Jakarta saya benci kamu, tapi tetap dirimu tidak dapat dikhianati

Sabtu pagi, minggu ketiga Agustus 2010.Sejujurnya saya tidak ingat kapan terakhir kali saya mendapati diri saya diatas tempat tidur di kamar saya tanpa perasaan harus tergesa-gesa melarikandiri ke gedung klien yang saya sedang tangani saat ini, atas nama lembaran kertas merah bergambarkan Soekarno-Hatta. Tenang rasanya, dan sepertinya segala sesuatu terletak pada tempatnya yang benar. Setelah digerogoti terus menerus oleh kehidupan korporasi yang laknat, bahkan pada akhir pekan sekalipun, Sabtu pagi kemarin adalah sesuatu yang melegakan.

Satu-satunya yang mengusik pikiran, adalah membaca berita bahwa Aquarius PondokIndah akan tutup selamanya sebagai korban paling baru dari industri musik yang sudah terlalu penuh dengan polesan dan hampir-hampir kehilangan artinya. Tempat tersebut adalah sebuah institusi bagi saya, dan mungkin juga orang-orang lainnya seperti saya. Entah sudah berapa banyak lembaran rupiah bergantikan dengan kebahagiaan dalam bentuk piringan CD yang saya beli di sana. Saya ingat, gaji pertama dari pekerjaan pertama saya, dihabiskan di toko tersebut dengan membeli “Ox4: The Best Of Ride”. Sekarang, ritual pembawakebahagiaan itu tidak dapat dilakukan lagi di sana.

Namun, itu tidak menghalangi kelegaan yang saya alami di Sabtu kemarin. Sekitar pukul 2 siang, saya berjalan ke toko CD lokal yang terdekat dari rumah saya. Memang lokasinya berada di sebuah mal mewah di bilangan Jakarta Selatan, tapi toko tersebut mempunyai koleksi yang tidak kalah handalnya dengan Aquarius Pondok Indah, mudah-mudahan toko ini dapat bertahan selamanya. Target utama saya siang itu adalah sebuah CD dariband lokal, yang sampulnya bergambarkan jalan Sudirman yang sangat lenggang, dengan gedung-gedungnya yang bisu dan jalanannya yang tampak absurd tanpa mobil dan manusia sekalipun. Saya penasaran dengan album itu, setelah membaca propaganda maya yang bersliweran di forum-forum lokal dan aplikasi jejaringan sosial. Album itu berjudul “Ode Buat Kota” dari Bangkutaman.

Ada unsur sangat klasik dengan sampul albumitu, saya sampai tidak dapat menahan diri merobek bungkus plastik yang menutupi CD tersebut (menurut salah seorang teman saya, melakukan hal itu sebelum sampai di rumah dan menaruh CD tersebut ke pemutar musik kita, adalah perbuatan yang haram) dalam perjalanan kaki balik ke rumah saya. Sambil membaca liner notes yang mengantarkan musik di CD itu, saya tiba-tiba sudah berada di rumah. Ada perasaan gembira dan tidak sabar mendesak di dada saya.

Tidak lama sesudahnya, saya menelusuri jalanan Jakarta di Sabtu sore untuk menemui teman-teman saya. Lagu album tersebut menyebar nada-nada riang fantastis di mobil yang saya kendarai, dan seluruh album itu terdengar masuk akal. Benar-benar seperti sebuah ode buat kota, di mana kita berjuang menghirup nafas masing-masing, bertemu denganteman-teman untuk menyapa dan untuk berpisah, untuk tertawa dan berbagi cerita.Dalam setiap cerita kita, kota yang kita tinggali menjadi saksi perjalanan hidup ini, dan album itu menangkap setiap momen dengan baik.

Sehari sesudahnya, di mana mentari bersinardengan cerahnya seperti Minggu siang seharusnya, kembali saya menyusuriSudirman ditemani album itu. Anehnya, gedung-gedung yang di hari biasa terlihatseperti monster yang memakan kehidupan kita, terlihat sangat bersahabat di Minggu siang itu. Jalanan yang beberapa hari sebelumnya saya cerca setengah mati karena menggenang oleh hujan yang tidak berkesudahan, siang itu tampak menyambut setiap kendaraan tanpa harus memadat dan memperlahan lajunya.

Entah apakah itu pengaruh album yang sayadengar, atau dikarenakan saya lahir dan besar di kota ini, sehingga sejahat apapun ia mencederai jiwa ini, saya tetap mencintai kota ini. Atau mungkin, di saat-saat tertentu kita hanya harus melihat segala sesuatunya dari perspektif yang sedikit berbeda, dan semuanya akan terlihat lebih menyenangkan. Atau mungkin kita hanya harus bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini.

Akhir pekan telah habis waktu saya menulis semua ini. Terus terang saya tidak tahu, apa yang akan diberikan hari esok.Tapi biarkanlah esok datang dengan kejutan dan kesusahannya sendiri. Saat ini kita tidak perlu menguatirkannya, kesusahan hari esok biarlah kita pikirkan hari esok, saat ini, biarkan kita menikmati segala sesuatu yang masih kita miliki.

DavidWahyu Hidayat

Judul dan tulisan ini diinspirasikan oleh lagu LCD Soundystem “New York I Love You, But You’re Bringing Me Down” dan album mengagumkan Bangkutaman “Ode Buat Kota”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: