Jakarta saya benci kamu, tapi tetap dirimu tidak dapat dikhianati

Posted in Pikiran Malam on Agustus 23, 2010 by David Wahyu Hidayat

Sabtu pagi, minggu ketiga Agustus 2010.Sejujurnya saya tidak ingat kapan terakhir kali saya mendapati diri saya diatas tempat tidur di kamar saya tanpa perasaan harus tergesa-gesa melarikandiri ke gedung klien yang saya sedang tangani saat ini, atas nama lembaran kertas merah bergambarkan Soekarno-Hatta. Tenang rasanya, dan sepertinya segala sesuatu terletak pada tempatnya yang benar. Setelah digerogoti terus menerus oleh kehidupan korporasi yang laknat, bahkan pada akhir pekan sekalipun, Sabtu pagi kemarin adalah sesuatu yang melegakan.

Satu-satunya yang mengusik pikiran, adalah membaca berita bahwa Aquarius PondokIndah akan tutup selamanya sebagai korban paling baru dari industri musik yang sudah terlalu penuh dengan polesan dan hampir-hampir kehilangan artinya. Tempat tersebut adalah sebuah institusi bagi saya, dan mungkin juga orang-orang lainnya seperti saya. Entah sudah berapa banyak lembaran rupiah bergantikan dengan kebahagiaan dalam bentuk piringan CD yang saya beli di sana. Saya ingat, gaji pertama dari pekerjaan pertama saya, dihabiskan di toko tersebut dengan membeli “Ox4: The Best Of Ride”. Sekarang, ritual pembawakebahagiaan itu tidak dapat dilakukan lagi di sana.

Namun, itu tidak menghalangi kelegaan yang saya alami di Sabtu kemarin. Sekitar pukul 2 siang, saya berjalan ke toko CD lokal yang terdekat dari rumah saya. Memang lokasinya berada di sebuah mal mewah di bilangan Jakarta Selatan, tapi toko tersebut mempunyai koleksi yang tidak kalah handalnya dengan Aquarius Pondok Indah, mudah-mudahan toko ini dapat bertahan selamanya. Target utama saya siang itu adalah sebuah CD dariband lokal, yang sampulnya bergambarkan jalan Sudirman yang sangat lenggang, dengan gedung-gedungnya yang bisu dan jalanannya yang tampak absurd tanpa mobil dan manusia sekalipun. Saya penasaran dengan album itu, setelah membaca propaganda maya yang bersliweran di forum-forum lokal dan aplikasi jejaringan sosial. Album itu berjudul “Ode Buat Kota” dari Bangkutaman.

Ada unsur sangat klasik dengan sampul albumitu, saya sampai tidak dapat menahan diri merobek bungkus plastik yang menutupi CD tersebut (menurut salah seorang teman saya, melakukan hal itu sebelum sampai di rumah dan menaruh CD tersebut ke pemutar musik kita, adalah perbuatan yang haram) dalam perjalanan kaki balik ke rumah saya. Sambil membaca liner notes yang mengantarkan musik di CD itu, saya tiba-tiba sudah berada di rumah. Ada perasaan gembira dan tidak sabar mendesak di dada saya.

Tidak lama sesudahnya, saya menelusuri jalanan Jakarta di Sabtu sore untuk menemui teman-teman saya. Lagu album tersebut menyebar nada-nada riang fantastis di mobil yang saya kendarai, dan seluruh album itu terdengar masuk akal. Benar-benar seperti sebuah ode buat kota, di mana kita berjuang menghirup nafas masing-masing, bertemu denganteman-teman untuk menyapa dan untuk berpisah, untuk tertawa dan berbagi cerita.Dalam setiap cerita kita, kota yang kita tinggali menjadi saksi perjalanan hidup ini, dan album itu menangkap setiap momen dengan baik.

Sehari sesudahnya, di mana mentari bersinardengan cerahnya seperti Minggu siang seharusnya, kembali saya menyusuriSudirman ditemani album itu. Anehnya, gedung-gedung yang di hari biasa terlihatseperti monster yang memakan kehidupan kita, terlihat sangat bersahabat di Minggu siang itu. Jalanan yang beberapa hari sebelumnya saya cerca setengah mati karena menggenang oleh hujan yang tidak berkesudahan, siang itu tampak menyambut setiap kendaraan tanpa harus memadat dan memperlahan lajunya.

Entah apakah itu pengaruh album yang sayadengar, atau dikarenakan saya lahir dan besar di kota ini, sehingga sejahat apapun ia mencederai jiwa ini, saya tetap mencintai kota ini. Atau mungkin, di saat-saat tertentu kita hanya harus melihat segala sesuatunya dari perspektif yang sedikit berbeda, dan semuanya akan terlihat lebih menyenangkan. Atau mungkin kita hanya harus bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini.

Akhir pekan telah habis waktu saya menulis semua ini. Terus terang saya tidak tahu, apa yang akan diberikan hari esok.Tapi biarkanlah esok datang dengan kejutan dan kesusahannya sendiri. Saat ini kita tidak perlu menguatirkannya, kesusahan hari esok biarlah kita pikirkan hari esok, saat ini, biarkan kita menikmati segala sesuatu yang masih kita miliki.

DavidWahyu Hidayat

Judul dan tulisan ini diinspirasikan oleh lagu LCD Soundystem “New York I Love You, But You’re Bringing Me Down” dan album mengagumkan Bangkutaman “Ode Buat Kota”.

3 hari untuk selamanya…

Posted in Pikiran Malam on April 2, 2010 by David Wahyu Hidayat


Sekitar 3 tahun yang lalu, entah terpacu oleh apa, saya menyediakan waktu untuk menonton sebuah film lokal yang diberi judul “3 hari untuk selamanya”. Mungkin judulnya yang menampilkan sisi romantik akan keabadian sesuatu yang ideal yang memicu saya menonton film itu, mungkin juga trailer yang tak pernah henti yang ditampilkan di salah satu food court sebuah plaza dekat dengan tempat saya bekerja waktu itu yang membuat saya berhenti sejenak dan berkeinginan menonton film tersebut.

Singkat kata, tak lama sesudahnya saya menonton film tersebut, yang menceritakan tentang sebuah perjalanan kedua sepupu menuju YK, tentang pertanyaan yang takkan pernah terjawab oleh pegangan keidealan yang tak lagi eksis. Untuk orang banyak, bahkan untuk salah satu surat kabar terbesar di negara ini, film itu dikatakan hanyalah bentuk pemujaan generasi muda masa kini yang kehilangan arah dalam asap marijuana, tersesat dalam perjalanan yang seharusnya mempunyai arah yang jelas. Tapi menurut saya, itu adalah salah satu film lokal terbaik yang pernah saya tonton. Alasannya, saya tidak bisa secara pasti mengatakannya, saya hanya tahu, yang telah saya lihat adalah sesuatu yang mengesankan.

Beberapa bulan setelahnya, di hari kedua Idul Fitri, bersama kedua orang teman, kami duduk mengusir kebosanan di salah satu kafe. Dari pembicaraan yang luntang-lantung, akhirnya kami membicarakan film tersebut, dan mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan menuju kota yang sama di film tersebut. Rencana tersebut terwujud di pergantian tahun 07/08, kami bertiga ditambah seorang teman lagi melakukan perjalanan tersebut.

Sudah lama, saya tidak melakukan road trip. Ada kesan tersendiri menyusuri jalanan pulau ini menuju YK. Semuanya terasa begitu menyegarkan dan begitu melegakan, jauh dari hingar-bingar ibukota yang makin lama makin menyesakkan dan menyempitkan ruang gerak. Fakta bahwa saya melakukan perjalanan tersebut bersama 3 teman terbaik saya, menambah perasaan menyenangkan dari perjalanan itu. Sebuah perasaan yang mungkin pelan-pelan mulai hilang di tengah-tengah kesibukan masing-masing.

Mungkin yang membuat perjalanan darat terasa menyenangkan, adalah karena kita merasakannya sebagai sebuah pelarian dari rutinitas sehari-hari yang menenggelamkan dan membunuh kita pelan-pelan. Sebuah perasaan di mana, entah itu dalam 3 hari, 5 hari, atau seminggu, kita dapat terputus koneksi dengan kenyataan kehidupan kita, dan menyelami kehidupan orang lain yang kita lihat dalam perjalanan tersebut. Sebuah kehidupan yang seringkali terlihat lebih sederhana dari yang kita miliki dengan segala macam fasilitas, gadget dan daya beli, namun mereka sanggup terlihat bahagia. Mungkin yang saya lihat waktu itu hanyalah jepretan instan, mungkin juga mereka tidaklah sebahagia itu dan ingin bertukar posisi dengan saya. Mungkin.

Sekitar seminggu yang lalu, saya tiba-tiba berkeinginan untuk mendengarkan soundtrack film tersebut, lalu menonton film itu sekali lagi. Tiba-tiba saja tanpa sebab tertentu. Film itu masih tetap berkesan, seperti ketika saya tonton pertama kali, kenangan akan perjalanan yang saya lakukan sendiri pun kembali terberkas di kepala saya.

Sebenarnya saya tidak ingin menuliskan semua ini, karena semuanya terkesan seperti pengagungan akan masa lalu yang tidak bisa diulang kembali. Antara saat itu, dan saat ini telah banyak yang terjadi, keputusan yang dibuat dan tidak ditarik kembali, beberapa di antaranya membuat saya puas dengan kehidupan saya saat ini, beberapa di antaranya adalah sebuah pembelajaran akan kehidupan. Mungkin seringkali kita menyesali apabila segala sesuatunya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan dan ingini. Tapi saya selalu percaya, segala keputusan yang kita ambil, adalah yang terbaik pada saatnya, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi bila kita memilih jalan yang lain tersebut. Meskipun begitu, seringkali pula saya menganggap semua itu hanyalah retorika belaka, yang bahkan saya sendiri tidak percaya kepadanya. Tapi bila saya melihat dan mengingat lagi akan apa yang saya temui dalam perjalanan tersebut, akan apa yang saya miliki dalam diri teman-teman saya, saya selalu merasa berterima kasih terhadap kehidupan yang saya miliki.

Biarkan diri kita tersesat dalam perjalanan kita, karena tanpa itu, kita tidak pernah tahu rasanya mencari jalan yang benar. Mungkin itu inti cerita dari film itu. Mungkin seringkali kita menyangkali bahwa kita sedang tersesat. Pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja, dan kita menemukan jalan kita kembali. Mungkin benar seperti yang terlantun dalam salah satu lagu di soundtrack tersebut, yang kita harus lakukan hanyalah mempercayakan hati lebih dari yang pernah kita lalui. Pada akhirnya kita takkan lagi harus jauh melangkah. Nikmati lara ini untuk sementara saja dan serahkan kehidupan kepada masa depan. Entah itu 3 hari, atau 150 hari, atau 365 hari, yang jelas semuanya itu adalah untuk selamanya…

David Wahyu Hidayat

Terima kasih 2000 – 2009

Posted in Pikiran Malam on Desember 17, 2009 by David Wahyu Hidayat

Terima kasih untuk 1 Januari 2000 yang membuktikan bahwa Y2K adalah sebuah kekuatiran kosong tanpa bukti.

Terima kasih untuk Google yang membuat kita dapat menemukan jawaban yang kita cari selama ini.

Terima kasih untuk Wikipedia yang telah memberikan pengetahuan tanpa batas.

Terima kasih untuk Youtube yang memberikan penyegaran setelah televisi menghancurkan bayangan kita tentang hiburan.

Terima kasih dan benci untuk segala aplikasi jaringan sosial yang memberikan kenyataan pada sebuah kegilaan virtual.

Terima kasih dan benci untuk segala ponsel pintar yang telah mengusir semua kebosanan dan membuat kita tidak pernah berhenti bekerja.

Terima kasih untuk blog-blog yang berkeliaran di internet, yang telah membuat hari-hari kita menarik dengan informasi serius maupun setengah bercanda.

Terima kasih dan benci untuk pemutar musik digital yang menyelamatkan kita dari tata suara angkot, dan teman karaoke yang tanpa malu sedang berusaha mempopulerkan kembali “Madu & Racun”.

Terima kasih untuk Coldplay, Arctic Monkeys, The Strokes dan Bloc Party yang mengembalikan musik pada esensinya di dekade ini.

Terima kasih untuk “Kid A” karena telah mendefinisikan musik paling cerdas dengan lagu-lagu yang ada di dalamnya.

Terima kasih untuk Efek Rumah Kaca, The S.I.G.I.T & Polyester Embassy yang memberikan harapan kembali kepada musik negeri ini.

Terima kasih untuk Peter Jackson yang telah memberikan kita sebuah spektakel epik dalam trilogi Lord Of The Rings.

Terima kasih untuk Gie, 3 hari untuk selamanya dan King yang kembali memberikan arti menjadi Indonesia tanpa nasionalisme kosong.

Terima kasih untuk Zach Braff yang dengan Scrubs membuat dogma bahwa berkhayal di siang buta adalah pekerjaan mulia.

Terima kasih untuk Oskar Schell yang memberikan harapan bahwa setelah segala yang kita kenal runtuh di hadapan kita, semuanya akan baik-baik saja.

Terima kasih untuk kehadiran low cost carrier yang menghapus kekesalan akibat pesawat terlambat dengan kenangan indah pasir pantai.

Terima kasih dan benci untuk TransJakarta yang membuat kita sedikit merasa, ada juga transportasi publik yang layak untuk ibukota ini.

Terima kasih untuk Liverpool FC & keajaiban yang mereka bikin di Istanbul pada malam 25 Mei 2005.

Terima kasih karena dekade ini telah memberikan seorang Roger Federer yang mengajarkan kita bagaimana memenangkan sesuatu dengan kesempurnaan dan kelas.

Terima kasih untuk 31 Desember 2009 dan hari-hari yang telah terlewati dengan tawa dan tangis selama tahun 2000 – 2009

David Wahyu Hidayat

Kamu dan saya, kita akan hidup untuk selamanya

Posted in Pikiran Malam on Agustus 29, 2009 by David Wahyu Hidayat

album

Apa arti sebuah band bagi diri kamu? Bagi sebagian orang, band hanya merupakan sebuah hiburan belaka, pemberi nada di tengah kemacetan lalu terlupakan, bahan gosip di tengah kefanaan layar kaca, pengisi akhir pekan dengan datang ke sebuah konser tanpa mengetahui lagu yang mereka bawakan. Bagi orang – orang lainnya, sebuah band lebih dari sekedar sekumpulan orang yang dapat memainkan instrumen dan menyanyikan lagu yang mencerahkan hari. Untuk orang – orang tersebut, sebuah band adalah sebuah bagian dari hidup yang tak dapat terpisahkan. Musik mereka menginspirasikan, dan pada sebuah momen dalam kehidupan, musik dari sebuah band mengubah hidup itu sendiri, memberikan pencerahan dalam hari-hari yang kita lewati, memberikan jalan keluar terhadap tantangan yang dihadapi diri ini. Band, bagi orang – orang seperti itu adalah sesuatu yang religius.

Perjumpaan kita dengan sebuah band yang memberikan arti dalam kehidupan kita, dapat berbeda-beda bentuknya. Terkadang itu datang dalam diri seorang teman yang memberikan sebuah “mixtape” dan selanjutnya mengubah selera musik kita untuk selamanya. Dalam diri orang lain, hal itu datang dari mendengarkan “soundtrack” sebuah film, lalu penasaran akan lagu yang ia dengarkan dalam sebuah skena, untuk kemudian jatuh cinta pada band tersebut. Orang lainnya menjadi religius kepada sebuah band, ketika satu dasawarsa lalu, waktu musik televisi masih merupakan musik televisi, melihat sosok sebuah band yang sejak detik pertamanya mengetahui, bahwa inilah musik yang akan mengubah kehidupannya. Tetapi apapun bentuk perjumpaan pertama kita kepada sebuah band, masing-masing dari kita tahu, kalau band yang kita pilih tersebut telah menerbitkan sebuah harapan baru dalam hati kita.

Band semacam itu menjadi nafas lain dalam kehidupan kita. Setiap saat kita berusaha untuk hidup dengannya, musik mereka telah menjadi suatu adiksi dalam kehidupan kita. Musik mereka kita dengarkan dalam perjalanan menuju tempat aktifitas kita. Di tengah kesibukan sehari-hari, kita masih menyempatkan untuk membuat sebuah “playlist” yang berisikan lagu-lagu yang mengubah kehidupan kita itu. Dalam perjalanan waktu yang tidak bisa dilawan, kita akan mempertahankan keteguhan kita terhadap orang-orang yang mempertanyakan mengapa kita masih mendengarkan musik mereka, ketika semua orang tidak ada yang peduli lagi terhadap mereka. Jawaban semuanya itu hanya satu. Manusia bisa berubah, dan pergi. Jaman bisa berganti dan mengubah hal – hal esensial dalam kehidupan kita. Tapi sesuatu telah pasti dan tidak bisa dirubah. Sesuatu yang definitif mungkin tidak pernah akan berubah untuk selamanya, apapun yang terjadi. Sesuatu itu, adalah momen di mana kita mendengarkan musik dari band yang kita cintai, dan berkata pada diri kita sendiri “Ini adalah musik yang akan mendefinisikan hidup untuk selamanya”. Untuk orang-orang yang dapat berkata seperti itu, kamu dan saya, kita semua akan hidup untuk selamanya.

David Wahyu Hidayat

Untuk semua band yang telah memberikan arti dalam kehidupan saya.

Kota (negeri) ini adalah vampir, yang ia lakukan hanyalah menghisap segala kesenangan dari diri kita

Posted in Pikiran Malam on April 23, 2009 by David Wahyu Hidayat

Situasi pertama – Pembicaraan seorang karyawan swasta dengan atasannya yang seorang ekspatriat

Ekspatriat: Sudah tahukah kamu kalau pajak bandara udara baru saja dinaikkan?

Karyawan: Wow, Benarkah? Agak sedikit menyebalkan, karena selain semakin banyaknya restoran di pintu masuk, tidak terlihat sedikitpun perbaikan di sana. Lihat saja sarana toilet umumnya. Memalukan.

Ekspatriat: Lucu juga kamu orang Indonesia, bisa bilang toilet umum di bandara Soekarno-Hatta memalukan. Mau tahu yang menurut saya memalukan? Keadaan dan pengaturan jalan di jembatan Semanggi adalah sesuatu yang memalukan untuk ukuran kota internasional seperti Jakarta.

Situasi kedua – Jakarta di sebuah malam sehabis hujan pada jam bubaran kantor

Jl. Gatot Subroto dan Jl. Sudirman macet total. Semua bentuk kendaraan bermotor tumpah ruah di sana, berjuang mencari celah mencapai tujuannya masing – masing. Pengatur lalu lintas, tidak punya resep lagi untuk mengatur jalanan ibukota, tapi masih sempat menilang pengemudi nakal yang melanggar 3in1. Bus umum seenaknya menghalangi jalan, motor karena disingkirkan ke bagian paling pinggir jalan berusaha menemukan tempat untuk tetap berpijak, pengemudi mobil dengan emosi membunyikan klakson sekencang dan selama mungkin, berharap kalau itu bisa membuka jalan di depannya.

Situasi ketiga – Laporan di media massa tentang calon legislatif yang gagal terpilih

“Siang tadi, ditemukan seorang caleg yang tewas mengenaskan. Diduga ia menghabisi dirinya sendiri dengan cara gantung diri dikarenakan tidak dapat menanggung rasa malu, setelah mengetahui dirinya tidak terpilih sebagai anggota legislatif”, demikian laporan sebuah media massa.

Situasi keempat – Siswi sebuah sekolah menengah setara SMA di Surabaya tidak diperbolehkan mengikuti UAN karena ketahuan sedang hamil tua

“Pemerintahan kota Surabaya dan pihak sekolah pusing menghadapi hal ini. Bila siswi yang bersangkutan diijinkan mengikuti UAN, ini akan membuat dilema di sekolah, karena seakan sebuah lembaga pendidikan mengijnkan muridnya melakukan perbuatan amoral”, demikian laporan sebuah media massa

Situasi kelima – Vokalis band papan atas diberitakan telah nikah siri dengan aktris cantik yang selama ini diberitakan adalah WIL-nya

“Pekan lalu, ketika dicegat dalam acara premiere film horror terbaru, mereka tidak menyanggah kalau telah nikah siri dan disaksikan hanya oleh pihak keluarga terdekat”, berita tersebut menduduki peringkat pertama untuk gosip yang paling ingin didengar pemirsa sebuah tv swasta.

Berbagai situasi di atas adalah potret kehidupan kita sehari – hari. Sebuah kehidupan yang sudah terlalu jengah. Sudah terlalu sesak, kekurangan oksigen. Kehidupan yang tidak dapat lagi bernafas benar, dan karenanya tidak dapat lagi disebut sebagai kehidupan. Sekarat. Kita sekarat, dan tidak bisa lagi diselamatkan.

Sebagai seorang profesional muda yang lahir dan tumbuh besar di ibukota ini, ia tidak dapat memungkiri dirinya sendiri. Ia selalu cinta dengan kota ini. Ia berakar di kota ini. Tapi ketika ia sudah terlalu lelah dengan pekerjannya sehari – hari, sudah terlalu penat dengan apa yang dihadapinya dalam kehidupan profesional dari Senin sampai Jumat, yang ia inginkan adalah sedikit dari ketenangan dari kota yang membesarkannya. Sedikit kedamaian, seperti ketika ia tumbuh dewasa di tanah kota ini. Tapi apa yang ia dapatkan, kekacauan satu berpaling ke kekacauan lainnya di jalanan Jakarta. Manusia menjadi ignoran, dan di mana manusia mulai tidak peduli satu sama lain, di situ ada kekacauan.

Sudah menjadi ramalan yang dipastikan 99,9999% akan terjadi, bahkan orang paling bodoh di dunia pun bisa memprediksikan, sehabis hujan besar di Jakarta, jalanan protokol kita akan macet tidak karuan. Masih bagus kalau tidak banjir. Dan yang direpotkan adalah semua orang yang tinggal di kota ini. Terjerat kembali dalam kelelahan kedua dalam satu hari setelah pekerjaannya. Seorang teman bahkan sebegitu jauhnya sampai bisa berkata “Sepertinya gue lebih stress di perjalanan dari rumah dan dari kantor, daripada waktu menjalani kerjaan gue sehari – hari”.

Di tengah kekacauan itu, sang ibukota masih berangan – angan untuk memiliki alat transportasi massa yang lebih baik bernama kereta bawah tanah. Lebih baik tidak berangan – angan ketinggian sebelum membereskan genangan air setinggi mata kaki yang membanjiri jalanan protokol kota ini setiap kali hujan datang. Di tengah kekacauan ini, mereka yang mempunyai kendaraan pribadi terutama kendaraan roda dua disalahkan. Jumlahnya ingin dibatasi. Mereka yang mengatur seakan bingung untuk menerapkan solusi yang tepat untuk mengatasi kemacetan dan banjir. Padahal kalau mereka sedikit lebih punya keberanian untuk menertibkan setiap kendaraan umum yang selalu serampangan di jalanan ibukota, dan menebarkan asap polusi, sepertinya satu hal pasti akan terjadi. Jalanan ibukota kita akan lebih lancar, polusi lebih sedikit, dan lebih banyak masyarakat mau naik kendaraan umum dan menaruh kendaraan pribadinya dengan manis di garasi masing – masing. Bereskan kendaraan umum, beri keamanan dan kenyamanan bagi penumpang dan pengguna jalan lainnya, pasti kita akan mendapatkan jalanan Jakarta lebih baik. Ide muluk hanya akan berakhir hina tanpa hasil.

Kita dikenal sebagai bangsa yang toleran, dan mungkin terlalu toleran dalam berbagai macam sudut kehidupan. Slogan “Enjoy aja” bukan hanya menjadi pesan salah satu perusahaan rokok, tapi sudah menjadi gaya hidup kita secara tidak sadar. Kita dipaksa menyerah dengan keadaan. Seberapa sering kita mendengarkan frase “Dinikmatin aja lagi, udah macet, mau diapain”. Kenyataannya kita seharusnya malu dengan itu. Macet bukanlah sesuatu yang perlu ditoleransi. Itu, seperti kata sang ekspatriat di situasi pertama adalah sesuatu yang memalukan. Sama memalukannya dengan keadaan toilet bandara udara Soekarno – Hatta yang seharusnya berfungsi menjadi halaman depan yang tertata rapi bagi bangsa asing yang hendak mengunjungi tanah air kita tercinta ini.

Keadaan toilet bandara seharusnya terlihat seperti toilet pusat perbelanjaan paling mewah di ibukota. Bila kita bisa menghitung jumlah penumpang internasional dikalikan dengan 150.000 rupiah yang dikeluarkan untuk pajak bandara, seharusnya dan ini adalah benar-benar konsekuensi logis daripada itu, toilet bandara terlihat jauh lebih bagus dari toilet mal paling luksus negeri ini. Mungkin dengan pengelolaan lebih baik dari pihak pengoperasi bandara semua itu diharapkan masih dapat terjadi.

Kita harus mengatasi masalah mental kita. Anggapan bahwa semua itu bisa ditoleransi harus diganti dengan kemauan untuk melakukan semuanya lebih baik. Sangat-sangat menyedihkan, dan diulangi teramat sangat menyedihkan mendengar berita caleg yang gantung diri dan menjadi gila ketika mengetahui dirinya tidak terpilih. Dengan segala rasa hormat yang sebesar-besarnya kepada mereka, dan perjuangan yang mereka buat dalam kampanye kemarin, tapi sepertinya simpati bukanlah kata yang tepat untuk ditujukan kepada mereka.

Kalau tujuan mereka menjadi anggota legislatif adalah untuk mendapatkan perbaikan penghasilan tanpa harus bekerja keras, mereka telah salah besar. Setiap orang di dunia akan mendapatkan upah yang seharusnya ketika mereka telah bekerja keras dan mengemban tanggung jawab yang besar. Dan tanggung jawab apalagi terhadap bangsa dan negara membutuhkan mental dan jiwa yang besar. Bukan mental dan jiwa yang tidak tahan menghadapi cobaan lalu mencari jalan pintas dengan meninggalkan dunia ini atau mengeluarkan pikiran dari keadaan tersehatnya. Kita sebagai bangsa harus merasa beruntung mereka tidak terpilih, sebab bila tidak, bagaimana mereka akan menghadapi oposisi dan berpikir jernih selama masa jabatan 5 tahun untuk selalu memberikan yang terbaik bagi negeri ini?

Lalu, seperti belum habis kita dibuat heran dengan ketidakmampuan kita menganalisa dan menentukan masalah apa yang sebenarnya esensial bagi bangsa ini, mana yang tidak, kita dibuat tercengang, terheran, diam seribu macam bahasa waktu mendengar berita seorang siswi tidak diperbolehkan mengikuti UAN hanya karena hamil. Dilema mana yang harus ditimbulkan dari situasi ini? Tidak ada dilema. Yang ada, hanyalah satu kepastian. Siswi tersebut harus mengikuti UAN. Di abad berapakah kita hidup? Bila ini adalah kondisi di mana kita hidup, maka ini adalah kenyataan yang sangat mengerikan bagi setiap orang yang hidup di negara ini.

Tidak ada pertanyaan moral dari situasi tersebut. Setiap orang pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, dan mungkin siswi itu telah melakukan kesalahan, dan bukankah sebuah institusi pendidikan seharusnya dapat mengidentifikasi ini, dan memberikan kesempatan untuk masa depannya? Bukan dengan menghancurkannya begitu saja. Bila bukan sebuah institusi pendidikan yang memberikan masa depan, siapa lagi yang dapat memberikannya? Dengan menolak sang siswi mengikuti UAN, itu sama saja kita mendorongnya ke jurang kelam bernama masa depan suram.

Moral seringkali disalahartikan. Kita sibuk dengan perbuatan amoral generasi sekarang, lalu kita membuat undang-undang untuk mengatur tata cara orang berpakaian dan berintimasi satu sama lain. Kita menjunjung tinggi moral, tapi mengabaikan hal-hal esensial lain dalam hidup manusia seperti pendidikan. Atau kita lupa kalau ada infrastruktur yang harus dibenarkan, banjir yang harus dicegah, korupsi yang harus diberantas. Mengenai korupsi, seorang pengamat asing pernah berkata demikian mengenai korupsi di Indonesia “Korupsi tidak ada hubungannya dengan moral. Korupsi terjadi ketika kekuatan individu mengalahkan kekuatan hukum di suatu tempat”. Hukum kita tidak bisa mengawasi dan memagari warganya, sehingga korupsi terjadi. Jalan raya sering menjadi saksi akan hal ini.

Sering kita berbicara tentang moral dan sopan santun. Tentang norma dan budaya timur. Tapi ke manakah semuanya itu, ketika kehidupan pribadi seseorang yang kebetulan sukses menghibur kita dengan musik yang ia mainkan, atau peran yang ia lakoni di sebuah film diekspos tanpa batas di televisi? Yang kita lakukan adalah, kita membuat kisah hidup mereka, drama kehidupan personal seseorang menjadi bahan hiburan kita. Obat bius yang melarikan diri kita dari kepenatan kehidupan megapolitan, dari kekecewaan akan kehidupan bernegara kita. Di semua pemberitaan selebritis, kita menemukan kedamaian dan ketenangan. Sungguh, kita sudah terpuruk dan tidak dapat diselamatkan.

Tidak ada lagi yang harus dikatakan. Kita semua adalah orang yang memiliki akal sehat. Semua harus berawal dari diri kita masing – masing. Kita harus berhenti untuk terlalu toleran terhadap sesuatu yang menghalangi kita untuk menjadi bangsa yang maju. Kita harus membuang pikiran muluk, dan memulai segala sesuatu dari perbuatan sederhana. Berhenti menjadi ignoran. Menfilter diri kita sendiri dari pemberitaan yang tidak berkualitas. Tidak bisa selamanya kita dibodohi terus menerus. Moral adalah penting tetapi itu bukanlah jawaban untuk menjadi besar. Yang lebih penting adalah mengenali hal-hal esensial dalam hidup ini, lalu berjuang keras untuk mendapatkannya. Dengan nilai-nilai luhur dan ketulusan. Dan bila dalam kesempatan pertama kita tidak mendapatkannya, kita harus berjuang lagi. Bila kita masih terjatuh, kita akan bangkit lalu kembali berjuang. Terus berjuang dan terus berjuang. Tanpa henti.

David Wahyu Hidayat

Judul diambil dari “Song For Clay (Disappear Here)” sebuah lagu dari Bloc Party

Mereka yang melawan bisa kalah. Mereka yang tidak pernah melawan, sudah kalah

Posted in Pikiran Malam on April 19, 2009 by David Wahyu Hidayat

“Masa – masa yang brillian….Waktu itu masih ada televisi musik yang sesungguhnya, tidak ada nada dering, tidak ada unduhan, tidak ada pembunuhan informasi berlebihan”

Salah satu editor majalah Intro tentang tahun 90-an di Oktober 2008

Salah satu frase yang sering didengar akhir – akhir ini adalah “Mendekatkan diri kepada yang jauh, menjauhkan diri dari yang dekat”. Di waktu dan tempat di mana kita dikelilingi teknologi bernamakan aplikasi jaringan sosial, aplikasi pesan instan dan telefon selular pintar; kita menikmati akses yang sangat berlebihan terhadap band yang kita cintai, tim olahraga yang kita gilai, orang – orang terdekat kita, orang – orang yang kita rasakan pingin kita dekati, bahkan orang – orang asing yang tidak pernah kita kenal. Di satu sisi, akses tanpa batas itu membuat kita menjadi lebih pintar terhadap banyak hal, di sisi lain hal itu adalah keyataan baru yang mengerikan dan terkadang memuakkan.

Tidak ada lagi kemagisan sebuah band, di mana kita akan selalu ternganga, ketika suatu band menghasilkan sebuah suara luar angkasa yang belum pernah kita dengar sebelumnya. Karena semuanya itu dapat kita lihat di video yang bertebaran di dunia maya. Tidak ada lagi misteri yang ingin dikuak di belakang sebuah suara, karena semuanya telah terungkap di kehidupan modern ini. Tidak ada lagi rasa penasaran kita terhadap wujud seseorang dan hal – hal yang membuat orang ini menarik, karena dengan hanya sebatas beberapa klik di aplikasi jaringan sosial (hampir) semua hal tentang orang itu telah kita ketahui. Tidak ada lagi rasa keingintahuan kita terhadap seorang sahabat yang terpisah ribuan kilometer di belahan benua lain tentang apa yang mereka sedang lakukan, karena setiap 30 menit kita mendapat status terbaru tentang apa yang sedang mereka lakukan di telefon selular pintar kita.

Sebagai orang yang hidup dengan kenikmatan yang ditawarkan abad 21, kita mengalami kemudahan akses ke hampir semua hal tanpa terkecuali. Sebuah keluksusan yang tidak dialami generasi sebelumnya. Beberapa orang bahkan sudah demikian jauhnya menikmati keluksusan tersebut sehingga kehilangan dasar – dasar interaksi manusia secara konvensional. Seberapa sering kita saat ini menemukan gambar, 4 orang duduk dalam satu meja, sibuk menatap layar berukuran 480 x 320 piksel, mengetik sesuatu di papan huruf yang sangat menggelikan jauh lebih kecil dari ukuran jempol tangan manusia paling normal, berinteraksi tentang sesuatu, entah apa yang dibicarakan. Hanya saja interaksi tersebut tidak terlihat di meja mereka duduk untuk menikmati kopi yang tersedia di meja. Padahal sepertinya mereka terlihat seperti orang – orang paling dekat yang ada di planet bumi ini.

Sekarang kita melakukan reaksi sosial terhadap foto yang ada di aplikasi jaringan sosial kita, terhadap foto yang diambil sewaktu kita berkumpul tapi tidak berinteraksi sama lain. Terhadap lagu terbaik, makanan favorit, dan film terbagus yang pernah kita tonton yang dipaparkan di aplikasi tersebut, tapi mungkin tidak pernah kita utarakan ketika kita bertemu satu sama lain.

Gambaran itu pasti terjadi pada diri ini, diri kamu, diri teman kamu, pacar, suami, istri, keluarga, dan setiap orang yang bisa memiliki kenikmatan teknologi tersebut. Kita terjerat, tidak bisa terlepas darinya. Mencandu, dan ketika kita tidak mendapatkan akses tersebut, kita seperti orang kelimpungan, seperti pemadat yang akan menjual jiwanya untuk mendapatkan suntikan berikutnya.

Manusia berjuang untuk memperbaiki dirinya. Ia melakukan semua yang dianggapnya baik untuk memenuhi keinginan dasarnya dan menjadi manusia paling bahagia di dunia ini, dan mungkin keberadaan semua teknologi itu untuk beberapa orang telah menjadi bagian dari kualitas hidup yang tidak bisa dipisahkan di waktu sekarang ini.

Di sisi lain teknologi, dalam kehidupan kita di tanah air tercinta ini. Kita barus saja melaksanakan pemilu legislatif. Sebuah pesta rakyat, seharusnya. Di mana kita dapat bebas menentukan pilihan tanpa rasa takut. Tapi sepertinya, atau mungkin lebih baik dituliskan ironisnya, bagi seseorang yang menikmati segala macam akses teknologi tadi, mereka yang sudah meninggalkan televisi sebagai pusat informasi, hampir tidak ada saluran yang mendekati proporsional yang bisa diakses menjelang pemilu kemarin untuk menentukan pilihannya. Aneh. Kita mengagung-agungkan teknologi sambil berlaku kontradiktif terhadapnya.

Selanjutnya, kita sebagai bangsa gagal untuk meyakini apa yang bisa membuat kehidupan bangsa ini kembali menjadi besar. Kita sekali lagi, kembali gagal untuk bisa menggunakan bahasa kita di tempat dan waktu yang benar. Di pemilu kemarin, kita dihimbau untuk “mencontreng” sebuah kata kerja yang seharusnya asing di telinga kita sebagai orang Indonesia. Apakah sebenarnya “mencontreng”? Jika kita gagal menggunakan bahasa yang benar untuk kepentingan interaksi kita, mau ke manakah kita akan menuju?

Bahasa asing sekali lagi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sehari – hari. Kita gunakan itu untuk kehidupan profesional kita, untuk interaksi dengan mereka yang bukan dari negara ini. Tapi ketika sebuah harian nasional berbahasa Indonesia, dengan target pasar 200 juta orang yang tinggal di negeri ini, menggunakan bahasa Inggris untuk mempromosikan korannya, di manakah letak kesalahan semua ini? Ketika beberapa perusahaan gencar mensponsori lomba pencarian talen, entah itu untuk seorang artis, entah itu sebuah band, dengan mengatasnamakan pasar, mengharuskan artis-artisnya menggunakan bahasa Indonesia di lirik lagu yang mereka nyanyikan, tapi menggunakan nama produk berbahasa Inggris dan semboyan berbahasa Inggris yang ketika diterjemahkan berbunyi kira kira: “Kebebasan Berekspresi”. Di manakah letak kesalahan semuanya ini? Kita berbahasa asing untuk dianggap lebih mantap didengar, untuk menempatkan diri lebih baik di pasar. Tidakkah bahasa kita sendiri lebih baik untuk didengar dan disampaikan? Bila sebuah band menyanyikan lirik berbahasa asing, sepertinya itu dikarenakan mereka lebih nyaman untuk berekspresi dalam bahasa tersebut, dan itu tidak ada hubungannya dengan rasa nasionalis seseorang, atau peduli tidaknya seseorang terhadap pasar. Di manakah kebebasan ekspresi yang diagungkan ketika kreatifitas seseorang dibatasi.

Kita terpentok dengan segala keterbatasan ruang lingkup kita sehari – hari. Di kota megapolitan ini, kita menjumpai manusia – manusia paling ignoran di dunia dalam bentuk bus umum yang bisa berhenti semaunya tanpa pernah ditilang. Mereka yang punya hak untuk menilang, hanya tertarik terhadap mobil – mobil yang berkeliaran di jalan – jalan protokol, yang tanpa sengaja tidak pernah punya kesempatan untuk melihat rambu lalu lintas, karena terhalangi pohon rimbun yang tidak pernah dirapikan. Bahkan pengendara motor yang diisi keluarga berkepala lima, 3 di antaranya manusia di bawah umur tanpa menggunakan alat pengaman untuk berada dalam sebuah kendaraan beroda dua, tidak pernah ditegur, kalau itu akan membahayakan keselamatan mereka. Di jalan – jalan Jakarta, kita hanya belajar untuk menjadi manusia paling ignoran di dunia.

Lalu, apakah yang dapat kita lakukan untuk semuanya itu? Tokh tidak ada yang tahu. Kita terjerat dalam kehidupan modern, kita telah memilih partai/caleg/gubernur yang kita harapkan dapat membuat kehidupan kita lebih baik, tapi kita mendapati kenyataan kalau mereka yang kita pilih akan berkoalisi dengan mereka yang masuk dalam daftar nomor satu “Tidak akan kita pilih”, atau membuat kota ini menjadikan diri kita orang – orang ignoran.

Setelah semua ini, haruskah kita menyerah terhadap semuanya? Karena segala bentuk perlawanan nantinya juga akan menuju kepada kepasrahan kita terhadap sistem yang mengelilingi kita. Atau haruskah kita tenggelam dalam sebuah nostalgia, yang mengatakan “Entah mengapa, segala sesuatu terlihat lebih indah di masa lalu”?

Jawaban sebenarnya ada di diri kita masing – masing. Mau bagaimanapun teknologi dan sistem membentuk kehidupan sekitar kita, sedikit banyak, kita sendiri yang masih punya kontrol terhadap kehidupan kita sendiri. Lebih baik menentukan pilihan daripada diam dan memutihkan diri. Lebih baik memulai sesuatu, dan berusaha selalu berbahasa dengan baik dan benar daripada tenggelam dalam kehilangan identitas secara massal. Karena seperti sebuah pepatah mengatakan “Mereka yang melawan bisa kalah. Mereka yang tidak pernah melawan, sudah kalah”. Pertanyaannya, maukah kita melawan?

David Wahyu Hidayat

Selamat pagi, Presiden Chang!

Posted in Pikiran Malam on Desember 14, 2008 by David Wahyu Hidayat

Sebulan lebih sudah, sejak Amerika Serikat memilih presiden kulit hitam pertamanya. Dan kita warga dunia, ikut merasakan ekstase terhadap terpilihnya Barack Obama. Pria kurus yang dicap tidak punya kemampuan untuk bertempur karena pembawaannya yang terlalu sopan dan tidak cepat marah itu, telah menginspirasikan Amerika Serikat untuk sebuah perubahan yang dapat dipercayai. Sebuah perubahan yang mengembalikan kepercayaan diri, kalau kita semua dapat merubah tatanan lama ke dalam sesuatu yang kembali memberikan harapan, termasuk menyelamatkan dunia dari krisis finansial global yang kita hadapi saat ini. Singkatnya, ia telah memberikan rakyat Amerika Serikat sebuah inspirasi.

Kita sebagai warga Indonesia, langsung atau tidak langsung ikut merasakan euforia itu. Satu euforia yang mungkin disebabkan oleh fakta bahwa Obama menghabiskan masa kecilnya di jalan – jalan ibukota negeri ini. Satu euforia yang membuat beberapa orang menuliskan di salah satu jejaringan sosial dunia maya, sebuah himbauan kepada rakyat AS untuk memilih pada tanggal 4 November silam. “To the citizens of US: Vote Today!”. Begitu kira-kira salah satu pesan yang saya baca di sana waktu itu.

Mengapa mereka peduli? Apakah Obama begitu menginspirasikan mereka? Apakah euforia yang sama akan kita miliki di bulan April dan Juli 2009 nanti, ketika kita menghadapi pemilu legislatif dan eksekutif negara tercinta ini? Atau kita hanya menjadi seorang apatis, yang berkomentar “Ah, buat apa milih, tokh ga ada perubahan yang terjadi”, lalu sepanjang 5 tahun berikutnya berkomentar betapa buruknya para pemimpin mengelola negeri ini?

Kita memperjuangkan reformasi 10 tahun yang lalu. Reformasi yang berhasil menggulingkan sebuah kekuasaan telah mengekang kebebasan kita dalam porsinya masing-masing. Lalu ketika 5 tahun yang lalu, kita melakukan pemilu, 6 tahun setelah reformasi itu diproklamirkan, kita membiarkan partai yang sama yang memerintah sepanjang 32 tahun Orde Baru, meraih suara terbanyak. Tidak adakah yang melihat ada sesuatu yang salah dengan ini?

Memang tidak bisa dipungkiri, seperti yang sudah dibahas oleh beberapa media massa akhir-akhir ini, kalau kita sedang krisis pemimpin. Seorang pemimpin dan tokoh yang mampu menyatukan negara ini tanpa melihat atau mewakili satu golongan tertentu. Pemimpin yang menginspirasikan kita, untuk menjadi bangsa yang besar kembali. Begitu banyak potensi yang kita miliki, dan adalah sebuah keanehan bila kita tidak dapat memberikan andil lebih banyak lagi kepada dunia internasional.

Kevakuman akan sosok pemimpin itu, menjadikan beberapa orang menjadi apatis untuk memilih, namun bersikap apatis bukanlah jawaban yang diperlukan bangsa ini. Dengan apatis berarti kita menghianati reformasi yang diproklamirkan 10 tahun yang lalu. Memang kita tidak akan secara instan merasakan euforia seperti rakyat Amerika Serikat mendapati seorang Obama, masih jauh jalan menuju ke sana. Tapi dengan suara yang kita berikan, kita peduli kepada negara ini. Kita menentukan apa yang akan diberikan negara ini kepada kita. Tidak ada yang lain yang bisa kita buat selain peduli terhadap tanah air kita cintai ini. Tidak ada gunanya kita berslogan nasionalis setinggi-tingginya, bila untuk memilih pun kita tidak punya kepedulian.

Di satu sisi, pernahkah kita berpikir, bila kita mempunyai seorang tokoh seperti Obama, apakah kita siap dengan hal itu? Di negara, di mana perbedaan suku, agama, ras sepertinya masih merupakan sesuatu yang mendasar dalam menjadikan hal-hal tersebut sebagai salah satu acuan untuk menilai seseorang. Obama adalah seorang kulit hitam keturunan Kenya. Nama lengkapnya adalah Barack Hussein Obama II, sebuah nama yang sama sekali tidak mengindikasikan bahwa ia adalah seorang warga Amerika Serikat, bila hanya dilihat dari sisi tersebut. Namun Amerika Serikat memilihnya menjadi presiden mereka ke 44.

Bila di tahun 2xxx, ada seorang tokoh yang mampu mempersatukan kita sebagai bangsa Indonesia, tanpa peduli dengan perbedaan ideologi, suku, agama, dan ras, yang ia pedulikan hanyalah menjadikan bangsa ini besar kembali, menjadikan Indonesia menjadi sebuah negara yang agung dan dipandang di dunia internasional, yang mengembalikan nilai-nilai esensial di kepemerintahannya dan peduli teradap nasib semua orang di tanah air ini, tanpa terkecuali, apakah kita siap menerimanya? Katakanlah dia seorang keturunan Tionghua, dengan nama Chang Chong-Chen, apakah kita mau memilihnya dan menerimanya sebagai presiden kita?

Ketika setiap saat bila ada sebuah pernikahan, pertanyaan pertama yang dilontarkan adalah dari suku manakah dia berasal, beragama apakah dia? Ketika keragaman yang dimiliki bangsa kita, pelan-pelan hendak dibunuh dengan undang-undang yang mengatasnamakan penjaga moral bangsa. Ketika kita tidak siap dengan keberadaan orang-orang homoseksual di komunitas kita, ketika HAM tidak dihargai, ketika pendidikan tidak dipedulikan, ketika kekacauan infrastruktur yang menyebabkan banjir disalahartikan sebagai bencana alam, ketika korban industri pengeboran gas yang menyebabkan luapan lumpur menenggelamkan hunian orang banyak dan mereka dibiarkan terluntang-lantung nasibnya. Ketika itu semua terjadi, dan ada seseorang yang dapat muncul menjadi seorang mesias bagi bangsa ini, namun bernama salah dan bergaris keturunan yang tidak populer, masihkah kita dapat berpaling darinya oleh karena batasan tersebut? Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah slogan bangsa yang mulia, dan pelan-pelan kita harus menanyakan kepada diri kita sendiri apakah kita benar-benar percaya padanya.

Di tahun 2xxx itu, di Lapangan Banteng, Chang Chong-Chen dengan tenang namun berapi-api menyampaikan pidato sambutan di depan anak bangsa ini setelah terpilih menjadi presiden Indonesia yang kesekian. Tua muda, laki-laki, wanita, tak peduli golongan, suku, agama, orientasi seksual, pandangan ideologi, berkumpul di sana untuk melihatnya. Tak sedikit orang yang menuturkan air matanya. Akhirnya bangsa ini mempunyai lagi sebuah tokoh yang patut dipercayai. Yang menunjukkan keberanian untuk memimpin, dan yang terpenting yang menyatukan bangsa ini untuk menjadi yang lebih baik. Pidatonya malam itu menginspirasikan semua orang yang mendengarnya langsung, maupun di layar kaca. Itu untuk pertama kalinya kita boleh percaya, kalau kita dapat melakukan sesuatu sebagai bangsa, dan harapan akan sebuah keadaan yang lebih baik kembali boleh kita kibarkan di hati masing-masing.

Masih perlu beberapa waktu sampai kita dapat mengucapkan “Selamat pagi, Presiden Chang!”. Sampai semuanya ini terjadi, masih banyak kerja keras yang harus kita lakukan sebagai bangsa. Mungkin kita tidak akan memiliki euforia yang sama dengan rakyat Amerika Serikat ketika pemilu 2009 datang, tapi itu tidak boleh menjadikan kita sebagai seorang yang apatis. Pemilu 2009 adalah pemilihan yang menentukan bagi bangsa ini, bukan pemilu Amerika Serikat 2008. Kalau kita sebegitu antusiasnya menganjurkan rakyat AS untuk memilih di bulan November kemarin, paling tidak kita melakukan hal yang sama untuk teman-teman kita setanah air. Dan tidak lupa untuk mencoblos pada pemilu 2009. Bila kita peduli untuk memilih di tahun 2009, itu adalah langkah pertama kita untuk kembali percaya kepada bangsa ini. Untuk menjadikan bangsa ini besar kembali.

David Wahyu Hidayat