Kebangkitan Nasional, Reformasi dan Arti Kebebasan

100 tahun kebangkitan nasional. Bila kita benar-benar memikirkan arti “Kebangkitan Nasional” tersebut dapatkah kita mengambil esensi sesungguhnya? Apakah sebenarnya arti kebangkitan nasional? Apakah ini adalah sekedar ajang untuk menjadi nasionalis sesaat, ketika kita tiba-tiba dihadapkan kepada sesuatu yang mengkhawatirkan masa depan seperti naiknya harga bahan bakar dan krisis pangan?

Satu abad telah berakhir sejak Budi Oetomo didirikan. Suatu organisasi yang akhirnya menjadi salah satu pencetus perjuangan intelektual, sebuah perjuangan yang bukan hanya didasari oleh semangat berani mati di medan perang. Dilihat dari dampaknya, perjuangan intelektual ini, lebih berbahaya dari perjuangan fisik, karena ia menginsipirasikan dan membuat mereka yang bertahta di tampuk kekuasaan akhirnya goyah, karena kebebasan intelektual tidak dapat dikekang, ia eksis di setiap kepala, ia menancapkan sebuah ideologi baru, sebuah ideologi kebebasan bernama Indonesia.

Perayaan kebangkitan nasional tahun ini menjadi sangat istimewa, karena bukan hanya menandakan seratus tahun berdirinya Budi Oetomo, tapi juga 10 tahun sesuatu yang kita namakan sebagai reformasi. 10 tahun yang lalu, dengan semangat bertajuk Indonesia baru kita bertekad untuk lepas dari kungkungan sebuah orde baru yang menjadi kuno. Kita diijinkan untuk bermimpi, akan adanya suatu tatanan yang baru. Tapi sudahkah mimpi itu kita hidupi setelah 10 tahun berlalu? Atau kita tetap masih berada di perangkap yang sama?

Secara ekonomi makro, kita menikmati pertumbuhan yang boleh membuat iri negara-negara maju di Uni Eropa, tapi apakah dengan demikian kita sebagai bangsa telah menjadi lebih sejahtera seperti sebelumnya? Di tengah krisis energi dunia, dengan harga minyak yang menembus lebih dari 125 USD per barel, adalah hal yang sangat mudah untuk kecewa terhadap pemerintahan yang ada, karena tidak sanggup memegang janjinya untuk tidak menaikkan harga bahan bakar. Tapi pertanyaannya, adakah dari kita yang sanggup untuk tidak melakukan hal itu, bila kita berada di tampuk kekuasaan? Protes itu mudah, tapi bila kita berada di sisi lawan dari protes tersebut, tidak gampang untuk mencari jalan keluar dari semuanya.

Tulisan ini, bukanlah tulisan yang hendak pro siapapun. Tapi sebagai suatu bangsa yang merayakan 100 tahun kebangkitannya, apakah kita sudah benar-benar bangkit? Di saat kita semua harus bersatu, memikirkan apa yang terbaik bagi negara ini, kita malah saling menuding, menyalahkan mereka yang dengan sadar kita pilih untuk memimpin negeri ini. Elite politik lain menggunakan kesempatan ini, untuk menyerang lawan politiknya, tidak heran, karena tahun 2009 adalah tahun di mana kita dengan sadar akan memilih lagi siapa yang akan memimpin bangsa ini. Bila ada masa yang paling tepat untuk mengumpulkan pendukung sebanyak-banyaknya, mungkin tidak ada lagi saat yang paling tepat selain sekarang ini.

Sudah seterpuruk itukah makna kebangkitan nasional dan reformasi yang kita yakini. Untuk hal yang disebut terakhir, lihat apa yang kita alami. Kebebasan demokrasi seakan separti kebablasan untuk memihak kepada golongan tertentu. Kekerasan dilakukan di mana-mana, bukan oleh mereka yang tidak tahu mana yang baik dan benar, tapi oleh mereka yang sangat taat beragama, tidak peduli kepercayaan apa yang dipeluknya. Untuk itukah mahasiswa gugur di Semanggi dan Trisakti 10 tahun yang lalu? Ke mana perginya Indonesia yang kita impikan?

Ketika kebebasan kita rangkul sepenuhnya setelah 32 tahun terkungkung dalam korupsi kekuasaan tanpa batas, kita malah buta dengan itu. Kita tidak tahu apa yang harus kita perbuat dengannya. Kita malah menggunakan kebebasan tersebut, untuk mengukung kebebasan orang lain, karena takut kebebasan golongan, kelompok tertentu akan terancam keberadaannya. Kita lupa, kebebasan selalu harus disertai dengan akal sehat, dan pikiran matang, karena kebebasan tanpa itu, hanyalah sebuah plot untuk menjerumuskan diri sendiri ke jurang yang lebih dalam dari sebelumnya.

Lalu ke mana jalan keluar semua ini? Tulisan ini tidak akan memberi, dan tidak pernah dapat memberi jawaban. Yang jelas, kita diambang batas kekacauan yang mungkin tidak pernah kita sadari sepenuhya. Tragedi Mei 1998 ada di sana bukan untuk dilupakan, tapi untuk diperingati agar tidak terulang kembali. Jika kita sadar apa arti kebangkitan nasional, kita harus berpikir sejernih mungkin untuk keluar dari krisis yang kita hadapi sekarang.

100 tahun kebangkitan nasional dan 10 tahun reformasi hanyalah sebuah slogan, bila pada akhirnya, semua masa lalu kelam kita mengejar kita kembali. Perayaan ini semua akan menjadi sesuatu yang sia-sia bila kita kembali kepada keegoisan kita dengan melakukan anarkis di jalan atau dengan membuat keputusan yang menekan rakyat kecil. Kita sebagai rakyat, diberi kuasa untuk memilih siapa yang akan memimpin kita, mereka sebagai pemimpin mempunyai kuasa untuk ingat memberikan yang terbaik bagi tanah air yang kita cintai. Ini bukan saatnya untuk menekan satu sama lain. Ini bukan saatnya untuk mengacau. Ini bukan saatnya untuk melupakan masa lalu. Ini saatnya untuk berubah. Ini saatnya untuk melepas dogma sempit dan berpikir kebangsaan. Ini saatnya untuk bertempur secara intelektual. Ini saatnya untuk bangkit. Selamat merayakan 100 tahun kebangkitan nasional dan 10 tahun reformasi! Kembalikan harapan bernama Indonesia itu ke dalam kehidupan kita.

David Wahyu Hidayat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: