Terima kasih 2000 – 2009

Terima kasih untuk 1 Januari 2000 yang membuktikan bahwa Y2K adalah sebuah kekuatiran kosong tanpa bukti.

Terima kasih untuk Google yang membuat kita dapat menemukan jawaban yang kita cari selama ini.

Terima kasih untuk Wikipedia yang telah memberikan pengetahuan tanpa batas.

Terima kasih untuk Youtube yang memberikan penyegaran setelah televisi menghancurkan bayangan kita tentang hiburan.

Terima kasih dan benci untuk segala aplikasi jaringan sosial yang memberikan kenyataan pada sebuah kegilaan virtual.

Terima kasih dan benci untuk segala ponsel pintar yang telah mengusir semua kebosanan dan membuat kita tidak pernah berhenti bekerja.

Terima kasih untuk blog-blog yang berkeliaran di internet, yang telah membuat hari-hari kita menarik dengan informasi serius maupun setengah bercanda.

Terima kasih dan benci untuk pemutar musik digital yang menyelamatkan kita dari tata suara angkot, dan teman karaoke yang tanpa malu sedang berusaha mempopulerkan kembali “Madu & Racun”.

Terima kasih untuk Coldplay, Arctic Monkeys, The Strokes dan Bloc Party yang mengembalikan musik pada esensinya di dekade ini.

Terima kasih untuk “Kid A” karena telah mendefinisikan musik paling cerdas dengan lagu-lagu yang ada di dalamnya.

Terima kasih untuk Efek Rumah Kaca, The S.I.G.I.T & Polyester Embassy yang memberikan harapan kembali kepada musik negeri ini.

Terima kasih untuk Peter Jackson yang telah memberikan kita sebuah spektakel epik dalam trilogi Lord Of The Rings.

Terima kasih untuk Gie, 3 hari untuk selamanya dan King yang kembali memberikan arti menjadi Indonesia tanpa nasionalisme kosong.

Terima kasih untuk Zach Braff yang dengan Scrubs membuat dogma bahwa berkhayal di siang buta adalah pekerjaan mulia.

Terima kasih untuk Oskar Schell yang memberikan harapan bahwa setelah segala yang kita kenal runtuh di hadapan kita, semuanya akan baik-baik saja.

Terima kasih untuk kehadiran low cost carrier yang menghapus kekesalan akibat pesawat terlambat dengan kenangan indah pasir pantai.

Terima kasih dan benci untuk TransJakarta yang membuat kita sedikit merasa, ada juga transportasi publik yang layak untuk ibukota ini.

Terima kasih untuk Liverpool FC & keajaiban yang mereka bikin di Istanbul pada malam 25 Mei 2005.

Terima kasih karena dekade ini telah memberikan seorang Roger Federer yang mengajarkan kita bagaimana memenangkan sesuatu dengan kesempurnaan dan kelas.

Terima kasih untuk 31 Desember 2009 dan hari-hari yang telah terlewati dengan tawa dan tangis selama tahun 2000 – 2009

David Wahyu Hidayat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: