Ekspektasi = Ekspek Ekstasi

Setiap hari manusia terpicu untuk melakukan yang terbaik. Dari detik pertama ketika mata kita terbuka, kita diburu untuk mengejar kehidupan yang seakan hendak berlari dari raga yang kita tinggali. Di kala semuanya itu tidak lagi terkejar, kita jatuh dalam lembah kekecewaan, yang kadarnya berbeda untuk setiap orang. Tapi baru – baru ini, penulis tersadar akan sesuatu yang sesungguhnya membuat kita kecewa terhadap satu dan lain hal, maupun dengan kehidupan itu sendiri. Hal yang baru saja disadarinya itu bernama “Ekspektasi”. Karena hidup ini, di segala bidang yang kita jalani, pekerjaan, keluarga, pertemanan, percintaan, sampai kehidupan berbangsa adalah kehidupan mengelola ekspektasi, yang ketika semuanya tidak tercapai akan membuat diri kita kecewa. Terhadap orang lain, terhadap rekan kerja, orang yang kita cintai, kepada pemerintah dan yang terakhir, kita kecewa akan diri kita sendiri.

Lalu salahkah kita bila mempunyai ekspektasi? Tidak. Karena ekspektasi menimbulkan harapan, dan ekspektasi membuat mata kita bersinar menghadapi sebuah hari yang baru. Yang salah adalah, kita berekspektasi, tanpa memikirkan resiko dan konsekuensi dari hal itu sendiri. Karena menurut kamus pribadi penulis, ekspektasi dapat diterjemahkan dengan “ekspek eskstasi”. Di saat semua yang kita inginkan terpenuhi, kita menjadi ekstase sesaat. Hormon kebahagiaan memenuhi otak kita dengan sekejap.

Dalam kehidupan profesional, kita akan senang bila hasil kerja kita dianggap baik oleh atasan maupun pembeli jasa kita. Dalam percintaan, kita akan berbunga-bunga bila mereka yang dikasihi, membalas cinta kita seperti yang diharapkan. Dalam pertemanan, kita akan merasa selalu nyaman, bila mempunyai orang yang selalu dapat kita andalkan dalam semua situasi.

Bila tiba-tiba, ekstase itu tidak dapat lagi kita kelola dan berikan, pihak lain yang berinteraksi dengan kita akan merasa kecewa, karena mereka tidak lagi mendapatkan sesuatu yang mereka biasa dapatkan, atau mereka pikir, akan mereka selalu dapatkan tanpa syarat. Kita terlalu gila dengan ekstase sesaat itu, padahal mungkin bila hal itu tidak ada, hidup kita akan normal saja, tanpa kerikuhan dan keresahan yang didapat ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi. Di sisi lain, bila ekspektase itu selalu terpenuhi, kita dengan rakus, ingin cepat naik ke level berikutnya, meningkatkan taraf ekstase yang bisa diterima hormon kebahagiaan kita. Seringkali dalam melakukannya, seperti yang telah disebutkan di atas, kita tidak sanggup mengelola resiko dan konsukuensinya. Dan kita pun terjerembab, menunduk pilu menyesali sesuatu yang kita pikir telah terjadi dengan salah.

Kita tidak perlu berada dalam keadaan seperti itu. Yang harus kita lakukan hanyalah mengelola ekspektasi itu dengan baik, dan mengerti apa yang akan mengikutinya baik dari sisi positif maupun negatif. Sekali lagi, ekspektasi itu bukanlah sesuatu yang salah. Bila kita dapat mengaturnya, itu adalah kunci yang akan membuka mata kita bersinar menerawang silaunya mentari pagi.

David Wahyu Hidayat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: