Selamat pagi, Presiden Chang!

Sebulan lebih sudah, sejak Amerika Serikat memilih presiden kulit hitam pertamanya. Dan kita warga dunia, ikut merasakan ekstase terhadap terpilihnya Barack Obama. Pria kurus yang dicap tidak punya kemampuan untuk bertempur karena pembawaannya yang terlalu sopan dan tidak cepat marah itu, telah menginspirasikan Amerika Serikat untuk sebuah perubahan yang dapat dipercayai. Sebuah perubahan yang mengembalikan kepercayaan diri, kalau kita semua dapat merubah tatanan lama ke dalam sesuatu yang kembali memberikan harapan, termasuk menyelamatkan dunia dari krisis finansial global yang kita hadapi saat ini. Singkatnya, ia telah memberikan rakyat Amerika Serikat sebuah inspirasi.

Kita sebagai warga Indonesia, langsung atau tidak langsung ikut merasakan euforia itu. Satu euforia yang mungkin disebabkan oleh fakta bahwa Obama menghabiskan masa kecilnya di jalan – jalan ibukota negeri ini. Satu euforia yang membuat beberapa orang menuliskan di salah satu jejaringan sosial dunia maya, sebuah himbauan kepada rakyat AS untuk memilih pada tanggal 4 November silam. “To the citizens of US: Vote Today!”. Begitu kira-kira salah satu pesan yang saya baca di sana waktu itu.

Mengapa mereka peduli? Apakah Obama begitu menginspirasikan mereka? Apakah euforia yang sama akan kita miliki di bulan April dan Juli 2009 nanti, ketika kita menghadapi pemilu legislatif dan eksekutif negara tercinta ini? Atau kita hanya menjadi seorang apatis, yang berkomentar “Ah, buat apa milih, tokh ga ada perubahan yang terjadi”, lalu sepanjang 5 tahun berikutnya berkomentar betapa buruknya para pemimpin mengelola negeri ini?

Kita memperjuangkan reformasi 10 tahun yang lalu. Reformasi yang berhasil menggulingkan sebuah kekuasaan telah mengekang kebebasan kita dalam porsinya masing-masing. Lalu ketika 5 tahun yang lalu, kita melakukan pemilu, 6 tahun setelah reformasi itu diproklamirkan, kita membiarkan partai yang sama yang memerintah sepanjang 32 tahun Orde Baru, meraih suara terbanyak. Tidak adakah yang melihat ada sesuatu yang salah dengan ini?

Memang tidak bisa dipungkiri, seperti yang sudah dibahas oleh beberapa media massa akhir-akhir ini, kalau kita sedang krisis pemimpin. Seorang pemimpin dan tokoh yang mampu menyatukan negara ini tanpa melihat atau mewakili satu golongan tertentu. Pemimpin yang menginspirasikan kita, untuk menjadi bangsa yang besar kembali. Begitu banyak potensi yang kita miliki, dan adalah sebuah keanehan bila kita tidak dapat memberikan andil lebih banyak lagi kepada dunia internasional.

Kevakuman akan sosok pemimpin itu, menjadikan beberapa orang menjadi apatis untuk memilih, namun bersikap apatis bukanlah jawaban yang diperlukan bangsa ini. Dengan apatis berarti kita menghianati reformasi yang diproklamirkan 10 tahun yang lalu. Memang kita tidak akan secara instan merasakan euforia seperti rakyat Amerika Serikat mendapati seorang Obama, masih jauh jalan menuju ke sana. Tapi dengan suara yang kita berikan, kita peduli kepada negara ini. Kita menentukan apa yang akan diberikan negara ini kepada kita. Tidak ada yang lain yang bisa kita buat selain peduli terhadap tanah air kita cintai ini. Tidak ada gunanya kita berslogan nasionalis setinggi-tingginya, bila untuk memilih pun kita tidak punya kepedulian.

Di satu sisi, pernahkah kita berpikir, bila kita mempunyai seorang tokoh seperti Obama, apakah kita siap dengan hal itu? Di negara, di mana perbedaan suku, agama, ras sepertinya masih merupakan sesuatu yang mendasar dalam menjadikan hal-hal tersebut sebagai salah satu acuan untuk menilai seseorang. Obama adalah seorang kulit hitam keturunan Kenya. Nama lengkapnya adalah Barack Hussein Obama II, sebuah nama yang sama sekali tidak mengindikasikan bahwa ia adalah seorang warga Amerika Serikat, bila hanya dilihat dari sisi tersebut. Namun Amerika Serikat memilihnya menjadi presiden mereka ke 44.

Bila di tahun 2xxx, ada seorang tokoh yang mampu mempersatukan kita sebagai bangsa Indonesia, tanpa peduli dengan perbedaan ideologi, suku, agama, dan ras, yang ia pedulikan hanyalah menjadikan bangsa ini besar kembali, menjadikan Indonesia menjadi sebuah negara yang agung dan dipandang di dunia internasional, yang mengembalikan nilai-nilai esensial di kepemerintahannya dan peduli teradap nasib semua orang di tanah air ini, tanpa terkecuali, apakah kita siap menerimanya? Katakanlah dia seorang keturunan Tionghua, dengan nama Chang Chong-Chen, apakah kita mau memilihnya dan menerimanya sebagai presiden kita?

Ketika setiap saat bila ada sebuah pernikahan, pertanyaan pertama yang dilontarkan adalah dari suku manakah dia berasal, beragama apakah dia? Ketika keragaman yang dimiliki bangsa kita, pelan-pelan hendak dibunuh dengan undang-undang yang mengatasnamakan penjaga moral bangsa. Ketika kita tidak siap dengan keberadaan orang-orang homoseksual di komunitas kita, ketika HAM tidak dihargai, ketika pendidikan tidak dipedulikan, ketika kekacauan infrastruktur yang menyebabkan banjir disalahartikan sebagai bencana alam, ketika korban industri pengeboran gas yang menyebabkan luapan lumpur menenggelamkan hunian orang banyak dan mereka dibiarkan terluntang-lantung nasibnya. Ketika itu semua terjadi, dan ada seseorang yang dapat muncul menjadi seorang mesias bagi bangsa ini, namun bernama salah dan bergaris keturunan yang tidak populer, masihkah kita dapat berpaling darinya oleh karena batasan tersebut? Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah slogan bangsa yang mulia, dan pelan-pelan kita harus menanyakan kepada diri kita sendiri apakah kita benar-benar percaya padanya.

Di tahun 2xxx itu, di Lapangan Banteng, Chang Chong-Chen dengan tenang namun berapi-api menyampaikan pidato sambutan di depan anak bangsa ini setelah terpilih menjadi presiden Indonesia yang kesekian. Tua muda, laki-laki, wanita, tak peduli golongan, suku, agama, orientasi seksual, pandangan ideologi, berkumpul di sana untuk melihatnya. Tak sedikit orang yang menuturkan air matanya. Akhirnya bangsa ini mempunyai lagi sebuah tokoh yang patut dipercayai. Yang menunjukkan keberanian untuk memimpin, dan yang terpenting yang menyatukan bangsa ini untuk menjadi yang lebih baik. Pidatonya malam itu menginspirasikan semua orang yang mendengarnya langsung, maupun di layar kaca. Itu untuk pertama kalinya kita boleh percaya, kalau kita dapat melakukan sesuatu sebagai bangsa, dan harapan akan sebuah keadaan yang lebih baik kembali boleh kita kibarkan di hati masing-masing.

Masih perlu beberapa waktu sampai kita dapat mengucapkan “Selamat pagi, Presiden Chang!”. Sampai semuanya ini terjadi, masih banyak kerja keras yang harus kita lakukan sebagai bangsa. Mungkin kita tidak akan memiliki euforia yang sama dengan rakyat Amerika Serikat ketika pemilu 2009 datang, tapi itu tidak boleh menjadikan kita sebagai seorang yang apatis. Pemilu 2009 adalah pemilihan yang menentukan bagi bangsa ini, bukan pemilu Amerika Serikat 2008. Kalau kita sebegitu antusiasnya menganjurkan rakyat AS untuk memilih di bulan November kemarin, paling tidak kita melakukan hal yang sama untuk teman-teman kita setanah air. Dan tidak lupa untuk mencoblos pada pemilu 2009. Bila kita peduli untuk memilih di tahun 2009, itu adalah langkah pertama kita untuk kembali percaya kepada bangsa ini. Untuk menjadikan bangsa ini besar kembali.

David Wahyu Hidayat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: