Arsip untuk ThisIsMyEscape

Kegilaan virtual dan hal-hal yang dirindukan karenanya

Posted in Pikiran Malam with tags , , , , , , , on Juni 24, 2016 by David Wahyu Hidayat

IMAG3454_1_1

Kegilaan virtual dan hal-hal yang dirindukan karenanya

 

“And nothing’s going to change the way we live/Cos’ we can always take but never give/And now that things are changing for the worse, see, it’s a crazy world we’re living in….Futures made of virtual insanity now…For useless, twisting, our new technology…” Virtual Insanity – Jamiroquai (1996)

 

Sore ini di tengah cuaca Jakarta yang lebih mirip bulan Desember dibandingkan bulan Juni, dan diperparah dengan suhu di kantor yang membuat manusia di dalamnya tidak betah menatap layar komputer yang seharusnya menjadi bagian dari pekerjaannya, pikiran saya melayang untuk sesaat. Tiba-tiba saya punya urgensi yang sangat untuk pergi ke toko rekaman musik, menelusuri raknya satu-persatu tanpa memiliki satu ide satupun, musik apa yang akan saya beli, sampai akhirnya menemukan sebuah permata dalam CD sebuah band yang sudah lama saya cari. Saya rindu akan masa-masa itu, sampai kemudian terhenyak bahwa saya tidak akan dapat mengulangnya kembali, setidaknya kecil kemungkinannya di Jakarta, karena toko CD sudah seperti sebuah dinosaurus yang hampir lenyap dari peredaran masa ini.

 

Entah apa yang Jay Kay aka Jamiroquai pikirkan waktu menulis Virtual Insanity dari album hitsnya Travelling Without Moving, 2 dekade silam. Karena judul lagu dan album itu menjadi kenyataan pada saat ini. Kita hidup dalam kegilaan virtual di mana hal-hal yang 5 tahun lalu masih terlihat lumrah, saat ini sudah menjadi barang usang yang terancam eksistensinya.

 

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah artikel di The Guardian (https://www.theguardian.com/business/2016/jun/04/sweden-cashless-society-cards-phone-apps-leading-europe), bahwa Swedia sudah sedikit lagi menjadi masyarakat di mana semua jenis pembayaran dilakukan tanpa uang kertas, dalam arti semua dilakukan secara elektronik mulai dari transaksi bank, mini market, bahkan di gereja sekalipun. Menurut artikel tersebut pembayaran tunai hanya merangkum kurang dari 2% dari seluruh pembayaran yang dilakukan di Swedia tahun lalu, dan angka tersebut akan menjadi 0.5% pada 2020.  Saya tidak bisa meramalkan kapan hal yang terjadi di Swedia dapat terjadi di Indonesia, tetapi jika melihat kenyamanan kita menggunakan segala sesuatu berbau digital (Moda transportasi berbasis aplikasi contohnya) rasanya hal itu tidak akan lama lagi.

 

Kembali ke khayalan tengah sore saya tadi. Begitu juga dengan menemukan dan menikmati musik. Pra-Internet, band adalah sekumpulan manusia setengah dewa yang sangat mistis keberadaannya. Kita tidak bisa mengira seperti apa kehidupannya, bagaimana mereka dapat menciptakan musik seperti itu. Walaupun saya belum lahir pada saat itu, sampai sekarang kita tidak pernah tahu bagaimana The Beatles dapat menciptakan Tomorrow Never Knows di tahun 1966. Musik di lagu itu bisa saja diciptakan tahun 2020. Band sekarang membuka semua rahasia mereka melalui media sosial dan sarana lainnya melalui Inernet. Sebelum Coldplay menginjakkan kakinya di pertunjukkan paruh waktu Superbowl tahun ini, kita sudah dapat melihat persiapan mereka di Youtube. Di satu sisi kita bergairah melihatnya, di satu sisi itu menghilangkan kemagisannya.

 

Begitu juga dengan majalah musik. Semenjak SMA sampai mahasiswa, majalah musik adalah satu-satunya sumber kebenaran mengenai band dan musik yang kita gilai. Kita mengkonsumsi semua kebenaran darinya seperti kita mencari kebenaran dalam kitab suci kita masing-masing. Sekarang majalah musik, bahkan yang ternama seperti NME sekalipun mengemas beritanya seperti tabloid: instan dan terkini, terkadang hanya selentingan seperti kicauan di twitter. Seakan mereka takut akan kalah dalam perlombaan pemberitaan musik dari sosial media yang memang selalu selangkah lebih maju.

 

Di majalah musik juga, sebuah album dibedah dalam bentuk ulasan. Kita digairahkan dengan segala deskripsi di dalamnya, berimajinasi akan musik yang majestik ataupun menyetujui akan sampahnya suatu musik. Jika kita setuju dengan ulasan positif di dalamnya, kita mengangkat pantat kita dari tempat tidur, pergi ke toko rekaman musik dan membeli musiknya, lalu berdansa penuh kemenangan dalam kamar yang gelap diiringi musik yang baru saja kita beli. Lalu apakah ulasan musik masih relevan di era musik streaming ini?

 

Saya pernah setengah bercanda dengan salah satu teman SMA saya baru-baru ini melalui sebuah pesan singkat, aplikasi musik streaming itu layaknya kita pergi ke sebuah acara food tasting di arena seluas GBK, di mana kita dapat mencicipi semua jenis makanan, tanpa batas waktu. Kita tidak peduli lagi makanan mana yang memang akan kita cicipi, makanan mana yang memang kita sukai dan makanan mana yang menjadi favorit kita. Kita mencobai keseluruhan makanan yang ada di sana, karena semuanya memang tersedia di hadapan kita. Dan keesokan harinya, kita dapat mengulanginya, dan esok harinya lagi, sampai dunia kiamat. Tidak ada lagi filter bernamakan selera, dan untuk itu keberadaan ulasan musik berkualitas menjadi irelevan.

 

Ah, tapi mungkin saya tidak perlu menghadapi semua ini se-skeptis itu. Saya ingat benar, saya dulu sangat anti dengan yang namanya iTunes, tapi akhirnya saya sangat menikmati membeli musik di sana (walaupun masih sangat kangen beli musik fisik di toko musik, bahkan sangat rindu like a dessert miss the rain kalau bahasanya Everything But The Girl). Sekarang pun atas nama penasaran, saya punya Spotify di ponsel pintar saya, walalupun hampir tidak pernah saya sentuh.

 

Yang jelas semua kegilaan virtual ini memberikan kita akses hampir tidak terbatas kepada banyak hal. Musik yang tidak terbatas, pilihan film yang tidak terbatas, pilihan pesan antar makanan yang tidak terbatas, dan entah apalagi yang akan dan sedang dipikirkan orang-orang jenius planet ini. Terserah bagaimana kita mau menyikapinya, apakah memeluknya dengan hangat atau menolaknya tapi kemudian menjadikan kita manusia yang obsolet keberadaannya. Modern Life Is Rubbish kalau kata Blur, tetapi satu hal yang pasti kita tidak bisa melarikan diri darinya.

 

David Wahyu Hidayat

 

Playlist saya waktu berkhayal sore tadi, dan menulis blog ini (Kemungkinan besar kalian butuh aplikasi streaming musik jika ingin mendengarnya juga :p ) :

 

  1. Virtual Insanity – Jamiroquai
  2. A Design For Life – Manic Street Preachers
  3. A Life Less Ordinary – Ash
  4. Pick A Part That’s New – Stereophonics
  5. Getting Better – Shed Seven
  6. Cum On Feel The Noize – Oasis
  7. Moving – Supergrass
  8. Alma Matters – Morrissey
  9. Picnic By The Motorway – Suede
  10. Best Days – Blur

 

 

 

Iklan