Kehidupan yang kita kenal selama ini telah berakhir

Musiklub

 

Sekitar tahun 2003 saya membaca sebuah artikel tentang masa depan industri musik. Artikel itu mengatakan dengan terus menurunnya penjualan fisik dari keping musik dalam format apapun, akan mengubah cara kita mengkonsumsi musik. Musik tidak lagi akan dibeli dalam bentuk CD atau mungkin vinyl, tapi dalam format digital dan jika kita melihat tren beberapa tahun terakhir ini, kehadiran iTunes dan toko musik digital lainnya mengkonfirmasi prediksi tersebut. Bagi saya, membaca artikel itu seperti membaca sebuah masa depan yang kelam, karena akan mengetahui dunia yang saya kenal selama ini, tidak akan selamanya berada. Keping CD digantikan dengan file .mp3, sampul album yang baunya seperti candu dan gambarnya kita telusuri dengan telapak tangan akan digantikan dengan file .jpg beresolusi tinggi tetapi dingin tidak bereaksi. Dunia akan berakhir, pikir saya waktu itu.

 

Minggu ini, selain musibah banjir yang mendatangi ibukota, ada musibah lain yang menghampiri orang-orang seperti saya. HMV, retailer musik, film dan video game yang memiliki 230 toko di Inggris & Irlandia, 6 di Hong Kong serta 2 di Singapura tidak dapat memperpanjang pinjamannya kepada bank, dan terpaksa harus mengadministrasikan kepentingan finansialnya kepada perusahaan auditor Deloitte. Sekitar 4000 pekerja terancam kelangsungan hidupnya. Terlebih lagi, setelah lebih dari 9 dekade sebagai ikon retailer di Inggris, institusi ini diperkirakan tidak akan bertahan. Mengapa ini mempengaruhi orang seperti saya, dan mengapa retailer seperti HMV tidak akan bertahan?

 

Kalau dipikir-pikir, di Indonesia tidak ada perwakilan HMV jadi mengapa saya harus kecewa dengan apa yang terjadi dengan mereka? Tapi kejatuhan HMV ini adalah sebuah benang merah bahwa tidak ada lagi tempat untuk toko penjual CD dengan isi yang mewakili selera di luar arus utama. Salah satu tempat saya membeli CD di ibukota, yang letaknya di salah satu mal di daerah Jakarta Selatan, selepas tahun baru melemparkan twit terakhirnya “See You Again Soon”. Tidak jelas apakah artinya mereka tutup atau renovasi, atau relokasi? Saya hanya berharap akan 2 pilihan terakhir. Karena toko tersebut telah memasok saya dengan musik-musik supersonik sejak saya kembali ke Jakarta 2005 silam, dengan album handal Tame Impala “Lonerism” sebagai pembelian terakhir saya di toko itu. Kemudian jika kita masih bisa mengingat beberapa tahun lalu Aquarius menutup tokonya di jalan Arteri Pondok Indah. Jelas sudah, bisnis penjualan musik secara fisik tidak bisa diharapkan lagi sebagai bentuk bisnis yang menguntungkan.

 

Padahal penjualan musik secara fisik di Inggris tidaklah separah yang dibayangkan, bahkan diberitakan sangat sehat. Hanya saja mereka tidak membelinya di HMV tetapi melalui toko online seperti Amazon, yang dengan aturan pajak lebih menguntungkan dapat menjual CD lebih murah. Diberitakan oleh beberapa sumber, HMV tidak cukup cekatan mengantisipasi hal ini dan menggali lobang kuburnya sendiri, terlebih dengan tidak lagi lengkapnya koleksi mereka bila dibanding dengan Amazon.

 

Secara umum tutupnya toko seperti HMV di Inggris, ataupun Aquarius ataupun Musiklub akan mencabut sebuah pengalaman berarti yang saya selalu tekuni sejak usia saya menginjak belasan tahun. Seorang teman saya membagikan artikel Empire yang mengomentari apa yang terjadi dengan HMV berjudul “The dying art of browsing”. Sejak remaja pengalaman memasuki sebuah toko CD, menyusuri rak-raknya, berharap menemukan album dari sebuah band yang mendefinisikan masa remaja adalah sebuah momen yang dapat membangkitkan orgasme tanpa unsur seks di dalamnya. Atau luapan kebahagiaan kecil yang ditimbulkan, ketika seorang yang tidak kita kenal mengambil “Definitely Maybe” beberapa kaki jaraknya dari kita yang sedang menelusuri apakah album best of Ride sudah tersedia di sana.

 

Di Inggris, mungkin selain kehilangan sebuah institusi yang telah membentuk kehidupan rakyatnya dan kekuatiran dunia retail akan persaingan dengan toko-toko online, bagi mereka yang mengkonsumsi musik secara fisik hal ini mungkin tidak akan terlalu dipusingkan. Karena mereka masih akan memiliki Rough Trade, atau pun ratusan toko-toko indie lainnya. Tapi bagi kita di negara ini, kehilangan Aquarius ataupun toko sekecil Musiklub akan sangat berarti karena penggantinya secara substansial tidak akan secepat itu dapat ditemukan atau malah menghilang sama sekali. Memang sebuah rantai toko buku hip masih menjual segelintiran CD maupun vinyl, tetapi pengalaman menyusuri rak itu tidak akan dapat digantikannya. Atau banyak juga toko-toko indie yang masih menjual musik-musik dari band indie terhebat tanah air ini, dan saya bersyukur mereka ada di sana, tetapi akses ke sebuah keping musik fisik artis internasional akan menjadi lebih susah. Beberapa orang mungkin punya akses ke vinyl entah sebagai hipster ataupun penikmat musk sejati, tetapi orang seperti saya yang mengkoleksi musik dalam bentuk CD akan menjadi kaum yang paling terpukul atas punahnya toko-toko tersebut.

 

OK, harus diakui saya pun menikmati musik dalam bentuk digital, dan punya koleksi lagu dalam bentuk digital pula yang sebagian besar saya konversi dari CD yang saya miliki. Saya bertahan beberapa lama sebagai orang terakhir yang membawa discman ke manapun saya pergi sampai akhirnya menyerah dengan pemutar musik digital, dan sejak Desember lalu ponsel pintar dengan kapasitas GB yang besar. Tapi untuk menikmati musik entah dalam format analog maupun digital, saya harus memiliki akses ke musik. Saya tidak berkeberatan membelinya, karena saya merasa sejak belasan tahun, hal itu telah menjadi balasan saya kepada para musisi yang telah membantu mendefinisikan hidup saya. Yang membuat saya jungkir balik mendengar berita ini, selain pengalaman yang terenggut itu, juga adalah bayangan akan tidak adanya akses ke musik.

 

Di dunia serba digital ini, dalam salah satu artikel yang saya baca setelah berita HMV menyebar luas, mungkin pengalaman menyusuri rak-rak itu akan digantikan dengan mengklik videoklip di Youtube, mendengarkan musik baru melalui Soundcloud ataupun berbagi ekstase akan musik melalui 8tracks seperti yang telah saya lakukan juga akhir-akhir ini. Sedangkan untuk akses, Apple Store Indonesia akhirnya menjual musik dan film yang dapat memuaskan hasrat penikmat kedua jenis karya seni tersebut. Rak-rak itu akan digantikan dengan klik, dilengkapi dengan rekomendasi dari orang-orang yang berkomentar terhadap musik yang mereka beli secara digital. Beberapa hari setelah Apple membuka akses pembelian musik kepada pengguna di Indonesia, saya menemukan sebuah album yang tidak dapat lagi saya temukan bentuk fisiknya. Saya membeli album itu dari band bernama South, berjudul “From Here On In” seharga 45.000 IDR. Kehidupan modern memang kejam, namun mungkin ini satu-satunya cara untuk tetap menjadi waras.

 

David Wahyu Hidayat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: