Merayakan Kehidupan atau Kematian dan Semua Temannya

Minggu ini setahun yang lalu, Roger Federer memenangkan Wimbledon untuk keenam kalinya. Saat pertandingan itu berlangsung, g berada dalam perjalanan dari Cengkareng menuju Citos, bersama dengan saudara tertua g yang baru saja melakukan perjalanan dalam rangka mempromosikan film pertama yang diproduserinya. Itu salah satu momen yang diingat di awal Juli 2007. Tengah malam di Citos, makan di sebuah restoran cepat saji yang hampir sudah tidak dapat menyediakan apa-apa lagi untuk pengunjungnya. Pikiran g saat itu sepertinya kosong. Tidak mengkhawatirkan sesuatu dalam kehidupan, terasa terlalu berlebihan untuk mendeskripsikan keadaan diri g setahun yang lalu. G punya pekerjaan yang tidak dapat dicela sedikit pun, dan g dalam posisi yang menikmati pekerjaan tersebut. G punya persahabatan yang baru saja terjalin, dan kepala g masih selalu dihiasi dengan musik-musik yang membuat hidup g lebih berarti.

Setahun setelahnya, semuanya belum berubah, dalam arti, g masih merasa g mungkin salah satu orang yang paling beruntung di kota ini, dan untuk itu, g rasa g harus mengucap syukur. Hanya saja ada sedikit perubahan, pekerjaan g berubah, g punya lebih banyak tanggung jawab, dan harus memperhatikan lebih banyak area di banding pekerjaan sebelumnya. Kepala g masih dipenuhi dentingan musik yang mengagumkan, dan g sekarang punya sekelompok orang untuk memenuhi hasrat bermusik g. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, dalam bahasa Coldplay semuanya Viva La Vida!

Ketika mendengarkan album tersebut di jalanan Singapura untuk pertama kalinya, semuanya yang berada di sekitar universum g, seperti menemukan artinya, terjalin sebagai sesuatu yang mengagumkan. Dan herannya, g masih seringkali tidak mengerti mengapa g bisa dalam posisi g sekarang ini, dan mengeluh tentang hal-hal kecil dalam kehidupan yang sebenarnya tidak harus dikhawatirkan. Sepertinya ketika kita bekerja cukup keras untuk mencapai tujuan yang kita kehendaki, semua yang akan datang setelahnya akan terjadi dengan sendirinya.

Akhir – akhir ini g sering berpikir, apa yang mendefinisikan arti kebesaran seseorang? Apakah seseorang perlu menorehkan namanya dalam sejarah, seperti gol tunggal seorang Fernando Torres yang membawa Spanyol meraih gelar yang mereka impikan sejak tahun 1964? Mungkin jawabannya adalah tidak. Dalam diri kita masing-masing, tidak peduli posisi kita di mana, kita mempunyai kebesarannya masing – masing. Yang membedakannya adalah, kita harus dapat menunjukkannya ketika waktu memerlukannya. Itu adalah definisi kebesaran seseorang, entah itu sewaktu kita diwawancara untuk suatu pekerjaan baru, menjalani ujian akhir nasional, mempresentasikan laporan projek kita kepada atasan dan pemegang saham, atau ketika kita percaya dengan sepenuh hati, kalau lagu yang kita mainkan di atas panggung adalah lagu yang terbaik yang pernah ada, karena itu adalah ekspresi jiwa kita yang memerdekakan hasrat. Di momen-momen seperti itu terletak kebesaran seorang manusia, dan masing-masing dari kita punya kesempatan untuk melakukannya.

Hidup tak lain adalah sebuah perayaan. Sebuah keyakinan akan sesuatu yang indah selalu akan terjadi di masa yang akan datang, sebuah pelepasan dari kebuntuan yang mengelilingi kita. Hidup bukanlah aksi anarkis, sesusah apapun kehidupan itu. Tidak ada sebuah kebesaran dari menjungkarbalikkan mobil instansi pemerintah dan membakarnya di jalan protokol ibukota. Tidak ada sedikit pun intelegensia yang menyertai aksi tersebut. Bila kita ingin melawan saat yang sulit ini, yang kita lakukan bukanlah aksi simbolis seperti itu. Perjuangan kita dimulai dari tempat lain, ketika kita melihat sesama kita dan membantu mereka. Ketika kita tidak hanya mencela oposisi tetapi juga berbuat sesuatu untuk memperbaikinya. Juga ketika kita menghargai satu sama lain dalam perbedaan, dan memberikan ruang gerak dalam sebuah masyarakat yang sekular. Bila kita mau, setiap hari adalah perayaan kehidupan kita. Bila kita memilih untuk membutakan akal pikiran kita, maka kita sudah terjatuh dalam jurang kematian beserta semua temannya.

David Wahyu Hidayat

* Judul tulisan ini diambil dari titel Album Coldplay terbaru “Viva La Vida or Death and All His Friends”

Track musim panas 2008, dalam urutan yang tidak beraturan:

  • Viva La Vida – Coldplay
  • Young Love – Mystery Jets
  • Falling Down (Chemical Brothers Remix) – Oasis
  • Fast Fuse – Kasabian
  • Can’t Go Back – Primal Scream
  • Mercury – Bloc Party
  • Echoes Round The Sun – Paul Weller
  • I Gotta Fire – Spiritualized
  • Sex On Fire – Kings Of Leon
  • A Punk – Vampire Weekend
  • Cassius – Foals
  • Vapour Trail (Ride’s Cover) – Sweaters
  • Bermuda – OK Karaoke
  • Weather To Fly – Elbow
  • Abyss / See You Soon – Rendyasradahnial
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: