3 hari untuk selamanya…


Sekitar 3 tahun yang lalu, entah terpacu oleh apa, saya menyediakan waktu untuk menonton sebuah film lokal yang diberi judul “3 hari untuk selamanya”. Mungkin judulnya yang menampilkan sisi romantik akan keabadian sesuatu yang ideal yang memicu saya menonton film itu, mungkin juga trailer yang tak pernah henti yang ditampilkan di salah satu food court sebuah plaza dekat dengan tempat saya bekerja waktu itu yang membuat saya berhenti sejenak dan berkeinginan menonton film tersebut.

Singkat kata, tak lama sesudahnya saya menonton film tersebut, yang menceritakan tentang sebuah perjalanan kedua sepupu menuju YK, tentang pertanyaan yang takkan pernah terjawab oleh pegangan keidealan yang tak lagi eksis. Untuk orang banyak, bahkan untuk salah satu surat kabar terbesar di negara ini, film itu dikatakan hanyalah bentuk pemujaan generasi muda masa kini yang kehilangan arah dalam asap marijuana, tersesat dalam perjalanan yang seharusnya mempunyai arah yang jelas. Tapi menurut saya, itu adalah salah satu film lokal terbaik yang pernah saya tonton. Alasannya, saya tidak bisa secara pasti mengatakannya, saya hanya tahu, yang telah saya lihat adalah sesuatu yang mengesankan.

Beberapa bulan setelahnya, di hari kedua Idul Fitri, bersama kedua orang teman, kami duduk mengusir kebosanan di salah satu kafe. Dari pembicaraan yang luntang-lantung, akhirnya kami membicarakan film tersebut, dan mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan menuju kota yang sama di film tersebut. Rencana tersebut terwujud di pergantian tahun 07/08, kami bertiga ditambah seorang teman lagi melakukan perjalanan tersebut.

Sudah lama, saya tidak melakukan road trip. Ada kesan tersendiri menyusuri jalanan pulau ini menuju YK. Semuanya terasa begitu menyegarkan dan begitu melegakan, jauh dari hingar-bingar ibukota yang makin lama makin menyesakkan dan menyempitkan ruang gerak. Fakta bahwa saya melakukan perjalanan tersebut bersama 3 teman terbaik saya, menambah perasaan menyenangkan dari perjalanan itu. Sebuah perasaan yang mungkin pelan-pelan mulai hilang di tengah-tengah kesibukan masing-masing.

Mungkin yang membuat perjalanan darat terasa menyenangkan, adalah karena kita merasakannya sebagai sebuah pelarian dari rutinitas sehari-hari yang menenggelamkan dan membunuh kita pelan-pelan. Sebuah perasaan di mana, entah itu dalam 3 hari, 5 hari, atau seminggu, kita dapat terputus koneksi dengan kenyataan kehidupan kita, dan menyelami kehidupan orang lain yang kita lihat dalam perjalanan tersebut. Sebuah kehidupan yang seringkali terlihat lebih sederhana dari yang kita miliki dengan segala macam fasilitas, gadget dan daya beli, namun mereka sanggup terlihat bahagia. Mungkin yang saya lihat waktu itu hanyalah jepretan instan, mungkin juga mereka tidaklah sebahagia itu dan ingin bertukar posisi dengan saya. Mungkin.

Sekitar seminggu yang lalu, saya tiba-tiba berkeinginan untuk mendengarkan soundtrack film tersebut, lalu menonton film itu sekali lagi. Tiba-tiba saja tanpa sebab tertentu. Film itu masih tetap berkesan, seperti ketika saya tonton pertama kali, kenangan akan perjalanan yang saya lakukan sendiri pun kembali terberkas di kepala saya.

Sebenarnya saya tidak ingin menuliskan semua ini, karena semuanya terkesan seperti pengagungan akan masa lalu yang tidak bisa diulang kembali. Antara saat itu, dan saat ini telah banyak yang terjadi, keputusan yang dibuat dan tidak ditarik kembali, beberapa di antaranya membuat saya puas dengan kehidupan saya saat ini, beberapa di antaranya adalah sebuah pembelajaran akan kehidupan. Mungkin seringkali kita menyesali apabila segala sesuatunya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan dan ingini. Tapi saya selalu percaya, segala keputusan yang kita ambil, adalah yang terbaik pada saatnya, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi bila kita memilih jalan yang lain tersebut. Meskipun begitu, seringkali pula saya menganggap semua itu hanyalah retorika belaka, yang bahkan saya sendiri tidak percaya kepadanya. Tapi bila saya melihat dan mengingat lagi akan apa yang saya temui dalam perjalanan tersebut, akan apa yang saya miliki dalam diri teman-teman saya, saya selalu merasa berterima kasih terhadap kehidupan yang saya miliki.

Biarkan diri kita tersesat dalam perjalanan kita, karena tanpa itu, kita tidak pernah tahu rasanya mencari jalan yang benar. Mungkin itu inti cerita dari film itu. Mungkin seringkali kita menyangkali bahwa kita sedang tersesat. Pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja, dan kita menemukan jalan kita kembali. Mungkin benar seperti yang terlantun dalam salah satu lagu di soundtrack tersebut, yang kita harus lakukan hanyalah mempercayakan hati lebih dari yang pernah kita lalui. Pada akhirnya kita takkan lagi harus jauh melangkah. Nikmati lara ini untuk sementara saja dan serahkan kehidupan kepada masa depan. Entah itu 3 hari, atau 150 hari, atau 365 hari, yang jelas semuanya itu adalah untuk selamanya…

David Wahyu Hidayat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: