Mereka yang melawan bisa kalah. Mereka yang tidak pernah melawan, sudah kalah

“Masa – masa yang brillian….Waktu itu masih ada televisi musik yang sesungguhnya, tidak ada nada dering, tidak ada unduhan, tidak ada pembunuhan informasi berlebihan”

Salah satu editor majalah Intro tentang tahun 90-an di Oktober 2008

Salah satu frase yang sering didengar akhir – akhir ini adalah “Mendekatkan diri kepada yang jauh, menjauhkan diri dari yang dekat”. Di waktu dan tempat di mana kita dikelilingi teknologi bernamakan aplikasi jaringan sosial, aplikasi pesan instan dan telefon selular pintar; kita menikmati akses yang sangat berlebihan terhadap band yang kita cintai, tim olahraga yang kita gilai, orang – orang terdekat kita, orang – orang yang kita rasakan pingin kita dekati, bahkan orang – orang asing yang tidak pernah kita kenal. Di satu sisi, akses tanpa batas itu membuat kita menjadi lebih pintar terhadap banyak hal, di sisi lain hal itu adalah keyataan baru yang mengerikan dan terkadang memuakkan.

Tidak ada lagi kemagisan sebuah band, di mana kita akan selalu ternganga, ketika suatu band menghasilkan sebuah suara luar angkasa yang belum pernah kita dengar sebelumnya. Karena semuanya itu dapat kita lihat di video yang bertebaran di dunia maya. Tidak ada lagi misteri yang ingin dikuak di belakang sebuah suara, karena semuanya telah terungkap di kehidupan modern ini. Tidak ada lagi rasa penasaran kita terhadap wujud seseorang dan hal – hal yang membuat orang ini menarik, karena dengan hanya sebatas beberapa klik di aplikasi jaringan sosial (hampir) semua hal tentang orang itu telah kita ketahui. Tidak ada lagi rasa keingintahuan kita terhadap seorang sahabat yang terpisah ribuan kilometer di belahan benua lain tentang apa yang mereka sedang lakukan, karena setiap 30 menit kita mendapat status terbaru tentang apa yang sedang mereka lakukan di telefon selular pintar kita.

Sebagai orang yang hidup dengan kenikmatan yang ditawarkan abad 21, kita mengalami kemudahan akses ke hampir semua hal tanpa terkecuali. Sebuah keluksusan yang tidak dialami generasi sebelumnya. Beberapa orang bahkan sudah demikian jauhnya menikmati keluksusan tersebut sehingga kehilangan dasar – dasar interaksi manusia secara konvensional. Seberapa sering kita saat ini menemukan gambar, 4 orang duduk dalam satu meja, sibuk menatap layar berukuran 480 x 320 piksel, mengetik sesuatu di papan huruf yang sangat menggelikan jauh lebih kecil dari ukuran jempol tangan manusia paling normal, berinteraksi tentang sesuatu, entah apa yang dibicarakan. Hanya saja interaksi tersebut tidak terlihat di meja mereka duduk untuk menikmati kopi yang tersedia di meja. Padahal sepertinya mereka terlihat seperti orang – orang paling dekat yang ada di planet bumi ini.

Sekarang kita melakukan reaksi sosial terhadap foto yang ada di aplikasi jaringan sosial kita, terhadap foto yang diambil sewaktu kita berkumpul tapi tidak berinteraksi sama lain. Terhadap lagu terbaik, makanan favorit, dan film terbagus yang pernah kita tonton yang dipaparkan di aplikasi tersebut, tapi mungkin tidak pernah kita utarakan ketika kita bertemu satu sama lain.

Gambaran itu pasti terjadi pada diri ini, diri kamu, diri teman kamu, pacar, suami, istri, keluarga, dan setiap orang yang bisa memiliki kenikmatan teknologi tersebut. Kita terjerat, tidak bisa terlepas darinya. Mencandu, dan ketika kita tidak mendapatkan akses tersebut, kita seperti orang kelimpungan, seperti pemadat yang akan menjual jiwanya untuk mendapatkan suntikan berikutnya.

Manusia berjuang untuk memperbaiki dirinya. Ia melakukan semua yang dianggapnya baik untuk memenuhi keinginan dasarnya dan menjadi manusia paling bahagia di dunia ini, dan mungkin keberadaan semua teknologi itu untuk beberapa orang telah menjadi bagian dari kualitas hidup yang tidak bisa dipisahkan di waktu sekarang ini.

Di sisi lain teknologi, dalam kehidupan kita di tanah air tercinta ini. Kita barus saja melaksanakan pemilu legislatif. Sebuah pesta rakyat, seharusnya. Di mana kita dapat bebas menentukan pilihan tanpa rasa takut. Tapi sepertinya, atau mungkin lebih baik dituliskan ironisnya, bagi seseorang yang menikmati segala macam akses teknologi tadi, mereka yang sudah meninggalkan televisi sebagai pusat informasi, hampir tidak ada saluran yang mendekati proporsional yang bisa diakses menjelang pemilu kemarin untuk menentukan pilihannya. Aneh. Kita mengagung-agungkan teknologi sambil berlaku kontradiktif terhadapnya.

Selanjutnya, kita sebagai bangsa gagal untuk meyakini apa yang bisa membuat kehidupan bangsa ini kembali menjadi besar. Kita sekali lagi, kembali gagal untuk bisa menggunakan bahasa kita di tempat dan waktu yang benar. Di pemilu kemarin, kita dihimbau untuk “mencontreng” sebuah kata kerja yang seharusnya asing di telinga kita sebagai orang Indonesia. Apakah sebenarnya “mencontreng”? Jika kita gagal menggunakan bahasa yang benar untuk kepentingan interaksi kita, mau ke manakah kita akan menuju?

Bahasa asing sekali lagi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sehari – hari. Kita gunakan itu untuk kehidupan profesional kita, untuk interaksi dengan mereka yang bukan dari negara ini. Tapi ketika sebuah harian nasional berbahasa Indonesia, dengan target pasar 200 juta orang yang tinggal di negeri ini, menggunakan bahasa Inggris untuk mempromosikan korannya, di manakah letak kesalahan semua ini? Ketika beberapa perusahaan gencar mensponsori lomba pencarian talen, entah itu untuk seorang artis, entah itu sebuah band, dengan mengatasnamakan pasar, mengharuskan artis-artisnya menggunakan bahasa Indonesia di lirik lagu yang mereka nyanyikan, tapi menggunakan nama produk berbahasa Inggris dan semboyan berbahasa Inggris yang ketika diterjemahkan berbunyi kira kira: “Kebebasan Berekspresi”. Di manakah letak kesalahan semuanya ini? Kita berbahasa asing untuk dianggap lebih mantap didengar, untuk menempatkan diri lebih baik di pasar. Tidakkah bahasa kita sendiri lebih baik untuk didengar dan disampaikan? Bila sebuah band menyanyikan lirik berbahasa asing, sepertinya itu dikarenakan mereka lebih nyaman untuk berekspresi dalam bahasa tersebut, dan itu tidak ada hubungannya dengan rasa nasionalis seseorang, atau peduli tidaknya seseorang terhadap pasar. Di manakah kebebasan ekspresi yang diagungkan ketika kreatifitas seseorang dibatasi.

Kita terpentok dengan segala keterbatasan ruang lingkup kita sehari – hari. Di kota megapolitan ini, kita menjumpai manusia – manusia paling ignoran di dunia dalam bentuk bus umum yang bisa berhenti semaunya tanpa pernah ditilang. Mereka yang punya hak untuk menilang, hanya tertarik terhadap mobil – mobil yang berkeliaran di jalan – jalan protokol, yang tanpa sengaja tidak pernah punya kesempatan untuk melihat rambu lalu lintas, karena terhalangi pohon rimbun yang tidak pernah dirapikan. Bahkan pengendara motor yang diisi keluarga berkepala lima, 3 di antaranya manusia di bawah umur tanpa menggunakan alat pengaman untuk berada dalam sebuah kendaraan beroda dua, tidak pernah ditegur, kalau itu akan membahayakan keselamatan mereka. Di jalan – jalan Jakarta, kita hanya belajar untuk menjadi manusia paling ignoran di dunia.

Lalu, apakah yang dapat kita lakukan untuk semuanya itu? Tokh tidak ada yang tahu. Kita terjerat dalam kehidupan modern, kita telah memilih partai/caleg/gubernur yang kita harapkan dapat membuat kehidupan kita lebih baik, tapi kita mendapati kenyataan kalau mereka yang kita pilih akan berkoalisi dengan mereka yang masuk dalam daftar nomor satu “Tidak akan kita pilih”, atau membuat kota ini menjadikan diri kita orang – orang ignoran.

Setelah semua ini, haruskah kita menyerah terhadap semuanya? Karena segala bentuk perlawanan nantinya juga akan menuju kepada kepasrahan kita terhadap sistem yang mengelilingi kita. Atau haruskah kita tenggelam dalam sebuah nostalgia, yang mengatakan “Entah mengapa, segala sesuatu terlihat lebih indah di masa lalu”?

Jawaban sebenarnya ada di diri kita masing – masing. Mau bagaimanapun teknologi dan sistem membentuk kehidupan sekitar kita, sedikit banyak, kita sendiri yang masih punya kontrol terhadap kehidupan kita sendiri. Lebih baik menentukan pilihan daripada diam dan memutihkan diri. Lebih baik memulai sesuatu, dan berusaha selalu berbahasa dengan baik dan benar daripada tenggelam dalam kehilangan identitas secara massal. Karena seperti sebuah pepatah mengatakan “Mereka yang melawan bisa kalah. Mereka yang tidak pernah melawan, sudah kalah”. Pertanyaannya, maukah kita melawan?

David Wahyu Hidayat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: