Ulasan buku: Pulang – Leila S. Chudori

Pulang

Pulang

Leila S. Chudori

KPG, 2012

Pertemuan saya dengan buku ini adalah sebuah ketidaksengajaan. Ribuan kaki di atas samudera hindia, saya terkantuk berada di sebuah pesawat pada pagi-pagi buta untuk menemui istri saya. Di depan saya tergeletak sebuah majalah Tempo yang saya beli beberapa hari sebelumnya. Untuk menikam waktu terbang di jam yang kurang manusiawi itu, saya membaca majalah tersebut. Setelah semua artikel utama saya baca, mata saya tertumbuk pada ulasan buku terbaru Leila S. Chudori berjudul “Pulang”, dan habis membaca ulasan tersebut saya bertekad untuk membeli buku sepulangnya ke Jakarta.

“Pulang” adalah sebuah novel yang luar biasa, tidak hanya bercerita tentang “perzinahan politik” dan “malpraktek sejarah” tetapi juga bercerita tentang cinta dan tentang pilihan. Tentang cinta antara seorang mahasiswa bernama Dimas Suryo dan seorang kembang kampus bernama Surti, tentang cinta Dimas Suryo dan anak perempuan bernama Lintang, tentang memilih Led Zeppelin sebagai band terhebat sepanjang masa, tentang memilih makam Oscar Wilde di Cimitiere du Père Lachaise sebagai tempat menenangkan diri, tentang manusia-manusia yang karena pilihannya, atau dalam kasus Dimas Suryo tidak memilih, harus diasingkan dari tempat kelahirannya, tapi tetap mencintai tanah airnya.

Dengan melakukan riset selama 6 tahun untuk membangun cerita, latar belakang tempat dan sejarah serta tokoh-tokoh di dalamnya, novel ini seperti sebuah fiksi yang terlalu dekat dengan sejarah. Dengan Paris Mei 1968, dengan Jakarta Mei 1998. Sekilas membacanya mengingatkan akan karya Jeffrey Eugenides “Middlesex” yang memenangkan Pullitzer tahun 2002. Eugenides juga membangun ceritanya dekat dengan realita, tetapi sebenarnya itu adalah fiksi. Tokoh-tokoh di dalam “Pulang” sangat nyata. Jika Dimas, Mas Nug, Tjai, dan Risjaf bergulat di negeri asing dan memeras otaknya sampai menemukan ide brilian untuk membentuk restoran “Tanah Air” di Paris, kita dapat merasakan dilema mereka. Ketika Dimas dengan hasrat dan gairahnya menyatakan cintanya kepada Surti, atau ketika Alam dengan semua hasratnya melepaskan cintanya kepada Lintang sampai semua kancing itu berhamburan di bawah gentingnya langitnya Jakarta di tahun 1998, semua itu digambarkan dengan tidak picisan namun dengan tutur bahasa yang memang menggambarkan perasaan masing-masing tokohnya.

Tapi yang terpenting adalah elemen untuk meluruskan “perzinahan politik” dan “malpraktek sejarah” yang terjadi di negara ini sejak September 1965. Bagi banyak orang, buku ini akan mencelikkan mata sejarah baru, membangkitkan rasa ingin tahu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu. Selain itu, buku ini akan melahirkan rasa cinta tanah air yang baru. Bahwa apapun suku, campur atau tidak campur, pandangan politik; kita semua yang lahir di I.N.D.O.N.E.S.I.A berhak menjadi warga negara dan mencintai tanah air ini. Itu tercium di dalam cerita Dimas kepada Lintang mengenai Ekalaya, dalam bau masakan menggiurkan di restoran “Tanah Air” yang digambarkan dengan sangat sempurna, dan mengapa kata reformasi begitu dekat pada dada Lintang, seperti bau tanah Karet yang begitu familiar pada hidung Dimas.

Untuk saya pribadi, buku ini mengingatkan saya akan orang-orang seperti Dimas, Mas Nug, Tjai dan Risjaf yang pernah saya temui sewaktu menjalani kuliah di Jerman. Walaupun mereka tidak pernah bercerita dengan jelas sebab akibat kenapa mereka sampai terdampar di sana, hanya segelintiran kata di sana-sini, tetapi kami para mahasiswa Indonesia merasakan kedekatan dengan mereka. Seperti seorang paman yang baru ketemu setelah belasan tahun. Dekat, dengan rasa kekeluargaannya, dengan road trip konyol ke Amsterdam berbekal rendang bikinannya, dengan “Bumi Manusia” Pramoedya yang dipinjamkannya ke saya. Saya, dan saya yakin juga semua teman-teman saya pada waktu itu tidak pernah merasa mereka berbeda dengan kami, mereka adalah bagian yang sama dari I.N.D.O.N.E.S.I.A yang kita selalu kangeni dan cintai bersama.

Sudah lama saya tidak membaca novel sebrilian “Pulang” dan saya bersyukur boleh ditemukan dengan novel ini, karena novel ini tidak hanya mengajarkan kita untuk tidak pernah melupakan sejarah tetapi juga untuk menentukan pilihan, serta mencintai orang yang kita kasihi, orang tua dan juga tanah air.

David Wahyu Hidayat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: