakan kesempatan ini, untuk menyerang lawan politiknya, tidak heran, karena tahun 2009 adalah tahun di mana kita dengan sadar akan memilih lagi siapa yang akan memimpin bangsa ini. Bila ada masa yang paling tepat untuk mengumpulkan pendukung sebanyak-banyaknya, mungkin tidak ada lagi saat yang paling tepat selain sekarang ini.

Sudah seterpuruk itukah makna kebangkitan nasional dan reformasi yang kita yakini. Untuk hal yang disebut terakhir, lihat apa yang kita alami. Kebebasan demokrasi seakan separti kebablasan untuk memihak kepada golongan tertentu. Kekerasan dilakukan di mana-mana, bukan oleh mereka yang tidak tahu mana yang baik dan benar, tapi oleh mereka yang sangat taat beragama, tidak peduli kepercayaan apa yang dipeluknya. Untuk itukah mahasiswa gugur di Semanggi dan Trisakti 10 tahun yang lalu? Ke mana perginya Indonesia yang kita impikan?

Ketika kebebasan kita rangkul sepenuhnya setelah 32 tahun terkungkung dalam korupsi kekuasaan tanpa batas, kita malah buta dengan itu. Kita tidak tahu apa yang harus kita perbuat dengannya. Kita malah menggunakan kebebasan tersebut, untuk mengukung kebebasan orang lain, karena takut kebebasan golongan, kelompok tertentu akan terancam keberadaannya. Kita lupa, kebebasan selalu harus disertai dengan akal sehat, dan pikiran matang, karena kebebasan tanpa itu, hanyalah sebuah plot untuk menjerumuskan diri sendiri ke jurang yang lebih dalam dari sebelumnya.

Lalu ke mana jalan keluar semua ini? Tulisan ini tidak akan memberi, dan tidak pernah dapat memberi jawaban. Yang jelas, kita diambang batas kekacauan yang mungkin tidak pernah kita sadari sepenuhya. Tragedi Mei 1998 ada di sana bukan untuk dilupakan, tapi untuk diperingati agar tidak terulang kembali. Jika kita sadar apa arti kebangkitan nasional, kita harus berpikir sejernih mungkin untuk keluar dari krisis yang kita hadapi sekarang.

100 tahun kebangkitan nasional dan 10 tahun reformasi hanyalah sebuah slogan, bila pada akhirnya, semua masa lalu kelam kita mengejar kita kembali. Perayaan ini semua akan menjadi sesuatu yang sia-sia bila kita kembali kepada keegoisan kita dengan melakukan anarkis di jalan atau dengan membuat keputusan yang menekan rakyat kecil. Kita sebagai rakyat, diberi kuasa untuk memilih siapa yang akan memimpin kita, mereka sebagai pemimpin mempunyai kuasa untuk ingat memberikan yang terbaik bagi tanah air yang kita cintai. Ini bukan saatnya untuk menekan satu sama lain. Ini bukan saatnya untuk mengacau. Ini bukan saatnya untuk melupakan masa lalu. Ini saatnya untuk berubah. Ini saatnya untuk melepas dogma sempit dan berpikir kebangsaan. Ini saatnya untuk bertempur secara intelektual. Ini saatnya untuk bangkit. Selamat merayakan 100 tahun kebangkitan nasional dan 10 tahun reformasi! Kembalikan harapan bernama Indonesia itu ke dalam kehidupan kita.

David Wahyu Hidayat

Polypanic Rooms

Posted in Last Song Syndrome on Mei 9, 2008 by David Wahyu Hidayat

Help me out just get me out of here

Is anybody outside help some stranger here

Pull me up I’m gonna die in here

Can anybody out there want be my square

Help me out just get me out of here

Is anybody outside help some stranger here

Pull me up I’m gonna die in here

Can anybody out there want be my square

Is anybody there can watch me

Is anybody there can hear me

And I feel lost and I feel empty

Is anybody there can feel me

You’re come as a key

Who lock in the house

Get me out from this room

You give me nerve you give me hopes

You’re my delay you’re my echoes

You turn me on again

You turn me on again

I love you like I love the sunrise in the morning

I love you like I love the sunrise

I love you like I love the sunrise in the morning

I love you like I love the sunrise

Polypanic Rooms – Polyester Embassy

Their music is the best sound I’ve ever heard from this country in my end twenties life. It just gives you a certain hope. Somehow.

In A Different Place

Posted in Pikiran Malam on April 28, 2008 by David Wahyu Hidayat

…And we’re smiling, when we’re sleeping, and we’re smiling, when we’re waking…

Jakarta – Bandung – Jakarta dalam waktu 11 jam. Cukup untuk membuat g sebentar melupakan fakta kalau besok adalah hari Senin. Minggu malam seperti malam ini, adalah salah satu malam yang lo rasa lo ga akan pingin untuk melewatinya, dan menginjakkan kaki ke minggu yang baru. G rasa g hanya ingin, akhir pekan itu diperpanjang sedikit lagi, sampai kita semua bisa disegarkan kembali, sebelum balik ke rutinitas. Yah, sebuah impian belaka, namun, siapa sih yang tidak menginginkan hal itu?

Tapi perjalanan singkat ke Bandung itu, cukup menyenangkan. Sesuai dengan porsinya, tidak berlebihan, tidak terlalu singkat. Misi pribadi g, atau lebih tepatnya misi sekelompok orang berjudul sebuah band berhasil dilangsungkan dengan cukup efektif, tanpa gangguan berarti yang signifikan. Terlepas dari itu, g selalu suka perjalanan keluar kota dengan mobil, walaupun perjalanan pulangnya g habiskan dengan tertidur di kursi belakang.

Perjalanan dengan mobil ke luar kota yang kita tinggali, selalu membuat g sedikit terpesona. Mungkin bukan pemandangan yang dilihat di kiri – kanan, karena itu tidak pernah berubah, khususnya bila telah dilewati berulang-ulang seperti ketika menyusuri tol Cipularang. Mungkin yang membuat g terperangah sedikit adalah fakta, bila di saat g melakukan sebuah perjalanan, itu adalah kesempatan g untuk keluar dari segala yang memerangkap g di ibukota. Entah itu, datangnya kembali Senin yang tak terelakkan, atau hal lainnya yang untuk sementara tidak bisa dideskripsikan dan diutarakan. Dan perjalanan barusan cukup membawa penyegaran, dengan segala bercandaan yang dibagi dan cerita-cerita lainnya.

Di dunia modern ini, jarak seperti tidak berarti. Khususnya untuk cerita hari ini, Jakarta-Bandung-Jakarta bisa ditempuh dalam waktu singkat, dengan penemuan bernama tol Cipularang. Untuk lingkup yang lebih luas. Entah di mana orang yang kita kenal berada, tehnologi mempersingkat jarak. Dulu mungkin g masih ngalamin kirim-kirim surat, tapi sekarang, tinggal main-mainin jari sedikit di hp, orang di belahan dunia lain sudah bisa tahu kabar kita. Atau kalo mau lebih ribet dikit (ribet dalam arti, g butuh sambungan internet), “instant messenger” tersedia untuk komunikasi seni lain dengan ketikan dan pilihan “emoticons” shortcutnya ga akan pernah g hafal, dan untuk itu jarang banget g pake (“emoticons” maksudnya, bukan “instant messenger”), kecuali beberapa yg g inget karena sederhana. Bertelfonan di situ pun bisa, kalau mau. G rasa, kalo orang yang kita ajak bicara lagi punya waktu dan bersedia diajak bicara, jarak kadang-kadang sudah bukan masalah lagi. Tinggal waktu mungkin yang bisa menjadi momok, apalagi kalau perbedaan waktunya terlalu besar untuk dijembatani.

Ngomongin waktu, hari Senin sudah tak terelakkan lagi. Terus terang, ini hari Senin yang pingin g hindarin, untuk satu dan lain hal, dan itu mengingatkan g, kalau g sekarang harus bikin presentasi, bukannya malah mengisi pikiran malam, di blog ini. Tapi karena itu, g pingin menghindarinya. Karena sedang tidak bisa berpikir untuk memasuki Senin. Bagaimana pun juga, waktu tidak bisa dilawan, jadi g rasa g berhenti di sini.

…Floating in and out of time, in and out of space. No-one can touch us, We’re in a different space…

David Wahyu Hidayat

Paint The Silence

Posted in Last Song Syndrome on April 26, 2008 by David Wahyu Hidayat

How can you say your life is empty
So late in the day
Why would you stay another second
Now your sight got in the way
A combination
Of love and aggression
Another second lived

Don’t paint the silence black now save me
Don’t leave it a day
You got a right to stand or die so maybe
You take chances all the same
Pain comes in stages
If we dont make it
Nothing changes

Now the violence sleeps inside
Abandoned feeling for just a piece of mind
It’s the reason why your teething side frustrates me

Now the violence sleeps inside
Abandoned feeling for just a piece of mind
It’s the reason why your teething side irates me

Dont leave me to pick up on your questions
Not even a day
It’s alright to finish up your sentence
You talk all the same
Pain comes in stages if we don’t make it
Nothing changes

Now the violence sleeps inside
Abandoned feeling for just a piece of mind
It’s the reason why your teething side frustrates me

Now the violence sleeps inside
Abandoned feeling for just a piece of mind
It’s the reason why your teething side irates me

Paint The Silence – South

Taken from their debut album From Here On In

Never get bored hearing this song, and no we can’t paint our silence black, definitely not.

The High Fidelity Game pt.1

Posted in Pikiran Malam on April 15, 2008 by David Wahyu Hidayat

*This post was originally published in my old blog. I guess, it won’t hurt anyone if I publish it again, since I’m kinda in a daydreaming mode ;p

Rob Flemming did it, Barry did it, Dick did it. So, let’s have it!!!

My top 5 dream jobs:

1. Guitar player in one of England’s renowned indie band

Why: Get a chance to play your own songs in front of your fans, having your childhood heroes like Ian Brown and Noel Gallagher as your fans, get a chance to tour all around the world, free rider, groupies, and the prospect of knocking Britney Spears from the Nr. 1 spot.

2. Football Player in Liverpool Football Club

Why: The joyful feeling to play in front of the kop, having Steven Gerrard as your team mate, get a chance to play in Wembley stadium in FA Cup final, have the opportunity to trick John Terry while scoring your best goal ever, beat Bayern Munich and any other big European teams in the Champions League.

3. Music Journalist by NME, Q, or Intro

Why: Free gigs, have the chance to interview your heroes, hear the newest album of your favorite artist before anyone else, free records, can influence people to hear better music.

4. Record label or record shop owner

Why: Having your favorite artist in your own label, get every record you want to have, play your favorite record in your own shop without being protested, the fact that your job is basically finding a new music you like and selling it to other people.

5. Best Seller Writer

Why: Creating your own world in your story, let people buy and read it, plus you’ll get rich from it!

David Wahyu Hidayat

Inspired by “High Fidelity” – A novel written by Nick Hornby.

Note: Still thinking that my current job is the best I ever have, I only feel that lately I’m running out of time for anything else

Inspirasi pt.2

Posted in Pikiran Malam on April 14, 2008 by David Wahyu Hidayat

Baru-baru ini g ke Gramedia dan mendapati sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu yang mengingatkan g ke masa kecil g. Mulai April ini, Gramedia merilis Tintin kembali dalam bahasa Indonesia (dengan terjemahan yang sedikit beda waktu g baca dulu, sekarang Snowy diterjemahkan dengan nama aslinya Milo, begitu juga dengan Thompson & Thompson yang dipertahankan sebagai Dupond & Dupont). Buat g ini adalah suatu kabar yang sangat menggembirakan, karena sudah cukup lama sebenarnya g berniat untuk mengumpulkan Tintin, karena bagi g serial komik karangan Herge itu sudah seperti sebuah institusi mini dalam kehidupan masa kecil g.

Mungkin bisa dibilang Tintin adalah inspirasi kecil untuk diri g. Harus diakui, g bukanlah fans yang freak terhadap sosok wartawan kecil Belgia itu, tapi bila ditelusuri lebih lanjut, petualangan Tintin ke negara-negara paling eksotis dan paling ujung letaknya di dunia itu, mungkin yang bertanggung jawab akan banyaknya khayalan siang bolong yang g habiskan untuk berkeinginan berada di negara – negara lain, sekedar untuk melihat dan merasakan bagaimana sebenarnya kehidupan di sana. Untungnya, g sudah pernah memperoleh beberapa kesempatan ke negara yang berada di khayalan siang bolong itu, apakah itu sewaktu masa studi g, atau dalam lingkup pekerjaan g.

Entah apa yang dibaca anak kecil jaman sekarang, tapi sayang rasanya kalau sampai mereka tidak lagi mengenal Tintin. Waktu g membeli buku-buku itu, ada seorang bapak setengah baya yang tersenyum melihat tumpukan komik Tintin yang masih bersih berkilap, sepertinya di benaknya tertera pikiran “Wah, ini bacaan g waktu masih kecil nih”. Dia lalu menatap anaknya, dengan harapan bocah kesayangannya itu mau menaruh perhatian terhadap jambul Tintin dan petualangannya, tapi sayangnya si anak langsung melengos ke arah komik-komik Manga yang bertebaran di sudut.

Tidak ada salahnya memang dengan Manga, komik kan bertugas menghibur, mungkin saja generasi sekarang lebih terinspirasikan oleh Manga daripada Tintin. Tapi, mudah-mudahan bisa terwujud, g pingin anak g nantinya paling tidak pernah baca Tintin sekali. Kebayang dia nantinya baca Tintin, sambil dengerin The Beatles. Kalau dia sudah bisa mendapatkan 2 hal itu dari g, rasanya paling tidak dia tidak akan punya lubang kultural yang besar, siapa tahu saja nantinya dia bisa jadi wartawan handal dan penjelajah dunia sekaligus menghibur orang dengan nada – nada pop jenius. Hah, g bisa ketawa sendiri nulis ini, karena sepertinya ini lebih ke obsesi g yang tidak pernah tersampaikan ;p.

Kembali ke soal inspirasi, tadi malam, dalam sebuah perjalanan menyusuri Rasuna-Menteng, g bertanya mengenai hal inspirasi ini kepada seorang teman. “Lo pernah punya tokoh Indonesia yang belakangan ini jadi inspirasi lo ga? Dalam segala bidang?”. Dan dia pun sama seperti g, tidak bisa mengingat satu nama pun yang bisa menjadi inspirasi bagi dirinya. G tidak mau membangkitkan atau bermaksud apapun lewat tulisan ini, tapi bila untuk diri g sendiri, satu-satunya orang Indonesia yang bisa g ingat untuk dijadikan inspirasi adalah Soe Hok Gie, maka ada sesuatu signifikan yang tidak benar yang kita alami atau? Atau mungkin ini lebih ke pandangan pribadi g?

Kita akan mengadakan pemilu tahun depan. Dan g bertekad, seperti juga di Pilkada Jakarta kemarin, g akan pergi lagi ke bilik pencoblosan di hari Pemilu itu dilaksanakan, terlepas dari ada tidaknya tokoh yang menginspirasikan g sebagai bangsa bukan secara golongan, ras, agama, dan daerah tertentu. Karena mencoblos di pemilu adalah pilihan hati nurani g sebagai orang yang terlahir di negara ini, terserah kalian mau mencap g sebagai orang naif atau tidak. Tapi dengan memilih, berarti g peduli. Daripada memilih untuk tidak mencoblos, tapi pada akhirnya ngedumel kiri-kanan. G berharap, akan ada seseorang tokoh yang bisa menginspirasikan bangsa ini, seperti seorang Tintin menginspirasikan seorang anak kecil. Seorang tokoh yang bisa memukau kita sebagai seorang Indonesia sejati. Ia tidak peduli akan kepentingan agama, ras, suku dan golongan tertentu. Yang ia pedulikan hanyalah bangsa yang bernama Indonesia. Tapi sekuat apapun g berharap, sepertinya impian ini tidak akan terwujud tahun depan, kecuali ada sebuah keajaiban terjadi. Di sisi lain, keajaiban tidak terjadi dengan sendirinya, itu membutuhkan sebuah karya dan kerja keras, sampai tahun depan dan bila tidak 2009, masih akan banyak hari lagi yang akan kita habiskan untuk membuat sebuah keajaiban. Sampai hal itu terjadi, g rasa kita semua masih dapat dan tidak boleh berhenti untuk berharap.

David Wahyu Hidayat

Weather To Fly

Posted in Last Song Syndrome on April 12, 2008 by David Wahyu Hidayat

Are we having the time of our lives?

Are we coming across clear?

Are we coming across fine?

Are we part of the plan here?

We had the drive and the time on our hands

One little room and the biggest of plans

The days were shapping up frosty and bright

Perfect weather to fly

Perfect weather to fly

Pounding the streets

Where my father’s feet still ring room from the walls

We’d sing in the doorways

Or bicker and row

Just figuring how we were wired inside

Perfect weather to fly

Perfect weather to fly

So in looking the to stray

From the line we decided instead

We should pull at the thread

That was stiching us into this tapestry vile

And why wouldn’t you try

Perfect weather to fly

Perfect weather to fly

Weather To Fly – Elbow

Taken from their latest album The Seldom Seen Kid

It’s the perfect song, it gives you the perfect mood in this perfect weather ;p

Inspirasi

Posted in Pikiran Malam on April 12, 2008 by David Wahyu Hidayat

G baru aja balik dari SG 2 hari yang lalu. Kira-kira sudah 16 tahun berlalu, sejak g terakhir kali menginjakkan kaki di negeri itu. Tapi sepertinya semuanya tetap eksis seperti yang ada di ingatan g waktu itu. Rapi, teratur, seakan sebuah tempat yang menyenangkan untuk hidup. Tapi di sini g kembali, di Jakarta yang semrawut, berantakan, tapi lo tidak bisa lepas untuk bilang ini adalah tempat yang menyenangkan untuk hidup. Bahkan mungkin tempat yang lebih menyenangkan dari SG.

Sebagai seseorang yang hidup di generasi yang boleh menikmati kenistaan kehidupan modern abad 21, terlepas dari tempat di mana kita berada, entah itu di SG, JKT, DO, kita atau paling tidak g, takkan bisa lagi melarikan diri dari jaringan internet yang sudah mengikat kita. Hidup kita terstruktur berdasarkan itu, bangun pagi, ke kantor, atau malah mungkin sebelum ke kantor, hal yang pertama dilakukan adalah mengecek e-mail, lalu pesan-pesan di segala jaringan sosial maya kita, kemudian blog pribadi kita, lalu berita-berita terbaru dari manca negara ataupun nasional, dan bila ada waktu sedikit di tengah malam mungkin video-video terbaru dari band favorit kita, di salah satu situs video sharing.

Selama berada di SG, orang – orang di tanah air sepertinya gempar dengan pemblokan situs – situs yang membatasi gaya hidup kita, g pun sebenarnya kuatir terhadap hal itu. Tapi mungkin kekhawatiran g datang atas dasar yang sedikit lebih esensial dibanding orang – orang lainnya. G seperti yang sudah disebut di paragraf sebelumnya, telah terbiasa dengan gaya hidup dunia maya yang mengiringi kehidupan ini. Bahkan dalam liburan pun, g tidak bisa lepas untuk mencari sambungan internet hanya untuk sekedar mencek satu-dua hal di sana. Bila sumber informasi itu diblok, sepertinya kita akan mundur lagi ke belakang beberapa langkah.

Sehari sebelum berangkat ke SG, g membaca artikel di salah satu surat kabar yang mewawancarai salah seorang pakar IT Indonesia. Di artikel tersebut beliau ditanya mengenai UU Informasi dan Transaksi Elektronik yang baru saja disahkan, di situ beliau mengomentari bahwa internet adalah tempat masyarakat untuk menjalankan demokrasinya. Dan menurut g, ia berkata benar. Kita sampai saat ini bebas mengutarakan pendapat kita di sana. Tapi kembali lagi, di balik setiap pendapat yang kita ajukan di sana, kita sendiri yang harus tahu kedewasaan kita dalam mengemukakannya.

Kebebasan tidak berjalan liar dan lepas dengan sendirinya. Kebebasan harus diiringi dengan kedewasaan, dan hanya itu yang bisa mengontrol diri kita dari segala hal yang tidak diinginkan. G kadang-kadang suka geleng-geleng kepala membaca komentar-komentar di blog orang-orang yang bersliweran atau bahkan di salah satu surat kabar nasional yang bisa dibaca di internet. Terkadang tidak habis pikir, mengapa kita rela membiarkan pikiran dan hati nurani kita untuk berdebat dalam suatu hal yang sering sama sekali tidak relevan. Kita harus lebih dewasa dalam menyikapi banyak hal sebagai satu bangsa. Mencoba mengerti latar belakang apa yang terjadi, dibanding langsung berkomentar dan memberikan suatu keluaran yang tidak produktif.

Mungkin kita di satu sisi, butuh seseorang yang memberikan inspirasi untuk semua kalangan dan lapisan. Melihat balik ke beberapa waktu silam, siapakah sosok terakhir yang dapat kita tampilkan sebagai sosok inspirasi bangsa ini? Apakah kalian dapat menemukannya? G paling tidak belum dapat menemukannya, apakah itu di bidang politik, musik, olahraga, dan lainnya. Ya mungkin buat g pribadi, sebagai pecinta musik ada beberapa band lokal yang menginspirasikan g, tapi sifatnya bukanlah yang dapat dijadikan inspirasi nasional.

Kita butuh inspirasi, yang menyatukan kita sebagai sebuah bangsa. Tahun lalu, ketika piala Asia digelar di sini, untuk waktu singkat kita semua memilikinya, sesaat kita semua bangga untuk menjadi seorang Bambang Pamungkas dan Ponaryo Astaman, tapi semuanya itu tidak bertahan. Dalam suatu perjalanan menaiki TransJ koridor 1, g sempat termenung sesaat waktu melewati bundaran HI. Yang ada di benak g waktu itu, kapan kita semua bisa tumpah ruah di sini, tidak mempedulikan agama, ras, suku, berpelukan satu sama lain, bangga sebagai bangsa Indonesia, karena tim nasional kita telah memenangkan piala dunia, atau mungkin piala asia, atau apapun yang dapat mengindetifikasikan kita sebagai satu bangsa. G ragu ini akan terjadi dalam waktu dekat. Tapi kita butuh sebuah inspirasi. Kapan terakhir kali seorang tokoh politik menginspirasikan kita dalam skala nasional, tanpa menyertakan pesan dari golongan tertentu, yang ia pedulikan hanya kita sebagai bangsa. Sepertinya sepanjang hidup ini, g belum pernah merasakannya. Kita butuh inspirasi yang menyatukan kita, sehingga pada akhirnya kita dapat bangga berkata bahwa kita adalah orang Indonesia, bukan suku A, agama B, ras C. Kita adalah bangsa Indonesia. Bila itu telah terjadi, mungkin kita dapat berpikir dewasa, dan melangkah lebih mantap menuju masa depan.

David Wahyu Hidayat

Hari terakhir di bulan Maret

Posted in Pikiran Malam on Maret 31, 2008 by David Wahyu Hidayat

Setiap manusia melangkahkan kakinya untuk mencapai suatu tempat yang baru, meninggalkan apa yang ada di belakang. Perubahan perlu terjadi, terkadang menyenangkan terkadang menyakitkan, bahkan untuk perubahan yang perlu dilakukan. Tapi semua itu harusnya membawa kita kepada sesuatu yang lebih baik, karena hanya mereka yang tidak pernah berubah yang nantinya akan tertinggal, tidak tahu apa yang sedang terjadi di sekelilingnya.

Sebenarnya g tidak tahu harus menulis apa, sebagai tulisan pertama di blog ini. Akhir minggu lalu, g baru saja meninggalkan pekerjaan pertama g. Sebuah pekerjaan yang secara profesional sangat menyenangkan, dan membawa g ke satu tahap yang baru dalam hidup ini. Di lain sisi ada saat-saat selama g bekerja di sana, yang sama sekali tidak mau g ingat lagi. Manusia memang mahluk paling aneh di dunia, mereka mempesonakan diri kita sekaligus mengikis keidealan jiwa kita sedikit-demi sedikit tanpa kita sadari. Yah, semuanya telah berlalu, apapun yang telah terjadi di hari yang telah terlewati itu, semua hanya akan membawa g menjadi manusia yang lebih baik. Itu yang selalu g yakinin.

Seperti yang selalu terjadi setiap tahun, g selalu berkata pada diri g sendiri “Lo ga akan pernah menyadari 3 bulan pertama di sebuah tahun, karena semuanya berlalu dengan cepat. Bulan pertama yang akan lo ingat setiap tahunnya adalah April”. Dan tahun ini bukanlah waktu untuk membuat pengecualian. Tiba-tiba kita sudah berdiri di tebing waktu bulan Maret, siap jatuh ke pelukan April. Semuanya berlalu begitu cepat, dan untuk g sendiri, cepatnya semua ini bukan tanpa kesan sebenarnya. Malah boleh dibilang, 3 bulan pertama tahun ini adalah 3 bulan paling menyenangkan yang pernah g punya sejak lama. G meninggalkan pekerjaan g, dan menemukan tantangan karir baru, dan g bertemu dengan orang-orang baru, di mana bersama mereka g bisa menyalurkan inspirasi g di musik. Menyenangkan, sangat.

Tapi tidak semua orang di sekeliling g seperti itu, dan g tahu, g pun pernah merasakan hal yang sama seperti mereka, di mana semua orang terasa seperti sedang menikmati waktu terbaiknya, sedangkan kita tersungkur dalam sesuatu yang kita sendiri tidak mengerti apa maksudnya. Di saat – saat seperti itu yang ingin dilakukan adalah mendengarkan sebuah lagu dari Morrissey yang berjudul “We hate it when our friend becomes successful”, dan itu bisa menjadi mantra yang menyembuhkan kita seketika. Tentu saja, kita tidak membenci teman kita sesungguhnya, lagu itu berfungsi hanya seperti lecutan untuk memperbaiki diri sendiri, tokh pada akhirnya, kita bernasib baik atau tidak semuanya tergantung dari diri kita sendiri.

Besok, adalah hari penting buat g. Bagi orang banyak lainnya, mungkin besok hanya dikenal sebagai April Mob. Di malam terakhir bulan Maret ini, pikiran g kosong. Tidak tahu harus berbuat apa, yang g kerjakan semalaman hanyalah terjerat dalam aplikasi jejaringan sosial di internet yang g sendiri tidak tahu mengapa g getol natapin dan berkutat dengan aplikasi tersebut. Tapi gitu-gitu salah satu dari aplikasi itu yang mempertemukan g dengan orang-orang di band g sekarang, dan melalui aplikasi itu pula g jadi berkenalan dengan sebuah band lokal yang suaranya g anggap paling fenomenal saat ini dan album mereka berjudul Tragicomedy tidak putus-putus g dengar semalaman ini. Di Discman, dengarkan itu kalian pecinta MP3, Discman, sebuah alat pemutar CD! Tidak penting. Yang penting band itu bernama Polyester Embassy. Dan mereka adalah sebuah fenomena. Penyelamat hari-hari yang tidak tahu harus diapakan selain bermimpi segalanya akan indah pada waktunya. Cukup. Sepertinya tulisan pertama g di blog ini, harus diakhiri saat ini juga, sebelom arahnya lebih tidak jelas lagi. Selamat menikmati 9 bulan ke depan di tahun 2008 ini!

David Wahyu Hidayat