Hari Terakhir di Bulan September

Bagi beberapa orang hari ini adalah hari biasa yang tidak berarti, penggalan lain dari waktu yang terlalu cepat berlari di hadapan kita, tidak usah terpikirkan untuk ditahan. Ia akan menghilang sebelum kita sempat menahannya. Untuk umat muslim di planet ini, hari ini, hari terakhir di bulan September adalah hari yang sangat berarti, karena hari ini adalah hari terakhir mereka menjalankan ibadah puasa, sebelum masuk merayakan hari raya Idul Fitri.

Untuk mereka yang tinggal di ibukota ini, hari-hari ini adalah rentangan waktu yang paling menyenangkan, karena untuk seminggu lamanya, atau dengan sedikit keberuntungan mungkin dua minggu, jalanan Jakarta menjadi lenggang, tanpa desakan kendaraan bermotor yang biasanya tiap hari berkelahi memperebutkan tempat paling menguntungkan untuk mencapai tujuannya masing-masing. Untuk beberapa orang waktu ini adalah untuk memaafkan, dari segala kesalahan yang entah disengaja maupun tidak. Waktu untuk berkonsiliasi terhadap sesuatu yang mungkin saja sudah tidak dapat diselamatkan lagi, dan setelahnya tanpa mempedulikan yang telah berlalu, segalanya akan berubah.

Hari terakhir di bulan September ini, bagi diri ini hanya merupakan sebuah rutinitas lain terhadap sumbangan jerih payahnya terhadap denyut perekonomian negara ini. Mungkin hanya segelintiran saja yang tetap bekerja di hari-hari seperti ini, walaupun tanpa disadari sendiri, mungkin jumlahnya lebih banyak dari yang diperkirakan. Salut kepada mereka yang akan merayakan ibadahnya tapi masih tetap bekerja dengan penuh dedikasi sampai jauh melewati jam kerja normal.

Untungnya, di tempat diri ini bekerja, semuanya berlangsung lancar tanpa kejutan berarti. Pekerjaan terakhir selesai menjelang jam buka puasa, dan diri ini menjadi salah satu dari orang terakhir yang meninggalkan tempat mencari nafkah tersebut. Kepala sudah siap untuk istirahat dua hari libur nasional sebelum kembali lagi ke rutinitas. Rasanya semua orang memerlukan hal itu, bahkan pekerja yang paling berdedikasi sekalipun.

Dari gedung perkantoran yang terletak di perbatasan Jakarta Pusat dan Utara, diri ini meluncur menuju rumah yang terletak di sebelah selatan Jakarta. Perjalanan menembus ibukota ini pun dimulai. Entah kenapa, diri ini mengambil inisiatif untuk merubah rute perjalanan pulangnya. Ia melewati lapangan Banteng, melintasi Katedral dan mesjid Istiqlal, gedung sekretariat negara, dan Istana Merdeka yang terlihat bisu menerawang ke arah Monas, terus menuju Thamrin dan Sudirman.

Sore itu, Jakarta menampilkan wajahnya yang lain. Aneh rasanya, melihat Jakarta seperti itu. Aneh sekaligus nyaman menyenangkan. Karena meskipun ada kendaraan lain berlalu – lalang, suasana terkesan terlalu sunyi untuk ukuran kampung terbesar di negara tercinta ini. Tidak ada kebisingan yang biasanya selalu senantiasa menyertai kuping kita. Momen seperti ini, yang selalu membuat diri ini mencintai Jakarta, sebagaimanapun berantakannya kota ini. Karena sebenarnya di saat-saat tertentu seperti hari ini, Jakarta dapat berubah menjadi sesuatu yang menenangkan.

Di bulan ini pula, diri ini menembus digit puluhan ketiga dalam kehidupan seorang manusia. Sebelumnya jauh ketika masih berumur belasan bahkan 20-an, membayangkan diri berumur 30 adalah sesuatu bayangan yang menakutkan, di mana masa muda telah hilang untuk selamanya tertelan waktu. Tapi ketika akhirnya mencapai waktu tersebut, yang ada hanyalah perasaan bersyukur telah mengalami banyak hal berharga dalam kehidupan. Memang kemudaan itu tidak akan pernah kembali lagi, tetapi paling tidak jiwa ini masih tetap jiwa yang sama, yang terperangkap di dalam keoptimisan tahun 90-an.

Satu hari lagi dalam kehidupan telah berlalu. Besok kesulitan yang baru dimulai, atau dari sisi lain mungkin kebahagiaan yang baru dimulai. Kita tidak pernah tahu, sebenarnya kita akan selalu tersesat di antara waktu yang menentukan kehidupan ini. Tapi keindahan dari semuanya itu adalah, ketika kita tersesat, kita sendiri yang akan menentukan arah dan tujuan langkah kehidupan kita.

David Wahyu Hidayat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: