Perokok Di Luar Pintu Rumah Sakit

Pelan-pelan ia mengehembuskan asap rokok dari mulutnya, pertama dengan tarikan yang dalam, lama-kelamaan ia tidak peduli lagi, asap rokok itu mengepul meninggalkan mulutnya yang pahit, seperti aliran kata-kata yang sudah lama ingin terucapkan tapi tidak pernah tersampaikan.

Ia terdiam termenung. Berdiri, menatap nanar melihat keluar melalui jendela yang berembun, setengah karena pendingin ruangan, setengah karena hujan yang mengguyur Jakarta sejak dini hari. Langit kelabu menggelayut menutup ibukota, sekelabu hatinya yang tidak menentu. Ia tidak tahu lagi ke mana harus melangkah. Waktu baginya telah berhenti. Ia tidak tahu lagi ke mana harus menoleh. Manusia baginya tak ada lagi yang tersisa. Semuanya menghilang, semuanya berakhir.

Tiada yang berbekas dalam alam pikirannya. Ia mencoba berpikir, apa yang telah ia perbuat sepanjang ini, namun yang muncul hanyalah bayangan kosong akan ketiadaan, akan ruangan jiwa yang tak pernah terpenuhi. Ia masih menghisap rokoknya dalam-dalam. Matanya tertuju kepada sebuah ruangan, di mana sebuah tubuh terbaring dengan damai. Tubuh itu sangat mirip dengan dirinya, minus kacamata yang hinggap di hidungnya saat ini, tanpa rambutnya yang berantakan tak terurus. Di sekelilingnya, ia mengingat, adalah orang – orang yang dekat dengan dirinya, ayah ibunya, kakak-adiknya, teman-teman terbaiknya, rekan-rekan kerjanya. Mereka semua menatap tubuh yang terbaring dengan mata terpejam. Raut muka tubuh itu tenang, tidak bergeming, senyum tipis terbersit di mukanya yang tidak lagi bergerak. Ruangan itu dipenuhi oleh suara musik yang sangat sendu.

Perokok itu mengingat, lagu yang mengalun pelan itu adalah “Asleep” dari The Smiths. Ia ingat, ia mencintai band itu lebih dari apapun yang ada di dunia ini. Ia ingat, suatu waktu yang lalu ia pernah berpesan, bila ia telah tiada, lagu itu agar dimainkan di ruangan tempat ia terakhir kali beristirahat. Pelan-pelan semua yang ada di ruangan itu membagikan kenangannya terhadap tubuh yang berbaring damai itu kepada orang-orang di sekelilingnya. Dan ia mendengar, manusia yang tidak lagi berdaya itu, dicintai oleh orang-orang di sekelilingnya. Ia mendengar, manusia itu begitu mencintai musik dalam hidupnya, dan mendedikasikan hidupnya pada musik. Ia mendengar, manusia itu terlalu adiktif terhadap pekerjaannya sehingga tidak mempedulikan keadaan kesehatannya sendirinya yang pelan-pelan memakan jiwa dan badannya. Ia mendengar, manusia itu adalah seorang teman yang menyenangkan, yang selalu berusaha untuk ada di sana bagi mereka yang memerlukannya.

Manusia itu ditatap dalam-dalam oleh sang perokok. Asapnya sudah memenuhi ruangan itu, namun mereka yang ada di sana tidak peduli, seolah asap itu tidak ada, seolah dirinya tidak eksis di sana. Makin ia menatap, makin ia menyadari kemiripannya dengan manusia yang terbaring di sana. Sampai di satu titik di mana ia yakin, kalau yang terbaring di sana adalah dirinya sendiri. Sampai ia sadar, kalau ini untuk pertama kalinya ia merokok. Ia menatapi wajah yang hadir di sana satu persatu, lalu ia tersenyum dan meninggalkan ruangan tersebut.

Di luar pintu rumah sakit, ia masih merokok. Hujan masih membahasi tanah yang ia pijak, langit Jakarta seakan tidak pernah bersahabat di hari itu. Ia meresapi semua yang baru saja ia lihat. Manusia yang mirip dengannya itu telah menjalani hidup yang mengagumkan, dan tidak ada yang salah dengan itu. Ia tersenyum, entah kenapa, lalu mematikan rokoknya, dan berjalan menuju pelukan hujan. Semuanya akan baik-baik saja.

David Wahyu Hidayat

Terinspirasi dari lagu “Smokers Outside The Hospital Doors” oleh Editors. Adakah yang menyadari kalau mereka band yang mengagumkan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: