Archive for the Pikiran Malam Category

Kegilaan virtual dan hal-hal yang dirindukan karenanya

Posted in Pikiran Malam with tags , , , , , , , on Juni 24, 2016 by David Wahyu Hidayat

IMAG3454_1_1

Kegilaan virtual dan hal-hal yang dirindukan karenanya

 

“And nothing’s going to change the way we live/Cos’ we can always take but never give/And now that things are changing for the worse, see, it’s a crazy world we’re living in….Futures made of virtual insanity now…For useless, twisting, our new technology…” Virtual Insanity – Jamiroquai (1996)

 

Sore ini di tengah cuaca Jakarta yang lebih mirip bulan Desember dibandingkan bulan Juni, dan diperparah dengan suhu di kantor yang membuat manusia di dalamnya tidak betah menatap layar komputer yang seharusnya menjadi bagian dari pekerjaannya, pikiran saya melayang untuk sesaat. Tiba-tiba saya punya urgensi yang sangat untuk pergi ke toko rekaman musik, menelusuri raknya satu-persatu tanpa memiliki satu ide satupun, musik apa yang akan saya beli, sampai akhirnya menemukan sebuah permata dalam CD sebuah band yang sudah lama saya cari. Saya rindu akan masa-masa itu, sampai kemudian terhenyak bahwa saya tidak akan dapat mengulangnya kembali, setidaknya kecil kemungkinannya di Jakarta, karena toko CD sudah seperti sebuah dinosaurus yang hampir lenyap dari peredaran masa ini.

 

Entah apa yang Jay Kay aka Jamiroquai pikirkan waktu menulis Virtual Insanity dari album hitsnya Travelling Without Moving, 2 dekade silam. Karena judul lagu dan album itu menjadi kenyataan pada saat ini. Kita hidup dalam kegilaan virtual di mana hal-hal yang 5 tahun lalu masih terlihat lumrah, saat ini sudah menjadi barang usang yang terancam eksistensinya.

 

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah artikel di The Guardian (https://www.theguardian.com/business/2016/jun/04/sweden-cashless-society-cards-phone-apps-leading-europe), bahwa Swedia sudah sedikit lagi menjadi masyarakat di mana semua jenis pembayaran dilakukan tanpa uang kertas, dalam arti semua dilakukan secara elektronik mulai dari transaksi bank, mini market, bahkan di gereja sekalipun. Menurut artikel tersebut pembayaran tunai hanya merangkum kurang dari 2% dari seluruh pembayaran yang dilakukan di Swedia tahun lalu, dan angka tersebut akan menjadi 0.5% pada 2020.  Saya tidak bisa meramalkan kapan hal yang terjadi di Swedia dapat terjadi di Indonesia, tetapi jika melihat kenyamanan kita menggunakan segala sesuatu berbau digital (Moda transportasi berbasis aplikasi contohnya) rasanya hal itu tidak akan lama lagi.

 

Kembali ke khayalan tengah sore saya tadi. Begitu juga dengan menemukan dan menikmati musik. Pra-Internet, band adalah sekumpulan manusia setengah dewa yang sangat mistis keberadaannya. Kita tidak bisa mengira seperti apa kehidupannya, bagaimana mereka dapat menciptakan musik seperti itu. Walaupun saya belum lahir pada saat itu, sampai sekarang kita tidak pernah tahu bagaimana The Beatles dapat menciptakan Tomorrow Never Knows di tahun 1966. Musik di lagu itu bisa saja diciptakan tahun 2020. Band sekarang membuka semua rahasia mereka melalui media sosial dan sarana lainnya melalui Inernet. Sebelum Coldplay menginjakkan kakinya di pertunjukkan paruh waktu Superbowl tahun ini, kita sudah dapat melihat persiapan mereka di Youtube. Di satu sisi kita bergairah melihatnya, di satu sisi itu menghilangkan kemagisannya.

 

Begitu juga dengan majalah musik. Semenjak SMA sampai mahasiswa, majalah musik adalah satu-satunya sumber kebenaran mengenai band dan musik yang kita gilai. Kita mengkonsumsi semua kebenaran darinya seperti kita mencari kebenaran dalam kitab suci kita masing-masing. Sekarang majalah musik, bahkan yang ternama seperti NME sekalipun mengemas beritanya seperti tabloid: instan dan terkini, terkadang hanya selentingan seperti kicauan di twitter. Seakan mereka takut akan kalah dalam perlombaan pemberitaan musik dari sosial media yang memang selalu selangkah lebih maju.

 

Di majalah musik juga, sebuah album dibedah dalam bentuk ulasan. Kita digairahkan dengan segala deskripsi di dalamnya, berimajinasi akan musik yang majestik ataupun menyetujui akan sampahnya suatu musik. Jika kita setuju dengan ulasan positif di dalamnya, kita mengangkat pantat kita dari tempat tidur, pergi ke toko rekaman musik dan membeli musiknya, lalu berdansa penuh kemenangan dalam kamar yang gelap diiringi musik yang baru saja kita beli. Lalu apakah ulasan musik masih relevan di era musik streaming ini?

 

Saya pernah setengah bercanda dengan salah satu teman SMA saya baru-baru ini melalui sebuah pesan singkat, aplikasi musik streaming itu layaknya kita pergi ke sebuah acara food tasting di arena seluas GBK, di mana kita dapat mencicipi semua jenis makanan, tanpa batas waktu. Kita tidak peduli lagi makanan mana yang memang akan kita cicipi, makanan mana yang memang kita sukai dan makanan mana yang menjadi favorit kita. Kita mencobai keseluruhan makanan yang ada di sana, karena semuanya memang tersedia di hadapan kita. Dan keesokan harinya, kita dapat mengulanginya, dan esok harinya lagi, sampai dunia kiamat. Tidak ada lagi filter bernamakan selera, dan untuk itu keberadaan ulasan musik berkualitas menjadi irelevan.

 

Ah, tapi mungkin saya tidak perlu menghadapi semua ini se-skeptis itu. Saya ingat benar, saya dulu sangat anti dengan yang namanya iTunes, tapi akhirnya saya sangat menikmati membeli musik di sana (walaupun masih sangat kangen beli musik fisik di toko musik, bahkan sangat rindu like a dessert miss the rain kalau bahasanya Everything But The Girl). Sekarang pun atas nama penasaran, saya punya Spotify di ponsel pintar saya, walalupun hampir tidak pernah saya sentuh.

 

Yang jelas semua kegilaan virtual ini memberikan kita akses hampir tidak terbatas kepada banyak hal. Musik yang tidak terbatas, pilihan film yang tidak terbatas, pilihan pesan antar makanan yang tidak terbatas, dan entah apalagi yang akan dan sedang dipikirkan orang-orang jenius planet ini. Terserah bagaimana kita mau menyikapinya, apakah memeluknya dengan hangat atau menolaknya tapi kemudian menjadikan kita manusia yang obsolet keberadaannya. Modern Life Is Rubbish kalau kata Blur, tetapi satu hal yang pasti kita tidak bisa melarikan diri darinya.

 

David Wahyu Hidayat

 

Playlist saya waktu berkhayal sore tadi, dan menulis blog ini (Kemungkinan besar kalian butuh aplikasi streaming musik jika ingin mendengarnya juga :p ) :

 

  1. Virtual Insanity – Jamiroquai
  2. A Design For Life – Manic Street Preachers
  3. A Life Less Ordinary – Ash
  4. Pick A Part That’s New – Stereophonics
  5. Getting Better – Shed Seven
  6. Cum On Feel The Noize – Oasis
  7. Moving – Supergrass
  8. Alma Matters – Morrissey
  9. Picnic By The Motorway – Suede
  10. Best Days – Blur

 

 

 

Iklan

2012 Dalam Ingatan

Posted in Pikiran Malam on Desember 30, 2012 by David Wahyu Hidayat

 

2012

2012 Dalam Ingatan

 

Saya mengingat mengawali 2012 jauh di pinggiran selatan Jakarta, tetapi dekat dengan sekumpulan orang yang sangat mendefinisikan hidup saya di tahun ini dan setelahnya. Saya teringat menyaksikan mesiu yang berubah menjadi pancaran cahaya di langit Jakarta dan pekaknya menyambut tahun ini dengan gemuruh. Di samping saya adalah perempuan yang saya cintai, yang kemudian saya nikahi 7 bulan kemudian. Di sekeliling kami adalah orang-orang yang nantinya menjadi mertua serta kakak dan adik ipar saya. Saya mengingat semua itu adalah baik adanya.

 

Saya teringat memasuki bulan Februari, dengan kenyataan mengejutkan bahwa ayah saya harus menjalani operasi, untuk mengobati penyakit yang melekat pada dirinya. Saya mengingat, semua itu kami serahkan sekeluarga kepada Yang Maha Kuasa, dan saya menyadari segala sesuatu yang dapat terjadi adalah karena penyertaan-Nya.

 

Saya teringat duduk di ruangan bioskop di akhir bulan Maret, menyaksikan Iko Uwais dengan tangkasnya menghabisi para begundal di gedung yang sarat dengan gembong kriminal terlawas. Saya tersenyum, di dalam segala kesadisan film laga tersebut, karena pada akhirnya ada sesuatu yang layak dibanggakan di perfilman Indonesia, dan kita  boleh berdiri tegak sebagai warga negara pemegang paspor hijau karena “The Raid” akhirnya dikenal dunia.

 

Saya teringat bulan Mei tahun ini, adalah bulan yang istimewa. Masih terbayang dengan sangat, ketika akhirnya dapat melihat sang legenda hidup Manchester, Morrissey merobek kemejanya sambil melantunkan “I know it’s over” di bawah atap tennis indoor senayan pada 10 Mei 2012. Lima hari kemudian kenangan akan sesuatu yang memiliki pancaran legendaris saya saksikan, ketika Pure Saturday mempersembahkan album terbaru mereka “Grey” didekap oleh kemegahan Gedung Kesenian Jakarta. Saya teringat akan 19 Mei 2012 adalah hari penting bagi keluarga tunangan saya pada waktu itu, karena itu adalah hari bahagia di mana kakaknya mengikat tali pernikahan dengan pria yang dicintainya. Ayah saya yang sudah berangsur-angsur pulih dari serangkaian operasi yang harus dialaminya, pun turut berbahagia menghadiri pernikahan mereka. Kami semua mengenang Mei, dan merasa itu semua adalah penyertaan-Nya yang ajaib.

 

Saya teringat 7 Juli 2012 adalah hari terpenting dalam kehidupan saya, karena di hari tersebut saya mengikrarkan janji untuk selamanya akan hidup bersama tunangan saya dalam sebuah ikatan suami-istri. Saya teringat 22 Juli 2012 adalah sebuah hari yang menyeruak sebagai sebuah mujizat karena akhirnya dapat menyaksikan Ian Brown, John Squire, Reni dan Mani bersama ribuan orang lainnya di Singapore Indoor Stadium. Jika ada mujizat kebangkitan di era modern ini, peristiwa itu adalah hal terdekat yang pernah saya alami. Saya mensyukuri dengan sangat semua pemberian Yang Di Atas di bulan Juli, hari-hari sebelumnya dan setelahnya, walaupun setelah The Stone Roses di Singapura itu saya terkapar hampir dua minggu akibat demam berdarah. Tapi itu semua ada dalam konsep rencana-Nya yang selalu menjadi misteri bagi kita manusia, namun penuh dengan keindahan.

 

Saya teringat memasuki bulan September dan berulang tahun untuk pertama kalinya sebagai seorang suami. Saya teringat menghabiskan waktu-waktu tersebut dalam liburan di Singapura, dan mengunjungi pulau Sentosa untuk berwisata dan merupakan pertama kalinya setelah 21 tahun. Saya teringat mengakhiri bulan September, menyaksikan terbitnya mentari dengan candi borobudur yang setengah mati menunjukkan kegagahannya di tebalnya kabut pagi, dan teringat betapa agungnya Yang Maha Kuasa. Itu semua adalah hari-hari terakhir musim panas, bagaikan sebuah momen yang berkepanjangan dan tidak pernah berhenti, seperti cahaya mentari yang selalu kita rasakan kehangatan sepanjang hidup ini.

 

Lalu datanglah 20 November 2012. Saya teringat wajah kakak saya memberitakan berita itu, jelang tengah malam ketika saya baru selesai mandi. Saya teringat akan mimik muka istri saya di Skype ketika saya memberitahu kabar tersebut. Saya teringat raut muka ibu saya memegang telefon, mencoba mengkoordinasi apa yang harus dilakukan, namun tidak dapat menahan kesedihan. Saya teringat kata-kata adik saya, yang saya temui di rumah sakit menanyakan bukannya harusnya ia akan pulang ke rumah besok dengan matanya yang berkaca-kaca. Saya teringat mencium kening tubuh yang sudah tidak bernafas itu, kening yang sama yang saya kecup beberapa jam sebelumnya ketika saya pamit hendak pulang dari kamar rumah sakit itu, tanpa pernah menyadari bahwa itu akan menjadi salam terakhir saya kepadanya sebelum ia berpulang ke rumah Bapa. Saya teringat akan tanggal 21 November 2012, ketika semua kerabat orangtua saya, sanak saudara, teman-teman kami, datang tanpa henti untuk memberi penghormatan terakhir kepada ayah saya di rumah kami. Saya teringat 22 November 2012, teringat wajah-wajah orang-orang yang selalu diperhatikan ayah saya sepanjang hidupnya dan pelayanannya di gereja kami. Dan mungkin untuk pertama kalinya di samping peti ayah saya di gereja kami, saya mengerti apa artinya berduka dan menyadari betapa mengagumkannya ayah saya sebagai seorang pribadi. Saya teringat guyuran hujan deras yang mengantar kami meninggalkan Jakarta, dan mempertemukan kami dengan bukit-bukit hijau San Diego Hills, untuk mengantarkan ayah saya ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Saya teringat akan semua yang baik yang telah ia lakukan untuk ibu saya, untuk kakak saya, untuk adik saya, dan untuk saya pribadi. Saya tersenyum karena Tuhan telah begitu baik menyertai kami, dan memang segala sesuatu ada waktunya dan tiada yang kekal. Ia telah memilih waktu yang baik, dan sekarang ayah saya telah bersamaNya.

 

Saya teringat 02 Desember 2012, ketika kakak saya dalam perayaan yang sangat sederhana namun begitu indah, menikah dengan perempuan yang ia cintai. Saya teringat kehangatan dan keintiman seluruh seremoni, bagaimana mereka dipersatukan, dan tidak hanya mereka tapi kami semua sebagai keluarga baru yang dipertemukan dalam pernikahan tersebut.

 

Saya teringat 21-23 Desember 2012 menghabiskan waktu bersama teman-teman kami. Teman-teman yang kebetulan juga mengikat tali pernikahan mereka tahun ini, dan saya mengucap syukur boleh bertemu dengan orang-orang hebat seperti mereka. Saya teringat membicarakan masa depan dengan istri saya, sebuah masa depan dengan banyak ujung yang masih terbuka, sebuah tantangan yang masih harus dijawab, yang sekali lagi belum tentu dapat kami jawab sendiri-sendiri, tetapi saya tahu saya memiliki dirinya, dan dia memiliki saya, dan yang terpenting kami selalu menyerahkan apapun yang kami hadapi di bawah pimpinan Yang Maha Kuasa, dalam mengarungi derasnya waktu ini.

 

Saya mengucap syukur akan 2012, saya mengucap syukur akan teman-teman yang saya miliki, saya mengucap syukur akan pekerjaan saya, saya mengucap syukur atas artis-artis hebat yang boleh saya saksikan langsung tahun ini. Saya mengucap syukur untuk keluarga saya yang saya kasihi, saya mengucap syukur memiliki seorang istri yang begitu mengagumkan dan selalu mendampingi saya dalam momen apapun, baik itu hanya sedekat hembusan nafas, atau dipisahkan oleh ribuan kilometer dan ribuan kaki di atas laut. Saya melihat ke belakang, ke tahun 2012, dan saya melihat semuanya itu baik. Terima kasih TUHAN.

 

David Wahyu Hidayat 

Jakarta saya benci kamu, tapi tetap dirimu tidak dapat dikhianati

Posted in Pikiran Malam on Agustus 23, 2010 by David Wahyu Hidayat

Sabtu pagi, minggu ketiga Agustus 2010.Sejujurnya saya tidak ingat kapan terakhir kali saya mendapati diri saya diatas tempat tidur di kamar saya tanpa perasaan harus tergesa-gesa melarikandiri ke gedung klien yang saya sedang tangani saat ini, atas nama lembaran kertas merah bergambarkan Soekarno-Hatta. Tenang rasanya, dan sepertinya segala sesuatu terletak pada tempatnya yang benar. Setelah digerogoti terus menerus oleh kehidupan korporasi yang laknat, bahkan pada akhir pekan sekalipun, Sabtu pagi kemarin adalah sesuatu yang melegakan.

Satu-satunya yang mengusik pikiran, adalah membaca berita bahwa Aquarius PondokIndah akan tutup selamanya sebagai korban paling baru dari industri musik yang sudah terlalu penuh dengan polesan dan hampir-hampir kehilangan artinya. Tempat tersebut adalah sebuah institusi bagi saya, dan mungkin juga orang-orang lainnya seperti saya. Entah sudah berapa banyak lembaran rupiah bergantikan dengan kebahagiaan dalam bentuk piringan CD yang saya beli di sana. Saya ingat, gaji pertama dari pekerjaan pertama saya, dihabiskan di toko tersebut dengan membeli “Ox4: The Best Of Ride”. Sekarang, ritual pembawakebahagiaan itu tidak dapat dilakukan lagi di sana.

Namun, itu tidak menghalangi kelegaan yang saya alami di Sabtu kemarin. Sekitar pukul 2 siang, saya berjalan ke toko CD lokal yang terdekat dari rumah saya. Memang lokasinya berada di sebuah mal mewah di bilangan Jakarta Selatan, tapi toko tersebut mempunyai koleksi yang tidak kalah handalnya dengan Aquarius Pondok Indah, mudah-mudahan toko ini dapat bertahan selamanya. Target utama saya siang itu adalah sebuah CD dariband lokal, yang sampulnya bergambarkan jalan Sudirman yang sangat lenggang, dengan gedung-gedungnya yang bisu dan jalanannya yang tampak absurd tanpa mobil dan manusia sekalipun. Saya penasaran dengan album itu, setelah membaca propaganda maya yang bersliweran di forum-forum lokal dan aplikasi jejaringan sosial. Album itu berjudul “Ode Buat Kota” dari Bangkutaman.

Ada unsur sangat klasik dengan sampul albumitu, saya sampai tidak dapat menahan diri merobek bungkus plastik yang menutupi CD tersebut (menurut salah seorang teman saya, melakukan hal itu sebelum sampai di rumah dan menaruh CD tersebut ke pemutar musik kita, adalah perbuatan yang haram) dalam perjalanan kaki balik ke rumah saya. Sambil membaca liner notes yang mengantarkan musik di CD itu, saya tiba-tiba sudah berada di rumah. Ada perasaan gembira dan tidak sabar mendesak di dada saya.

Tidak lama sesudahnya, saya menelusuri jalanan Jakarta di Sabtu sore untuk menemui teman-teman saya. Lagu album tersebut menyebar nada-nada riang fantastis di mobil yang saya kendarai, dan seluruh album itu terdengar masuk akal. Benar-benar seperti sebuah ode buat kota, di mana kita berjuang menghirup nafas masing-masing, bertemu denganteman-teman untuk menyapa dan untuk berpisah, untuk tertawa dan berbagi cerita.Dalam setiap cerita kita, kota yang kita tinggali menjadi saksi perjalanan hidup ini, dan album itu menangkap setiap momen dengan baik.

Sehari sesudahnya, di mana mentari bersinardengan cerahnya seperti Minggu siang seharusnya, kembali saya menyusuriSudirman ditemani album itu. Anehnya, gedung-gedung yang di hari biasa terlihatseperti monster yang memakan kehidupan kita, terlihat sangat bersahabat di Minggu siang itu. Jalanan yang beberapa hari sebelumnya saya cerca setengah mati karena menggenang oleh hujan yang tidak berkesudahan, siang itu tampak menyambut setiap kendaraan tanpa harus memadat dan memperlahan lajunya.

Entah apakah itu pengaruh album yang sayadengar, atau dikarenakan saya lahir dan besar di kota ini, sehingga sejahat apapun ia mencederai jiwa ini, saya tetap mencintai kota ini. Atau mungkin, di saat-saat tertentu kita hanya harus melihat segala sesuatunya dari perspektif yang sedikit berbeda, dan semuanya akan terlihat lebih menyenangkan. Atau mungkin kita hanya harus bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini.

Akhir pekan telah habis waktu saya menulis semua ini. Terus terang saya tidak tahu, apa yang akan diberikan hari esok.Tapi biarkanlah esok datang dengan kejutan dan kesusahannya sendiri. Saat ini kita tidak perlu menguatirkannya, kesusahan hari esok biarlah kita pikirkan hari esok, saat ini, biarkan kita menikmati segala sesuatu yang masih kita miliki.

DavidWahyu Hidayat

Judul dan tulisan ini diinspirasikan oleh lagu LCD Soundystem “New York I Love You, But You’re Bringing Me Down” dan album mengagumkan Bangkutaman “Ode Buat Kota”.

3 hari untuk selamanya…

Posted in Pikiran Malam on April 2, 2010 by David Wahyu Hidayat


Sekitar 3 tahun yang lalu, entah terpacu oleh apa, saya menyediakan waktu untuk menonton sebuah film lokal yang diberi judul “3 hari untuk selamanya”. Mungkin judulnya yang menampilkan sisi romantik akan keabadian sesuatu yang ideal yang memicu saya menonton film itu, mungkin juga trailer yang tak pernah henti yang ditampilkan di salah satu food court sebuah plaza dekat dengan tempat saya bekerja waktu itu yang membuat saya berhenti sejenak dan berkeinginan menonton film tersebut.

Singkat kata, tak lama sesudahnya saya menonton film tersebut, yang menceritakan tentang sebuah perjalanan kedua sepupu menuju YK, tentang pertanyaan yang takkan pernah terjawab oleh pegangan keidealan yang tak lagi eksis. Untuk orang banyak, bahkan untuk salah satu surat kabar terbesar di negara ini, film itu dikatakan hanyalah bentuk pemujaan generasi muda masa kini yang kehilangan arah dalam asap marijuana, tersesat dalam perjalanan yang seharusnya mempunyai arah yang jelas. Tapi menurut saya, itu adalah salah satu film lokal terbaik yang pernah saya tonton. Alasannya, saya tidak bisa secara pasti mengatakannya, saya hanya tahu, yang telah saya lihat adalah sesuatu yang mengesankan.

Beberapa bulan setelahnya, di hari kedua Idul Fitri, bersama kedua orang teman, kami duduk mengusir kebosanan di salah satu kafe. Dari pembicaraan yang luntang-lantung, akhirnya kami membicarakan film tersebut, dan mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan menuju kota yang sama di film tersebut. Rencana tersebut terwujud di pergantian tahun 07/08, kami bertiga ditambah seorang teman lagi melakukan perjalanan tersebut.

Sudah lama, saya tidak melakukan road trip. Ada kesan tersendiri menyusuri jalanan pulau ini menuju YK. Semuanya terasa begitu menyegarkan dan begitu melegakan, jauh dari hingar-bingar ibukota yang makin lama makin menyesakkan dan menyempitkan ruang gerak. Fakta bahwa saya melakukan perjalanan tersebut bersama 3 teman terbaik saya, menambah perasaan menyenangkan dari perjalanan itu. Sebuah perasaan yang mungkin pelan-pelan mulai hilang di tengah-tengah kesibukan masing-masing.

Mungkin yang membuat perjalanan darat terasa menyenangkan, adalah karena kita merasakannya sebagai sebuah pelarian dari rutinitas sehari-hari yang menenggelamkan dan membunuh kita pelan-pelan. Sebuah perasaan di mana, entah itu dalam 3 hari, 5 hari, atau seminggu, kita dapat terputus koneksi dengan kenyataan kehidupan kita, dan menyelami kehidupan orang lain yang kita lihat dalam perjalanan tersebut. Sebuah kehidupan yang seringkali terlihat lebih sederhana dari yang kita miliki dengan segala macam fasilitas, gadget dan daya beli, namun mereka sanggup terlihat bahagia. Mungkin yang saya lihat waktu itu hanyalah jepretan instan, mungkin juga mereka tidaklah sebahagia itu dan ingin bertukar posisi dengan saya. Mungkin.

Sekitar seminggu yang lalu, saya tiba-tiba berkeinginan untuk mendengarkan soundtrack film tersebut, lalu menonton film itu sekali lagi. Tiba-tiba saja tanpa sebab tertentu. Film itu masih tetap berkesan, seperti ketika saya tonton pertama kali, kenangan akan perjalanan yang saya lakukan sendiri pun kembali terberkas di kepala saya.

Sebenarnya saya tidak ingin menuliskan semua ini, karena semuanya terkesan seperti pengagungan akan masa lalu yang tidak bisa diulang kembali. Antara saat itu, dan saat ini telah banyak yang terjadi, keputusan yang dibuat dan tidak ditarik kembali, beberapa di antaranya membuat saya puas dengan kehidupan saya saat ini, beberapa di antaranya adalah sebuah pembelajaran akan kehidupan. Mungkin seringkali kita menyesali apabila segala sesuatunya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan dan ingini. Tapi saya selalu percaya, segala keputusan yang kita ambil, adalah yang terbaik pada saatnya, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi bila kita memilih jalan yang lain tersebut. Meskipun begitu, seringkali pula saya menganggap semua itu hanyalah retorika belaka, yang bahkan saya sendiri tidak percaya kepadanya. Tapi bila saya melihat dan mengingat lagi akan apa yang saya temui dalam perjalanan tersebut, akan apa yang saya miliki dalam diri teman-teman saya, saya selalu merasa berterima kasih terhadap kehidupan yang saya miliki.

Biarkan diri kita tersesat dalam perjalanan kita, karena tanpa itu, kita tidak pernah tahu rasanya mencari jalan yang benar. Mungkin itu inti cerita dari film itu. Mungkin seringkali kita menyangkali bahwa kita sedang tersesat. Pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja, dan kita menemukan jalan kita kembali. Mungkin benar seperti yang terlantun dalam salah satu lagu di soundtrack tersebut, yang kita harus lakukan hanyalah mempercayakan hati lebih dari yang pernah kita lalui. Pada akhirnya kita takkan lagi harus jauh melangkah. Nikmati lara ini untuk sementara saja dan serahkan kehidupan kepada masa depan. Entah itu 3 hari, atau 150 hari, atau 365 hari, yang jelas semuanya itu adalah untuk selamanya…

David Wahyu Hidayat

Terima kasih 2000 – 2009

Posted in Pikiran Malam on Desember 17, 2009 by David Wahyu Hidayat

Terima kasih untuk 1 Januari 2000 yang membuktikan bahwa Y2K adalah sebuah kekuatiran kosong tanpa bukti.

Terima kasih untuk Google yang membuat kita dapat menemukan jawaban yang kita cari selama ini.

Terima kasih untuk Wikipedia yang telah memberikan pengetahuan tanpa batas.

Terima kasih untuk Youtube yang memberikan penyegaran setelah televisi menghancurkan bayangan kita tentang hiburan.

Terima kasih dan benci untuk segala aplikasi jaringan sosial yang memberikan kenyataan pada sebuah kegilaan virtual.

Terima kasih dan benci untuk segala ponsel pintar yang telah mengusir semua kebosanan dan membuat kita tidak pernah berhenti bekerja.

Terima kasih untuk blog-blog yang berkeliaran di internet, yang telah membuat hari-hari kita menarik dengan informasi serius maupun setengah bercanda.

Terima kasih dan benci untuk pemutar musik digital yang menyelamatkan kita dari tata suara angkot, dan teman karaoke yang tanpa malu sedang berusaha mempopulerkan kembali “Madu & Racun”.

Terima kasih untuk Coldplay, Arctic Monkeys, The Strokes dan Bloc Party yang mengembalikan musik pada esensinya di dekade ini.

Terima kasih untuk “Kid A” karena telah mendefinisikan musik paling cerdas dengan lagu-lagu yang ada di dalamnya.

Terima kasih untuk Efek Rumah Kaca, The S.I.G.I.T & Polyester Embassy yang memberikan harapan kembali kepada musik negeri ini.

Terima kasih untuk Peter Jackson yang telah memberikan kita sebuah spektakel epik dalam trilogi Lord Of The Rings.

Terima kasih untuk Gie, 3 hari untuk selamanya dan King yang kembali memberikan arti menjadi Indonesia tanpa nasionalisme kosong.

Terima kasih untuk Zach Braff yang dengan Scrubs membuat dogma bahwa berkhayal di siang buta adalah pekerjaan mulia.

Terima kasih untuk Oskar Schell yang memberikan harapan bahwa setelah segala yang kita kenal runtuh di hadapan kita, semuanya akan baik-baik saja.

Terima kasih untuk kehadiran low cost carrier yang menghapus kekesalan akibat pesawat terlambat dengan kenangan indah pasir pantai.

Terima kasih dan benci untuk TransJakarta yang membuat kita sedikit merasa, ada juga transportasi publik yang layak untuk ibukota ini.

Terima kasih untuk Liverpool FC & keajaiban yang mereka bikin di Istanbul pada malam 25 Mei 2005.

Terima kasih karena dekade ini telah memberikan seorang Roger Federer yang mengajarkan kita bagaimana memenangkan sesuatu dengan kesempurnaan dan kelas.

Terima kasih untuk 31 Desember 2009 dan hari-hari yang telah terlewati dengan tawa dan tangis selama tahun 2000 – 2009

David Wahyu Hidayat

Kamu dan saya, kita akan hidup untuk selamanya

Posted in Pikiran Malam on Agustus 29, 2009 by David Wahyu Hidayat

album

Apa arti sebuah band bagi diri kamu? Bagi sebagian orang, band hanya merupakan sebuah hiburan belaka, pemberi nada di tengah kemacetan lalu terlupakan, bahan gosip di tengah kefanaan layar kaca, pengisi akhir pekan dengan datang ke sebuah konser tanpa mengetahui lagu yang mereka bawakan. Bagi orang – orang lainnya, sebuah band lebih dari sekedar sekumpulan orang yang dapat memainkan instrumen dan menyanyikan lagu yang mencerahkan hari. Untuk orang – orang tersebut, sebuah band adalah sebuah bagian dari hidup yang tak dapat terpisahkan. Musik mereka menginspirasikan, dan pada sebuah momen dalam kehidupan, musik dari sebuah band mengubah hidup itu sendiri, memberikan pencerahan dalam hari-hari yang kita lewati, memberikan jalan keluar terhadap tantangan yang dihadapi diri ini. Band, bagi orang – orang seperti itu adalah sesuatu yang religius.

Perjumpaan kita dengan sebuah band yang memberikan arti dalam kehidupan kita, dapat berbeda-beda bentuknya. Terkadang itu datang dalam diri seorang teman yang memberikan sebuah “mixtape” dan selanjutnya mengubah selera musik kita untuk selamanya. Dalam diri orang lain, hal itu datang dari mendengarkan “soundtrack” sebuah film, lalu penasaran akan lagu yang ia dengarkan dalam sebuah skena, untuk kemudian jatuh cinta pada band tersebut. Orang lainnya menjadi religius kepada sebuah band, ketika satu dasawarsa lalu, waktu musik televisi masih merupakan musik televisi, melihat sosok sebuah band yang sejak detik pertamanya mengetahui, bahwa inilah musik yang akan mengubah kehidupannya. Tetapi apapun bentuk perjumpaan pertama kita kepada sebuah band, masing-masing dari kita tahu, kalau band yang kita pilih tersebut telah menerbitkan sebuah harapan baru dalam hati kita.

Band semacam itu menjadi nafas lain dalam kehidupan kita. Setiap saat kita berusaha untuk hidup dengannya, musik mereka telah menjadi suatu adiksi dalam kehidupan kita. Musik mereka kita dengarkan dalam perjalanan menuju tempat aktifitas kita. Di tengah kesibukan sehari-hari, kita masih menyempatkan untuk membuat sebuah “playlist” yang berisikan lagu-lagu yang mengubah kehidupan kita itu. Dalam perjalanan waktu yang tidak bisa dilawan, kita akan mempertahankan keteguhan kita terhadap orang-orang yang mempertanyakan mengapa kita masih mendengarkan musik mereka, ketika semua orang tidak ada yang peduli lagi terhadap mereka. Jawaban semuanya itu hanya satu. Manusia bisa berubah, dan pergi. Jaman bisa berganti dan mengubah hal – hal esensial dalam kehidupan kita. Tapi sesuatu telah pasti dan tidak bisa dirubah. Sesuatu yang definitif mungkin tidak pernah akan berubah untuk selamanya, apapun yang terjadi. Sesuatu itu, adalah momen di mana kita mendengarkan musik dari band yang kita cintai, dan berkata pada diri kita sendiri “Ini adalah musik yang akan mendefinisikan hidup untuk selamanya”. Untuk orang-orang yang dapat berkata seperti itu, kamu dan saya, kita semua akan hidup untuk selamanya.

David Wahyu Hidayat

Untuk semua band yang telah memberikan arti dalam kehidupan saya.

Kota (negeri) ini adalah vampir, yang ia lakukan hanyalah menghisap segala kesenangan dari diri kita

Posted in Pikiran Malam on April 23, 2009 by David Wahyu Hidayat

Situasi pertama – Pembicaraan seorang karyawan swasta dengan atasannya yang seorang ekspatriat

Ekspatriat: Sudah tahukah kamu kalau pajak bandara udara baru saja dinaikkan?

Karyawan: Wow, Benarkah? Agak sedikit menyebalkan, karena selain semakin banyaknya restoran di pintu masuk, tidak terlihat sedikitpun perbaikan di sana. Lihat saja sarana toilet umumnya. Memalukan.

Ekspatriat: Lucu juga kamu orang Indonesia, bisa bilang toilet umum di bandara Soekarno-Hatta memalukan. Mau tahu yang menurut saya memalukan? Keadaan dan pengaturan jalan di jembatan Semanggi adalah sesuatu yang memalukan untuk ukuran kota internasional seperti Jakarta.

Situasi kedua – Jakarta di sebuah malam sehabis hujan pada jam bubaran kantor

Jl. Gatot Subroto dan Jl. Sudirman macet total. Semua bentuk kendaraan bermotor tumpah ruah di sana, berjuang mencari celah mencapai tujuannya masing – masing. Pengatur lalu lintas, tidak punya resep lagi untuk mengatur jalanan ibukota, tapi masih sempat menilang pengemudi nakal yang melanggar 3in1. Bus umum seenaknya menghalangi jalan, motor karena disingkirkan ke bagian paling pinggir jalan berusaha menemukan tempat untuk tetap berpijak, pengemudi mobil dengan emosi membunyikan klakson sekencang dan selama mungkin, berharap kalau itu bisa membuka jalan di depannya.

Situasi ketiga – Laporan di media massa tentang calon legislatif yang gagal terpilih

“Siang tadi, ditemukan seorang caleg yang tewas mengenaskan. Diduga ia menghabisi dirinya sendiri dengan cara gantung diri dikarenakan tidak dapat menanggung rasa malu, setelah mengetahui dirinya tidak terpilih sebagai anggota legislatif”, demikian laporan sebuah media massa.

Situasi keempat – Siswi sebuah sekolah menengah setara SMA di Surabaya tidak diperbolehkan mengikuti UAN karena ketahuan sedang hamil tua

“Pemerintahan kota Surabaya dan pihak sekolah pusing menghadapi hal ini. Bila siswi yang bersangkutan diijinkan mengikuti UAN, ini akan membuat dilema di sekolah, karena seakan sebuah lembaga pendidikan mengijnkan muridnya melakukan perbuatan amoral”, demikian laporan sebuah media massa

Situasi kelima – Vokalis band papan atas diberitakan telah nikah siri dengan aktris cantik yang selama ini diberitakan adalah WIL-nya

“Pekan lalu, ketika dicegat dalam acara premiere film horror terbaru, mereka tidak menyanggah kalau telah nikah siri dan disaksikan hanya oleh pihak keluarga terdekat”, berita tersebut menduduki peringkat pertama untuk gosip yang paling ingin didengar pemirsa sebuah tv swasta.

Berbagai situasi di atas adalah potret kehidupan kita sehari – hari. Sebuah kehidupan yang sudah terlalu jengah. Sudah terlalu sesak, kekurangan oksigen. Kehidupan yang tidak dapat lagi bernafas benar, dan karenanya tidak dapat lagi disebut sebagai kehidupan. Sekarat. Kita sekarat, dan tidak bisa lagi diselamatkan.

Sebagai seorang profesional muda yang lahir dan tumbuh besar di ibukota ini, ia tidak dapat memungkiri dirinya sendiri. Ia selalu cinta dengan kota ini. Ia berakar di kota ini. Tapi ketika ia sudah terlalu lelah dengan pekerjannya sehari – hari, sudah terlalu penat dengan apa yang dihadapinya dalam kehidupan profesional dari Senin sampai Jumat, yang ia inginkan adalah sedikit dari ketenangan dari kota yang membesarkannya. Sedikit kedamaian, seperti ketika ia tumbuh dewasa di tanah kota ini. Tapi apa yang ia dapatkan, kekacauan satu berpaling ke kekacauan lainnya di jalanan Jakarta. Manusia menjadi ignoran, dan di mana manusia mulai tidak peduli satu sama lain, di situ ada kekacauan.

Sudah menjadi ramalan yang dipastikan 99,9999% akan terjadi, bahkan orang paling bodoh di dunia pun bisa memprediksikan, sehabis hujan besar di Jakarta, jalanan protokol kita akan macet tidak karuan. Masih bagus kalau tidak banjir. Dan yang direpotkan adalah semua orang yang tinggal di kota ini. Terjerat kembali dalam kelelahan kedua dalam satu hari setelah pekerjaannya. Seorang teman bahkan sebegitu jauhnya sampai bisa berkata “Sepertinya gue lebih stress di perjalanan dari rumah dan dari kantor, daripada waktu menjalani kerjaan gue sehari – hari”.

Di tengah kekacauan itu, sang ibukota masih berangan – angan untuk memiliki alat transportasi massa yang lebih baik bernama kereta bawah tanah. Lebih baik tidak berangan – angan ketinggian sebelum membereskan genangan air setinggi mata kaki yang membanjiri jalanan protokol kota ini setiap kali hujan datang. Di tengah kekacauan ini, mereka yang mempunyai kendaraan pribadi terutama kendaraan roda dua disalahkan. Jumlahnya ingin dibatasi. Mereka yang mengatur seakan bingung untuk menerapkan solusi yang tepat untuk mengatasi kemacetan dan banjir. Padahal kalau mereka sedikit lebih punya keberanian untuk menertibkan setiap kendaraan umum yang selalu serampangan di jalanan ibukota, dan menebarkan asap polusi, sepertinya satu hal pasti akan terjadi. Jalanan ibukota kita akan lebih lancar, polusi lebih sedikit, dan lebih banyak masyarakat mau naik kendaraan umum dan menaruh kendaraan pribadinya dengan manis di garasi masing – masing. Bereskan kendaraan umum, beri keamanan dan kenyamanan bagi penumpang dan pengguna jalan lainnya, pasti kita akan mendapatkan jalanan Jakarta lebih baik. Ide muluk hanya akan berakhir hina tanpa hasil.

Kita dikenal sebagai bangsa yang toleran, dan mungkin terlalu toleran dalam berbagai macam sudut kehidupan. Slogan “Enjoy aja” bukan hanya menjadi pesan salah satu perusahaan rokok, tapi sudah menjadi gaya hidup kita secara tidak sadar. Kita dipaksa menyerah dengan keadaan. Seberapa sering kita mendengarkan frase “Dinikmatin aja lagi, udah macet, mau diapain”. Kenyataannya kita seharusnya malu dengan itu. Macet bukanlah sesuatu yang perlu ditoleransi. Itu, seperti kata sang ekspatriat di situasi pertama adalah sesuatu yang memalukan. Sama memalukannya dengan keadaan toilet bandara udara Soekarno – Hatta yang seharusnya berfungsi menjadi halaman depan yang tertata rapi bagi bangsa asing yang hendak mengunjungi tanah air kita tercinta ini.

Keadaan toilet bandara seharusnya terlihat seperti toilet pusat perbelanjaan paling mewah di ibukota. Bila kita bisa menghitung jumlah penumpang internasional dikalikan dengan 150.000 rupiah yang dikeluarkan untuk pajak bandara, seharusnya dan ini adalah benar-benar konsekuensi logis daripada itu, toilet bandara terlihat jauh lebih bagus dari toilet mal paling luksus negeri ini. Mungkin dengan pengelolaan lebih baik dari pihak pengoperasi bandara semua itu diharapkan masih dapat terjadi.

Kita harus mengatasi masalah mental kita. Anggapan bahwa semua itu bisa ditoleransi harus diganti dengan kemauan untuk melakukan semuanya lebih baik. Sangat-sangat menyedihkan, dan diulangi teramat sangat menyedihkan mendengar berita caleg yang gantung diri dan menjadi gila ketika mengetahui dirinya tidak terpilih. Dengan segala rasa hormat yang sebesar-besarnya kepada mereka, dan perjuangan yang mereka buat dalam kampanye kemarin, tapi sepertinya simpati bukanlah kata yang tepat untuk ditujukan kepada mereka.

Kalau tujuan mereka menjadi anggota legislatif adalah untuk mendapatkan perbaikan penghasilan tanpa harus bekerja keras, mereka telah salah besar. Setiap orang di dunia akan mendapatkan upah yang seharusnya ketika mereka telah bekerja keras dan mengemban tanggung jawab yang besar. Dan tanggung jawab apalagi terhadap bangsa dan negara membutuhkan mental dan jiwa yang besar. Bukan mental dan jiwa yang tidak tahan menghadapi cobaan lalu mencari jalan pintas dengan meninggalkan dunia ini atau mengeluarkan pikiran dari keadaan tersehatnya. Kita sebagai bangsa harus merasa beruntung mereka tidak terpilih, sebab bila tidak, bagaimana mereka akan menghadapi oposisi dan berpikir jernih selama masa jabatan 5 tahun untuk selalu memberikan yang terbaik bagi negeri ini?

Lalu, seperti belum habis kita dibuat heran dengan ketidakmampuan kita menganalisa dan menentukan masalah apa yang sebenarnya esensial bagi bangsa ini, mana yang tidak, kita dibuat tercengang, terheran, diam seribu macam bahasa waktu mendengar berita seorang siswi tidak diperbolehkan mengikuti UAN hanya karena hamil. Dilema mana yang harus ditimbulkan dari situasi ini? Tidak ada dilema. Yang ada, hanyalah satu kepastian. Siswi tersebut harus mengikuti UAN. Di abad berapakah kita hidup? Bila ini adalah kondisi di mana kita hidup, maka ini adalah kenyataan yang sangat mengerikan bagi setiap orang yang hidup di negara ini.

Tidak ada pertanyaan moral dari situasi tersebut. Setiap orang pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, dan mungkin siswi itu telah melakukan kesalahan, dan bukankah sebuah institusi pendidikan seharusnya dapat mengidentifikasi ini, dan memberikan kesempatan untuk masa depannya? Bukan dengan menghancurkannya begitu saja. Bila bukan sebuah institusi pendidikan yang memberikan masa depan, siapa lagi yang dapat memberikannya? Dengan menolak sang siswi mengikuti UAN, itu sama saja kita mendorongnya ke jurang kelam bernama masa depan suram.

Moral seringkali disalahartikan. Kita sibuk dengan perbuatan amoral generasi sekarang, lalu kita membuat undang-undang untuk mengatur tata cara orang berpakaian dan berintimasi satu sama lain. Kita menjunjung tinggi moral, tapi mengabaikan hal-hal esensial lain dalam hidup manusia seperti pendidikan. Atau kita lupa kalau ada infrastruktur yang harus dibenarkan, banjir yang harus dicegah, korupsi yang harus diberantas. Mengenai korupsi, seorang pengamat asing pernah berkata demikian mengenai korupsi di Indonesia “Korupsi tidak ada hubungannya dengan moral. Korupsi terjadi ketika kekuatan individu mengalahkan kekuatan hukum di suatu tempat”. Hukum kita tidak bisa mengawasi dan memagari warganya, sehingga korupsi terjadi. Jalan raya sering menjadi saksi akan hal ini.

Sering kita berbicara tentang moral dan sopan santun. Tentang norma dan budaya timur. Tapi ke manakah semuanya itu, ketika kehidupan pribadi seseorang yang kebetulan sukses menghibur kita dengan musik yang ia mainkan, atau peran yang ia lakoni di sebuah film diekspos tanpa batas di televisi? Yang kita lakukan adalah, kita membuat kisah hidup mereka, drama kehidupan personal seseorang menjadi bahan hiburan kita. Obat bius yang melarikan diri kita dari kepenatan kehidupan megapolitan, dari kekecewaan akan kehidupan bernegara kita. Di semua pemberitaan selebritis, kita menemukan kedamaian dan ketenangan. Sungguh, kita sudah terpuruk dan tidak dapat diselamatkan.

Tidak ada lagi yang harus dikatakan. Kita semua adalah orang yang memiliki akal sehat. Semua harus berawal dari diri kita masing – masing. Kita harus berhenti untuk terlalu toleran terhadap sesuatu yang menghalangi kita untuk menjadi bangsa yang maju. Kita harus membuang pikiran muluk, dan memulai segala sesuatu dari perbuatan sederhana. Berhenti menjadi ignoran. Menfilter diri kita sendiri dari pemberitaan yang tidak berkualitas. Tidak bisa selamanya kita dibodohi terus menerus. Moral adalah penting tetapi itu bukanlah jawaban untuk menjadi besar. Yang lebih penting adalah mengenali hal-hal esensial dalam hidup ini, lalu berjuang keras untuk mendapatkannya. Dengan nilai-nilai luhur dan ketulusan. Dan bila dalam kesempatan pertama kita tidak mendapatkannya, kita harus berjuang lagi. Bila kita masih terjatuh, kita akan bangkit lalu kembali berjuang. Terus berjuang dan terus berjuang. Tanpa henti.

David Wahyu Hidayat

Judul diambil dari “Song For Clay (Disappear Here)” sebuah lagu dari Bloc Party